MENGHITUNG-HITUNG KEBURUKAN SENDIRI LEBIH BAIK DARIPADA MENGHITUNG-HITUNG KEBAIKANNYA
Pertanyaan:
Ada muhsinin mengungkapkan kekecewaan terhadap orang yang sudah dibantunya, diungkit satu persatu bantuan-bantuan yang telah diberikannya. Yang menjadi pertanyaan: Apa dibetulkan perbuatan tersebut Ustadz?.
Jawaban:
Itulah kelemahan kita manusia, Nas’alullahal ‘Afiyah. Semoga kita bisa menyadari bahwa orang yang benar-benar suka berbuat kebaikan akan selalu merasa tidak ada apa-apanya kebaikan yang telah dia lakukan bila dibandingkan dengan kebaikan-kebaikan para Salaf, bahkan seseorang akan selalu merasa takut kalau kebaikan-kebaikan yang telah dia lakukan itu tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena sungguh dia selalu teringat dengan perkataan Allah ‘Azza wa Jalla:
وَٱلَّذِینَ یُؤۡتُونَ مَاۤ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ أَنَّهُمۡ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ رَ ٰجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dalam keadaan hati mereka itu wajilah, (karena mereka tahu) bahwa mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” [Surat Al-Mu’minun: 60].
Perkataan-Nya:
وَجِلَةٌ أي خَائِفَةٌ مِنْ عَدَمِ القَبُولِ
“Wajilah yaitu rasa takut dari tidak diterimanya (segala amal ibadah).”
Maka dari itu, betapa tertipunya orang yang suka menghitung-hitung kebaikannya, justru lebih baik baginya untuk menghitung-hitung kejelekannya, berkata Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu:
فعُدُّوا سيئاتِكم فأنا ضامنٌ أن لا يضيعَ من حسناتكم شيءٌ
“Hitung-hitunglah keburukan kalian, maka aku menjamin bahwa tidak akan disia-siakan dari kebaikan-kebaikan kalian sedikit pun.”
[Abu Ahmad Al-Khidhir ‘Afallahu ‘Anhu pada tanggal 8 Syawwal 1447 / 28 Maret 2026 di Bogor].
⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/2019
⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/13840