ALLAH MENOLONG NABI SHALLALLĀHU ‘ALAIHI WA SALAM MELALUI KEMARAU
Pertanyaan:
Kenapa Nabī Muhammad Shallallāhu ‘Alaihi wa Sallam mendoakan balā’ atas orang-orang musyrik supaya ditimpa kemarau seperti kemarau zaman Nabī Yūsuf? Bukankah dengan kemarau itu merata dan semua tertimpa kemarau?.
Jawaban:
Tidaklah Nabiurrahmah ‘Alaihish Shalātu was Salām mendoakan keburukan kepada ahli syirik Quraisy melainkan karena kejahatan dan kezaliman mereka yang telah melampui batas, mereka menghishar (mengisolasi), memboikot, melarang jual beli dan bermuamalah dengan Ahli Tauhīd. Dan doa keburukan yang beliau ucapkan adalah doa supaya ditimpakan kemarau, dan kemarau itu merupakan salah satu dari bentuk pertolongan Allāh sebagaimana diperjelas pada lafazh doa yang beliau ucapkan:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَيْهِمْ بِسَبْعٍ كَسَبْعِ يُوسُفَ
“Yā Allāh, tolonglah aku atas mereka dengan tujuh tahun kemarau sebagaimana tujuh tahun kemarau Yūsuf.”
Sama dengan kemarau di zaman Nabiullāh Yūsuf ‘Alaihish Shalātu was Salām, itu juga sebagai sebab pertolongan Allāh kepada Nabiullāh Yūsuf dan saudara-saudaranya dari kalangan Banī Isrāil, dan Allāh Ta’ālā muliakan mereka dengan sebab kemarau, Allāh jadikan mereka termasuk sebaik-baik kaum di zamannya.
Kalau dilihat dari kenyataannya, Ahli Tauhīd memang akan ikut merasakan dampak dari kemarau atau ujian kekurangan dan kesusahan dunia. Hanya saja dampak itu justru menambah keutamaan mereka, karena keberadaan mereka laksana logam mulia, semakin dibakar akan semakin berkilau. Andaikan pun ada yang wafat karena pengaruh kemarau atau ujian kekurangan dan kesusahan dunia maka keberadaannya seperti kayu gaharu, bukankah kayu gaharu semakin dibakar akan semakin wangi?!.
Dan yang kita tetap syukuri meskipun kita terkena dampak kemarau atau berbagai ujian dunia adalah kita dapat terbedakan dengan ahli syirik, kita bisa dengan taufik Allāh untuk selalu meminta tolong kepada Allāh, dan kita dapat memurnikan doa kita hanya kepada Allāh, Walhamdulillāh. Berbeda dengan ahli syirik, kalau pun mereka berdoa kepada Allāh hanya pada keadaan tertentu, namun pada keadaan lain mereka juga berdoa kepada selain-Nya. Ini yang menjadi pembeda antara kita dengan mereka dalam menghadapi kemarau atau berbagai ujian dunia, sungguh benar seperti yang Allāh katakan:
إِن تَكُونُوا۟ تَأۡلَمُونَ فَإِنَّهُمۡ یَأۡلَمُونَ كَمَا تَأۡلَمُونَۖ وَتَرۡجُونَ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا یَرۡجُونَۗ
“Jika kalian menderita kesakitan, maka sungguh merekapun menderita kesakitan sebagaimana kalian menderita. Hanya saja kalian mengharap dari Allāh apa yang tidak mereka harapkan.” [Surat An Nisā’: 104].
[Abū Ahmad Muhammad Al Khidhir, pada malam Rabu, 14 Shafar 1448 / 29 Juli 2026 di Cipancur Bogor].
⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/14644
⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/2758