AJARI AKU SUPAYA IKHLAS

Pertanyaan: 
Mohon ajarin saya supaya bisa ikhlas?.

Jawaban:
Akhī Fillāh semoga Allāh menolong kita supaya senantiasa ikhlas, ketahuilah bahwa ikhlas hanyalah suatu kata yang terdiri dari beberapa huruf dan sangat mudah untuk diucapkan namun sangat sulit dan terlalu berat untuk bisa diamalkan:

نَسْأَلُ اللّٰهَ صَلَاحَ الْقُلُوْبِ

“Kita memohon kepada Allāh pembenahan hati.”
Akhī Fillāh semoga Allāh membenahi hati kita, sesungguhnya perjuangan untuk bisa ikhlas ini yang membuat mata hati dan mata kepala orang-orang shālih menangis, mata terus meneteskan airnya, tak henti-hentinya mereka mengusap cucuran dan tetesan air mata, membuat orang dewasa dan orang tua yang shālih seakan-akan bayi, tangisan tak kuasa mereka kendalikan, Yā Allāh:

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻣُﺼَﺮِّﻑَ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ ﺻَﺮِّﻑْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻃَﺎﻋَﺘِﻚَ

“Yā Allāh, Yang Maha Memalingkan hati, palingkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.”
Ada suatu hadīts yang bisa kita jadikan sebagai bimbingan dan pelajaran supaya kita senantiasa ikhlas, ketahuilah hadīts tersebut adalah hadīts yang diriwayatkan oleh Al Imām Muslim dari Abū Hurairah semoga Allāh meridhainya bahwasanya ada seseorang dari penduduk Syām datang kepada Abū Hurairah lalu berkata:

أَيُّهَا الشَّيْخُ حَدِّثْنَا حَدِيْثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Wahai syaikh ceritakanlah kepada kami dengan suatu hadīts yang engkau telah mendengarkannya dari Rasūlullāh Shallallāhu ‘Alaihi wa Sallam.” Beliau pun berkata:

