ORANG-ORANG YANG BERBUAT KEBURUKAN TAPI MERASA BERBUAT KEBAIKAN

Pertanyaan:

أَفَمَن زُيِّنَ لَهُۥ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ فَرَءَاهُ حَسَنٗاۖ فَإِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۖ فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَيۡهِمۡ حَسَرَٰتٍۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ

“Apakah orang yang dihiasi (oleh syaithān) pada kejelekan amalannya lalu dia melihat amalannya itu baik (sama dengan orang yang amalannya tidak dihiasi syaithān)? Maka sesungguhnya Allāh menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah pergi dirimu karena sedih terhadap mereka. Sesungguhnya Allāh adalah ‘Alīm (Maha Mengetahui) terhadap apa yang mereka lakukan. [Fāthir: 8].
Ustādz, maksud ayat tersebut ditujukan kepada siapa?. Apakah kepada orang-orang kāfir atau ditujukan juga kepada umat Islām? Dan jika ditujukan kepada umat Islām, lalu umat Islām yang bagaimana?.

Jawaban:
Al Hāfizh Ibnu Katsīr Rahimahullāh telah menjelaskan tentang ayat tersebut:

يَعْنِي كَالْكُفَّارِ وَالْفُجَّارِ يَعْمَلُوْنَ أَعْمَالًا سَيِّئَةً وَهُمْ فِي ذَلِكَ يَعْتَقِدُوْنَ وَيَحْسَبُوْنَ أّنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا

“Yakni seperti orang-orang kāfir dan orang-orang pendosa, mereka melakukan amalan-amalan yang buruk, sedangkan mereka pada demikian itu meyakini dan menyangka bahwasanya mereka melakukan sebaik-baiknya amalan”.
Yakni orang-orang yang telah dihiasi oleh syaithān pada amalan buruk mereka adalah orang-orang kāfir dan orang-orang pendosa dari kalangan umat Islām ini, seperti ahli bid’ah dan ahli maksiat yang meyakini bahwa amalan mereka baik dan bagus, sebagaimana diperjelas pada perkataan Allāh Ta’ālā:

ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia amalan mereka di dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwasanya mereka melakukan sebaik-baiknya amalan”. [Al Kahfi: 104].
Syaikhul Islām Abul ‘Abbās Ahmad Al Harrānī Rahimahullāh berkata:

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَغَيْرِهِ أَنَّهُمْ كَانُوا يَتَأَوَّلُونَهَا فِي الحرورية وَنَحْوِهِمْ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ وَالضَّلَالَاتِ

“Sungguh telah diriwayatkan dari ‘Alī bin Abī Thālib Radhiyallāhu ‘Anhu dan selain beliau, bahwasanya dahulu mereka menafsirkannya dengan Al Harūriyyah (yakni khawārij) dan yang semisal dengan mereka dari kalangan ahli bid’ah dan orang-orang sesat”.
Al Hāfizh Ibnu Katsīr Rahimahullāh menafsirkan:

{الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ} أَي عَمِلُوا أَعْمَالًا بَاطِلَةً عَلَى غَيْرِ شَرِيْعَةٍ مَشْرُوْعَةٍ مَرْضِيَّةٍ مَقْبُوْلَةٍ {وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا} أَي يَعْتَقِدُوْنَ أَنَّهُمْ عَلَى شَيْءٍ، وَأَنَّهُمْ مَقْبُوْلُوْنَ مَحْبُوْبُوْنَ

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia amalan mereka” yakni mereka melakukan berbagai amalan kebatilan di atas selain syari’at yang disyari’atkan, diridhai dan diterima, “sedangkan mereka menyangka bahwasanya mereka melakukan sebaik-baiknya amalan” yakni mereka meyakini bahwasanya mereka di atas suatu kebaikan, dan bahwasanya mereka diterima lagi dicintai (amalan mereka)”.

[Abū Ahmad Muhammad Al Khidhir pada 14 Muharram 1439 di Lantana, Kemang Pratama 3 Bekasi].

⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir/1077