KEUTAMAAN BELAJAR DAN BERAMAL
Pertanyaan:
Apa hukumnya Ustadz mempekerjakan santri-santri, seperti bikin bangunan asrama dan masjid pesantren?. Dan kalau boleh tahu, bagaimana dulu proses pembangunan Ponpes Ustadz?.
Jawaban:
Hendaklah tidak mempekerjakan mereka karena yang namanya mempekerjakan, orang memahami ada upah darinya, namun cukup bagi pengurus pesantren untuk menganjurkan atau menghimbau supaya berta’awun bagi yang berkemauan, karena banyak kita dapati para santri terlebih di zaman ini, mereka tidak menginginkan melakukan pekerjaan seperti itu, makanya kita dapati ada dari sebagian mereka lebih memilih masuk ke pesantren dengan bayaran uang gedung dan uang pangkal yang mahal supaya lebih nyaman dan tidak terbebani pekerjaan semacam itu. Jangankan di zaman ini, di zaman kita menuntut ilmu dulu sudah kita dapati seperti itu. Teringat dulu waktu kita sempat di Ma’had Al-Bayyinah Gresik, tiba-tiba ada kawan memperkenalkan ke kita tentang Ma’had ‘Umar Ibnul Khahthab Lamongan, kita pun tertarik karena sifatnya itu mulazamah bukan program, saat kita sampaikan ke salah seorang Ustadz ‘Afallahu ‘Anna wa ‘Anhu bahwa kita ingin ke sana, maka Ustadz tersebut menasehatkan dengan nasehat yang Masya Allah bagus, hanya saja beliau mengingatkan kita bahwa kalau ke Ma’had ‘Umar Ibnul Khahthab Lamongan itu para santri ikut bekerja bikin asrama. Kita pun tetap untuk ke sana, karena bagi kita pesantren yang ada kegiatan seperti itu kita lebih senangi sehingga kita bisa mengumpulkan dua kebaikan yaitu ilmu dan amal, kita bisa beramal jariyyah. Alhamdulillah kita pun ke sana dan tidak lama di sana, ternyata Al Ustadz Khaliful Hadi dan beberapa santri senior ‘Afallahu ‘Anna wa ‘Anhum rencana akan bangun Ma’had Darul Atsar di Gresik dan kita pun ikut ke sana. Sebagian santri pada ikut, mulailah ta’awun pembangunan ma’had, saat itu asrama santri dibangun dari kayu dan bambu-bambu masih sangat sederhana. Kita punya prinsip kapan lagi akan beramal sambil menuntut ilmu, kita manfaatkan Bi’aunillah, suatu saat Al-Ustadz Khalif meminta untuk melengkapi pemasangan instalasi listrik di asrama dan masjid, kita pun pasang dan kita sempat tersengat listrik hingga terjatuh ke lantai masjid sampai Al-Ustadz Khalif ‘Afallahu ‘Anna wa ‘Anhu datang memberi gula Jawa suruh makan biar tidak lemas katanya. Alhamdulillah kita senang kalau diminta oleh beliau untuk membantunya mengerjakan pekerjaan Ma’had, karena memang dari awal niat kita ingin mendapatkan dua kebaikan, yaitu ilmu dan amal, kita ingin beramal jariyah, sampai suatu saat tempat pembuangan air dari tempat wudhu dan kamar mandi serta septic tank penuh, karena tempat pembuangannya berupa galian ke dalam tanah yang dicor, hanya beberapa bulan sudah penuh, hingga beliau minta ke kita untuk bantu menimbanya supaya berkurang, kata beliau: “Hanya Antum ya Khidhir yang Ana berani minta bantu kerjakan ini”. Alhamdulillah setelah itu beliau ke Kades minta izin untuk pembuangan air dari tempat wudhu dan kamar mandi disalurkan ke selokan umum.
Dan untuk pembangunan Majaalis di sini, saat santri kita ingin ikutkan bekerja bersama tukang maka diberi upah kecuali kalau ada yang berkemauan sendiri atau yang mau bantu tapi tidak mau diberi upah. Dan kita selalu berharap untuk bisa ikut serta, untuk memanfaatkan dan menjadikannya sebagai peluang beramal jariyah, juga untuk meneladani Nabiurrahmah ‘Alaihish Shalatu was Salam, karena beliau telah menyontohkan saat pembangunan Masjid Beliau sampai sebagian orang-orang Muslim dari kalangan Muhajirin dan Anshar mengatakan:
لَئِنْ قَعَدْنَا وَالنَّبِيُّ يَعْمَلُ ٠٠٠ لَذَاكَ مِنَّا الْعَمَلُ الْمُضَلِّلُ
“Jika kita hanya duduk menganggur, sedangkan Nabi ikut bekerja ….
Sungguh duduk menganggur kita itu adalah perbuatan menyesatkan.”
Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun berkata kepada mereka:
لَا عَيْشَ إلَّا عَيْشَ الْآخِرَهْ ٠٠٠ اللَّهمّ ارْحَمْ الْأَنْصَارَ وَالْمُهَاجِرَهْ
“Tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat …. ya Allah rahmatilah kaum Anshar dan Muhajirin.”
نَسأَلُ اللّٰهَ أََن يَرزُقَنا الإخلاصَ في القَول وَالعَمل، وأَن يَتقبلَ مِنا، وَصَلى اللهَ عَلى مُحمد وَعلى آله وَصحبه وَسلمَ
“Kita memohon kepada Allah supaya merizkikan keikhlasan pada ucapan serta amalan dan supaya menerima amal shalih dari kita. Semoga shalawat dan salam Allah tercurahkan kepada Muhammad, kepada keluarga, para Shahabatnya.”
[Abu Ahmad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu (Selasa, 17 Dzulqa’dah 1447 / 5 Mei 2025)].
⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/14033
⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/2172