MESTI AKAN DIBENCI DAN DIMUSUHI

Pertanyaan:
Bagaimana Ustadz kiat-kiat supaya da’i tidak dibenci dan dimusuhi oleh mad’u?.

Jawaban:
Kalau seseorang ingin aman-aman saja dan supaya tidak dimusuhi dan tidak dibenci maka jangan melakukan pemurnian iman, jangan pula merealisasikan Tauhid, tapi cukupkan saja dengan melakukan amalan-amalan yang biasa masyarakat melakukannya, seperti shalat, puasa, zakat dan haji umrah. Dahulu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebelum diutus sebagai rasul, beliau hanya beramal sesuai amalan-amalan yang beliau dapatkan turun temurun dari Ibrahim wa Alihi ‘Alaihimush Shalatu was Salam, beliau shalat, puasa, infak dan sedekah, thawaf, jujur dan berakhlak mulia. Di saat itu tidak ada yang benci, apalagi sampai memusuhi beliau tidak ada sama sekali dari masyarakat Quraisy memusuhinya. Namun apa yang terjadi di saat beliau menyeru kepada pemurnian iman, menyeru kepada perealisasian Tauhid?! Kebencian dan permusuhan pun tertuju kepadanya, padahal beliau baru hanya menyerukan:

أيُّها النَّاسُ قولوا لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ تُفلِحوا

“Wahai manusia, ucapkan oleh kalian La Ilaha Illallah (tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah) maka kalian akan beruntung.”
Kaumnya dari bangsa Quraisy tahu makna dan kandungan dari kalimat ini, kalau mengucapkannya maka harus jujur merealisasikannya dengan perbuatan, bentuknya adalah memurnikan iman dan mengkufuri thaghut, membenci agama atau ajaran nenek moyang dan berlepas diri dari segala apa yang disembah selain Allah. Dengan pengetahuan mereka inilah yang membuat mereka marah, sehingga kebencian dan permusuhan kepada beliau pun dikobarkan, sampai orang yang pertama-tama membenci dan memusuhi adalah paman beliau sendiri Abu Lahab ‘Abdul ‘Uzza, dia yang mengejar dan melempari beliau dengan batu sambil menyeru:

يا أيُّها الناسُ، لا تُطيعوه، فإنَّه كَذَّابٌ

“Wahai manusia, jangan kalian menaatinya, karena sungguh dia adalah paling sering berdusta.”
Dua seruan yang berlawanan:
Pertama: Seruan dari Abu Lahab ‘Abdul ‘Uzza, siapa yang memenuhi seruannya maka dia akan aman, dia tidak akan dibenci dan tidak akan dimusuhi oleh kaum Quraisy.
Kedua: Seruan dari Abul Qasim Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, siapa yang memenuhi seruannya maka dia akan dibenci dan dimusuhi oleh kaum Quraisy sebagaimana diri beliau sendiri telah dibenci dan dimusuhi. Ini sudah menjadi suatu kemestian baginya dan bagi yang mengikutinya, sesuai dengan yang diberitahukan oleh Waraqah bin Naufal Radhiyallahu ‘Anhu kepada beliau di saat beliau baru diangkat sebagai nabi:

لم يَأتِ رَجُلٌ قَطُّ بمِثلِ ما جِئتَ به إلَّا عوديَ

“Tidak pernah datang seorang pun dengan semisal apa yang kamu datangkan melainkan dimusuhi.”
Tatkala perkara dan urusannya sangat jelas seperti ini maka masihkan ada yang ingin memilih amannya saja, padahal sifatnya hanya sesaat. Sementara keamanan yang hakiki telah dijanjikan oleh Rabbus Samawati wal Ardhi bahwa memperolehnya itu hanya dengan pemurnian iman:

ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ

“Yaitu orang-orang yang telah beriman dan mereka tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kesyirikan, bagi mereka itulah keamanan dan mereka adalah orang-orang yang memperoleh petunjuk.” [Surat Al-An’am: 82].

[Abu Ahmad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu pada hari Senin 17 Syawwal 1447 / 6 April 2026 di Bogor].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/13890
⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/2063