HUKUM MENGELUARKAN ZAKAT FITHRI DI AWAL ATAU PERTENGAHAN RAMADHÂN
Pertanyaan:
Pak Ustâdz tadi di masjid sudah diumumkan bahwa pihak masjid mulai menerima zakat fithri, apakah boleh kita keluarkan zakat fithri pada hari ke 14 Ramadhân ini? Dan apa yang pak Ustâdz nasehatkan?
Jawaban:
Ada dari para ‘ulamâ berpendapat tentang bolehnya mengeluarkan zakat fithri pada hari-hari seperti sekarang ini, namun ini pendapat yang tidak tepat, Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimîn Rahimahullâh ketika ditanya oleh seseorang yang sudah mengeluarkan zakat fithri di Mesir pada awal Ramadhân kemudian dia ke Makkah dan menetap di Makkah, apakah dia masih ada kewajiban mengeluarkan zakat? Maka beliau menjawab:
ﻧَﻌَﻢْ، ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺯَﻛَﺎﺓُ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ؛ لِأَﻧَّﻚَ ﺃَﺩَّﻳْﺘَﻬَﺎ ﻗﺒْﻞَ ﻭَﻗْﺘِﻬَﺎ
“Iya, wajib bagimu mengeluarkan lagi zakat fithri, karena sesungguhnya kamu telah mengeluarkannya sebelum waktunya”.
Beliau berpendapat tentang tidak sahnya mengeluarkan zakat fithri pada awal Ramadhân dengan alasan:
ﺯَﻛَﺎﺓُ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﺃُﺿِﻴْﻔَﺖْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ
“Zakat fithri itu disandarkan kepada ‘Îdul Fithri”.
Menurut beliau harus dikeluarkan ketika sudah masuk pada malam ‘Îdul Fithri, beliau berkata:
فَلَا ﻳَﺠُﻮْﺯُ ﺩَﻓْﻊُ ﺯَﻛَﺎﺓِ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﺇِلَّا ﺇِﺫَﺍ ﻏَﺎﺑَﺖِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻣِﻦْ ﺁﺧِﺮِ ﻳَﻮْﻡٍ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ
“Tidak boleh mengeluarkan zakat fithri kecuali jika sudah tenggelam matahari pada akhir hari Ramadhân”.
Pendapat beliau ini yang benar, adapun bila waktu sempit atau dikhawatirkan kalau disalurkan pada malam ‘Îdul Fithri tidak akan bisa tersalurkan kepada orang-orang fakir dan miskin maka boleh mengeluarkannya dua hari atau tiga hari sebelum ‘Îdul Fithri, ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imâm Al-Bukhârî dari Ibnu ‘Umar Radhiyallâhu ‘Anhumâ:
ﻭَﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳُﻌْﻄُﻮْﻥَ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﺑِﻴَﻮْﻡٍ ﺃَﻭْ ﻳَﻮْﻣَﻴْﻦِ
“Mereka memberikan zakat fithri sehari atau dua hari sebelum ‘Îdul Fithri”.
Berkata Al-Imâm Mâlik Rahimahullâh:
ﺃَﺧْﺒَﺮَﻧِﻲ نَاﻓِﻊٌ ﺃَﻥَّ ﺍﺑْﻦَ ﻋُﻤَﺮَ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺒْﻌَﺚُ ﺑِﺰَﻛَﺎﺓِ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﺠَﻤَّﻊَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﺑِﻴَﻮْﻣَﻴْﻦِ ﺃَﻭْ ﺛَﻼَﺛَﺔٍ
“Telah mengabarkan kepadaku Nâfi’ bahwa Ibnu ‘Umar mengirimkan zakat fithri yang di sisinya kepada sekelompok orang, dua hari atau tiga hari sebelum ‘Îdul Fithri”.
Mengeluarkan zakat fithri sehari atau dua hari atau tiga hari sebelum ‘Îdul Fithri ini hanyalah keringanan saja, adapun waktu yang sesungguhnya seperti yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimîn Rahimahullâh:
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﺑَﻌْﺪَ ﻏُﺮُﻭْﺏِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻣِﻦْ ﺁﺧِﺮِ ﻳَﻮْﻡٍ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ
“Hanyalah waktu mengeluarkan zakat fithri itu setelah tenggelamnya matahari pada akhir hari Ramadhân.”
Yang dapat kami nasehatkan hendaklah seseorang ketika mengeluarkan zakat fithri melihat waktu yang tepat dalam mengeluarkannya yaitu waktunya mulai dari tenggelamnya matahari pada akhir hari Ramadhân sampai waktu khatîb keluar ke tempat shalat ‘Îd, Ini berdasarkan hadîts yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallâhu ‘Anhumâ, bahwasanya beliau berkata:
ﻭَﺃَﻣَﺮَ ﺑِﻬَﺎ ﺃَﻥْ ﺗُﺆَﺩَّﻯ ﻗَﺒْﻞَ ﺧُﺮُﻭْﺝِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ
“Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan supaya mengeluarkannya sebelum manusia keluar untuk shalat ‘Îd”.
Bila seandainya seseorang sangat sibuk atau dia khawatir akan terlupakan dengan kewajiban zakat fithri tersebut maka dia titipkan ke orang yang dipercaya supaya orang tersebut menyalurkannya kepada orang yang berhak menerimanya pada waktu yang tepat, sungguh bagus apa yang dilakukan oleh seorang kawan kami dahulu ketika masih di Yaman, ketika dia berkunjung ke tempat kami pada suatu malam dari malam-malam Ramadhân maka dia menyempatkan dirinya mampir ke suatu toko untuk belanja sekalian dia beli beras, ketika sampai di tempat kami dia meminta izin ke kami untuk menitipkan berasnya ke tempat kami, dia biarkan beras tersebut selama beberapa malam di tempat kami, setelah buka puasa pada akhir hari Ramadhân, dia langsung menghubungi kami dengan mengatakan bahwa beras yang dia titipkan itu dia akan jadikan sebagai zakat fithri dan pada malam tersebut dia nyatakan sebagai zakat fithri dan dia keluarkan ke kami karena kami katanya termasuk dari orang-orang yang berhak menerima zakat fithri. Kami pun katakan kepadanya: Bukankah berasnya tersebut banyak dan melebihi ukuran zakat fithri? Dia pun menjawab: Ambillah untukmu seukuran zakat fithri, adapun sisanya biarkan dulu sebagai barang titipan, setelah shalat ‘Îd kamu ambil lagi sisanya tersebut sebagai sedekah dariku.
Subhânallâh nampak kalau dia mengamalkan hadîts dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallâhu ‘Anhumâ bahwasanya beliau berkata:
ﻣَﻦْ ﺃَﺩَّﺍﻫَﺎ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻓَﻬِﻰَ ﺯَﻛَﺎﺓٌ ﻣَﻘْﺒُﻮﻟَﺔٌ ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺩَّﺍﻫَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻓَﻬِﻰَ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺎﺕِ
“Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘Îdul Fithri maka itu adalah zakat yang diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat ‘Îdul Fithri maka itu adalah sedekah dari sedekah-sedekah”.
Semoga Allâh Ta’âlâ menerima segala amal kita dan menjadikan kita termasuk dari hamba-hamba-Nya yang bersyukur.
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Saddadahullah wa Jammalah pada 15 Ramadhân 1438 di Kemang Pratama Bekasi.