BEDA-BEDA DALAM MEMPERLAKUKAN MUSUH
Pertanyaan:
Dan keterangan artikel di bawah ini apa juga berlaku kepada orang yang sengaja tidak shalat. Karena orang yang tidak shalat maka dia kāfir?.
“Syarat Keabsahan Islām Memusuhi Pelaku Kesyirikan dan Membencinya. Syaikh Al ‘Allāmah Sulaimān bin Sahmān Rahimahullāh berkata: “Seseorang tidak akan lurus (sah) keislamannya meskipun ia mengesakan Allāh dan meninggalkan kesyirikan kecuali dengan memusuhi orang-orang musyrik, serta menyatakan permusuhan dan kebencian secara terang-terangan kepada mereka.” Sumber: Kasyfu Asy Syubahatain, hal. 57.
Jawaban:
Semua orang kāfir sama keberadaan mereka adalah musuh-musuh bagi orang-orang Muslim, hanya saja yang namanya musuh-musuh itu tidak sama dalam memperlakukan mereka, karena ada musuh yang tidak memusuhi Islām dan kaum Muslimīn, terlebih lagi kalau memiliki hubungan rahim atau kekeluargaan yang kita telah diperintah untuk berbuat baik, secara umum yang memiliki hubungan kekeluargaan telah dinamai oleh Allāh sebagai musuh:
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِنَّ مِنۡ أَزۡوَ ٰجِكُمۡ وَأَوۡلَـٰدِكُمۡ عَدُوࣰّا لَّكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡۚ
“Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isteri kalian dan anak-anak kalian adalah musuh bagi kalian maka hati-hatilah kalian.” [Surat At-Taghābun: 14].
Di zaman Nabī dan para Shahabatnya ‘Alaihimush Shalātu was Salām telah ada contoh, Nabī Shallallāhu ‘Alaihi wa Sallam tetap berlaku baik dan berbakti kepada pamannya Abū Thālib yang kedudukannya seperti ayahnya sendiri, ini pada zaman sebelum hijrah, pada zaman sebelum ada negeri Islām. Dan setelah ada negara Islām, Abū Hurairah hijrah ke Madīnah dengan mengikutsertakan ibunya, beliau membawa ibunya ikut ke Madīnah dalam keadaan ibunya musyrikah (wanita kāfir). Orang-orang Muslim saat itu tidak mempertanyakan keadaan Abū Hurairah, karena mereka di saat itu benar-benar tahu bahwa siapa saja yang mengucapkan Lā Ilaha Illallāh maka pasti sudah tertanam pada dirinya rasa benci kepada orang kāfir karena dia adalah musuh baginya, Abū Jahal tahu ini, makanya dia memperingatkan Abū Thālib dari kalimat Lā Ilaha Illallāh yang ditalqinkan oleh Nabī Shallallāhu ‘Alaihi wa Sallam kepadanya, Abū Jahal katakan:
يا أبا طالِبٍ، تَرغَبُ عن مِلَّةِ عبدِ المُطَّلِبِ
“Wahai Abū Thālib, kamu akan benci dengan agama ‘Abdul Muththalib.” Yakni bila kamu mengucapkan kalimat Lā Ilaha Illallāh itu maka kamu harus benci kepada agama ayahmu, dan tentu konsekwensinya kamu mengkafirkannya dan mengkafirkan siapa saja yang tidak beragama Islām, dan mengkāfirkan itulah bentuk dari permusuhan dan kebencian. Pada akhirnya Abū Thālib lebih milih untuk tetap bertahan di atas agama ayahnya, makanya ‘Alī bin Abī Thālib menambah kejelasan dalam menyikapi ayahnya sendiri, beliau membenci karena kekafirannya sampai beliau menyatakan sikap dan menghukumi ayahnya sesat, beliau katakan kepada Nabī Shallallāhu ‘Alaihi wa Sallam:
إِنَّ عمَّكَ الشيخَ الضالَّ قدْ ماتَ
“Sungguh pamanmu sesepuh yang sesat itu benar-benar telah mati.”
Ini jelas suatu perkataan yang menggambarkan tentang rasa benci terhadap kekafirannya,
ternyata Nabī Shallallāhu ‘Alaihi wa Sallam masih memerintahkannya untuk tetap berlaku baik kepadanya, beliau berkata kepadanya:
انْطَلِقْ فَوَارِهِ
“Pergilah kamu lalu kuburlah dia.”
Demikianlah bentuk penerapan rasa benci terhadap musuh dari kalangan keluarga yang tidak memusuhi Islām dan kaum Muslimīn. Berbeda perlakuan dengan yang jelas memusuhi seperti permusuhan Abū Lahab yang semasa hidupnya telah diabadikan akibat buruknya pada surat Al Lahab, dan juga yang telah dicontohkan oleh Khalīlullāh Ibrāhim ‘Alaihish Shalātu was Salām yang beliau hijrah meninggalkan orang tuanya setelah orang tuanya membiarkan beliau dan bahkan mengancam beliau:
قَالَ أَرَاغِبٌ أَنتَ عَنۡ ءَالِهَتِی یَـٰۤإِبۡرَ ٰهِیمُۖ لَىِٕن لَّمۡ تَنتَهِ لَأَرۡجُمَنَّكَۖ وَٱهۡجُرۡنِی مَلِیࣰّا
“Berkata ayahnya (Āzar atau nama lainnya Tārah): “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrāhīm? Jika kamu tidak berhenti, maka sungguh aku benar-benar akan merajammu, atau tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. [Surat Maryam: 46].
[Abū Ahmad Muhammad Al Khidhir pada hari Senin tanggal 11 Rabī’ Al Awwal 1448 / 24 Agustus 2026 di Masjid Mutiah Bogor].
⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/14830
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/2910