KEUTAMAAN UCAPAN AMANTU BILLAH

Pertanyaan:
Ahsanallah ilaikum Ustadz, amalan apa yang bisa dilakukan agar istiqamah hingga wafat, agar terjaga dari fitnah kekufuran, kesesatan, penyimpangan, fitnah syubhat, dan fitnah syahwat?.

Jawaban:
Amalan yang hendak dilakukan adalah mengucapkan:

آمَنْتُ بِاللَّهِ

“Aku beriman kepada Allah.”
Kemudian istiqamah di atasnya, yakni merealisasikan apa yang terkandung dari ucapan tersebut, karena sungguh ucapan tersebut adalah satu bagian dengan al-kufru bith-thaghut (mengkufuri thaghut). Demikianlah yang diperintahkan oleh Nabiurrahmah ‘Alaihish Shalatu was Salam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad di dalam “Musnad”nya dan Muslim di dalam “Shahih”nya, dari Sufyan bin ‘Abdillah Ats-Tsaqafi, beliau pernah bertanya kepada Nabiurrahmah ‘Alaihish Shalatu was Salam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِى فِى الإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ أو غَيْرَكَ

“Wahai Rasulullah, berilah bimbingan kepadaku tentang suatu ucapan di dalam Islam yang aku tidak akan bertanya tentangnya kepada seorang pun setelahmu atau selainmu.” Beliau menjawab:

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِم

“Ucapkanlah: “Aku beriman kepada Allah“, kemudian istiqamahlah (dalam merealisasikannya)”
Dahulu sebagian Salaf Shalih hanya mengucapkan:

آمَنَّا بِاللَّهِ

“Kami beriman kepada Allah.” Maka membuat thaghut marah lalu menghukum mati mereka, karena dia tahu ucapan itu mengandung makna pengkufuran kepadanya. Pada kisah ghulam yang Muwahhid, di saat orang-orang menyaksikan karamahnya, mereka serentak beriman dengan mengucapkan:

آمَنَّا برَبِّ الغُلامِ، آمَنَّا برَبِّ الغُلامِ، آمَنَّا برَبِّ الغُلامِ

“Kami beriman kepada Rabb ghulam, kami beriman kepada Rabb ghulam, kami beriman kepada Rabb ghulam.”
Mereka buktikan keistiqamahan mereka di atas ucapan tersebut dengan merealisasikan konsekuensinya berupa pengkufuran terhadap thaghut hingga thaghut memberi ancaman kepada mereka dengan mengatakan kepada bala tentaranya:

مَن لَم يَرجِعْ عن دينِه فأحموه فيها

“Siapa yang tidak kembali dari agamanya (yakni masih istiqamah di atas ucapan keimanannya) maka lemparkanlah dia ke dalam parit berapi itu.”
Sungguh luar biasa mereka, dengan sebab ucapan keimanan dan keistiqamahan di atasnya maka mereka ikut mendapatkan karamah dan mati syahid, mereka terselamatkan dari kekufuran, kesesatan, penyimpangan dan berbagai fitnah. Masya Allah sampai bayi di antara mereka ditampakkan karamahnya dengan diberi kemampuan berbicara dan menjadi penguat terhadap ibu tercintanya:

يا أُمَّه، اصبِري؛ فإنَّكِ على الحَقِّ

“Wahai ibu, bersabarlah, karena sungguh engkau di atas kebenaran.”
Demikian pula pada kisah para tukang sihir Fir’aun, mereka hanya mengucapkan keimanan mereka kepada Allah:

قَالُوۤا۟ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ ٠ رَبِّ مُوسَىٰ وَهَـٰرُونَ

“Mereka mengucapkan: Kami beriman kepada Rabb semesta alam, Rabb Musa dan Harun.” [Surat Al-A’raf: 121-122]. Ucapan mereka membuat Fir’aun marah hingga menjatuhkan hukuman mati kepada mereka, dia katakan:

لَأُقَطِّعَنَّ أَیۡدِیَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَـٰفࣲ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمۡ أَجۡمَعِینَ

“Sungguh benar-benar aku akan memotong tangan dan kaki kalian secara bersilang kemudian aku salib kalian semua.” [Surat Al-A’raf: 124].
Ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa ucapan tersebut jika diamalkan dan direalisasikan konsekuensinya berupa mengkufuri thaghut maka Insya Allah akan terjaga dari fitnah kekufuran, kesesatan, penyimpangan, fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Bukankah Salaf Salih kita tersebut telah membuktikan?!. Di antara mereka adalah para tukang sihir Fir’aun itu, setelah mengucapkan keimanan, mereka pun istiqamah di atasnya, mereka tidak memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk beribadah sebagaimana Musa dan Harun ‘Alaihimash Shalatu was Salam, tapi mereka masih sempat sujud kepada Allah, yang itu merupakan sujud pertama dan terakhir mereka.
Dengan sebab keistiqamahan mereka di atas ucapan itu, Allah pun mengampuni mereka, berkata sebagian Hukama’:

إن سحرة فرعون كانوا كفروا خمسين سنة فغفر لهم بإقرار واحد وبسجدة

“Sungguh para penyihir Fir’aun keberadaan mereka itu kafir selama lima puluh tahun lalu diberi ampunan kepada mereka dengan sebab sekali berikrar (mengucapkan keimanan kepada Allah) dan sekali sujud (kepada Allah).”
Keadaan mereka seperti yang dikatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱلَّذِینَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَـٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَیۡهِمُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحۡزَنُوا۟ وَأَبۡشِرُوا۟ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِی كُنتُمۡ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allah”, kemudian mereka istiqamah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kalian khawatir dan janganlah merasa sedih dan berilah kabar gembira kepada mereka dengan Surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian”. [Surat Fushilat: 30].
Berkata Ath-Thabari di dalam “Tafsir”nya tentang perkataan-Nya;

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allah”, yaitu:

وحده لا شريك له، وبرئوا من الآلهة والأنداد

“Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, mereka bara’ (berlepas diri) dari berbagai sesembahan dan berbagai tandingan.”
Dan beliau katakan dalam menafsirkan perkataan-Nya:

ثُمَّ اسْتَقَامُوا

“Kemudian mereka istiqamah (meneguhkan pendirian mereka)”, yaitu:

على توحيد الله، ولم يخلطوا توحيد الله بشرك غيره به

“Di atas mentauhidkan Allah, mereka tidak mencampuradukkan dalam mentauhidkan Allah dengan berbuat syirik kepada selain-Nya.”

[Abu Ahmad Al-Khidhir ‘Afallahu ‘Anhu pada hari Rabu (19 Syawwal 1447 / 8 April 2023) di Bigri Pekalongan].

⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/2073
⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir/13902