نَعَمْ، ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ﻳَﻘُﻮْﻝُ: ﺇِﻥَّ ﺍَﻭَّﻝَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻳُﻘْﻀَﻰ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺭَﺟُﻞٌ ﺍﺳْﺘُﺸْﻬِﺪَ ﻓَﺄُﺗِﻲَ ﺑِﻪِ ﻓَﻌَﺮَّﻓَﻪُ ﻧِﻌَﻤَﻪُ ﻓَﻌَﺮَﻓَﻌَﻬَﺎ، ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﻤَﺎ ﻋَﻤِﻠْﺖَ ﻓِﻴْﻬَﺎ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﻗَﺎﺗَﻠْﺖُ ﻓِﻴْﻚَ ﺣَﺘَّﻰ ﺍﺳْﺘُﺸْﻬِﺪْﺕُ ﻗَﺎﻝَ: ﻛَﺬَﺑْﺖَ ﻭَﻟَﻜِﻨَّﻚَ ﻗَﺎﺗَﻠْﺖَ ِﻷَﻥْ ﻳُﻘَﺎﻝَ ﺟَﺮِﻱْﺀٌ، ﻓَﻘَﺪْ ﻗِﻴْﻞَ، ﺛُﻢَّ ﺃُﻣِﺮَ ﺑِﻪِ ﻓَﺴُﺤِﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺟْﻬِﻪِ ﺣَﺘَّﻰ ﺍُﻟْﻘِﻲَ ﻓﻲِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ، ﻭَﺭَﺟُﻞٌ ﺗَﻌَﻠَّﻢَ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﻭَﻋَﻠَّﻤَﻪُ ﻭَﻗَﺮَﺃََ ﺍْﻟﻘُﺮْﺁﻥَ ﻓَﺄُُﺗِﻲَ ﺑِﻪِ ﻓَﻌَﺮَّﻓَﻪُ ﻧِﻌَﻤَﻪُ ﻓَﻌَﺮَﻓَﻌَﻬَﺎ، ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﻤَﺎ ﻋَﻤِﻠْﺖَ ﻓِﻴْﻬَﺎ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﺗَﻌَﻠَّﻤْﺖُ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﻭَﻋَﻠَّﻤْﺘُﻪُ ﻭَﻗَﺮَﺃْﺕُ ﻓِﻴْﻚَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺁﻥَ، ﻗَﺎﻝَ: ﻛَﺬَﺑْﺖَ، ﻭَﻟَﻜِﻨَّﻚَ ﺗَﻌَﻠَّﻤْﺖَ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﻟِﻴُﻘَﺎﻝَ: ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﻭَﻗَﺮَﺃْﺕَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺁﻥَ ﻟِﻴُﻘَﺎﻝَ ﻫُﻮَ ﻗَﺎﺭِﻯﺀٌٌ، ﻓَﻘَﺪْ ﻗِﻴْﻞَ، ﺛُﻢَّ ﺃُﻣِﺮَ ﺑِﻪِ ﻓَﺴُﺤِﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺟْﻬِﻪِ ﺣَﺘَّﻰ ﺍُﻟْﻘِﻲَ ﻓﻲِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ، ﻭَﺭَﺟُﻞٌ ﻭَﺳَّﻊَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺍَﻋْﻄَﺎﻩُ ﻣِﻦْ ﺍَﺻْْﻨَﺎﻑِ ﺍﻟْﻤَﺎﻝِ ﻛُﻠِّﻪِ ﻓَﺄُﺗِﻲَ ﺑِﻪِ ﻓَﻌَﺮَّﻓَﻪُ ﻧِﻌَﻤَﻪُ ﻓَﻌَﺮَﻓَﻬَﺎ، ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﻤَﺎ ﻋَﻤِﻠْﺖَ ﻓِﻴْﻬَﺎ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﻣَﺎﺗَﺮَﻛْﺖُ ﻣِﻦْ ﺳَﺒِﻴْﻞٍ ﺗُﺤِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳُﻨْﻔَﻖَ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﻔَﻘْﺖُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﻟَﻚَ، ﻗَﺎﻝَ: ﻛَﺬَﺑْﺖَ، ﻭَﻟَﻜِﻨَّﻚَ ﻓَﻌَﻠْﺖَ ﻟِﻴُﻘَﺎﻝَ ﻫُﻮَ ﺟَﻮَﺍﺩٌ ﻓَﻘَﺪْ ﻗِﻴْﻞَ، ﺛُﻢَّ ﺃُﻣِﺮَ ﺑِﻪِ ﻓَﺴُﺤِﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺟْﻬِﻪِ ﺛُﻢَّ ﺃُﻟْﻘِﻲَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

“Iya, aku telah mendengar Rasūlullāh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sesungguhnya yang pertama-tama bagi manusia diadili atasnya pada hari Kiamat adalah orang yang (dianggap) mati syahīd di jalan Allāh, lalu didatangkan dengannya dan diperkenalkan kepadanya tentang kenikmatan-kenikmatannya, dia pun mengakuinya. Allāh berkata: “Apa yang telah kamu amalkan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?.” Dia berkata: “Aku berperang karena Engkau sampai aku mati syahīd.” Allāh berkata: “Kamu telah berdusta! kamu berperang supaya dikatakan pemberani, sungguh telah dikatakan.” Kemudian diperintahkan dengannya lalu diseret di atas wajahnya kemudian dilemparkan ke dalam Neraka. Dan seseorang yang mempelajari ilmu dan dia mengajarkannya serta dia membaca Al Qur’ãn. Didatangkan dengannya lalu diperkenalkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, dia pun mengakuinya. Allāh berkata: “Apa yang telah kamu amalkan dengan kenikmatan-kenikmatan tersebut?.” Dia menjawab: “Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al Qurãn karena Engkau.” Allāh berkata: “Kamu telah berdusta! Kamu mempelajari ilmu supaya kamu dikatakan orang yang berilmu dan kamu membaca Al Qur’ãn supaya dikatakan dia adalah orang yang membaca Al Qur’ãn, sungguh telah dikatakan.” Kemudian diperintahkan dengannya lalu diseret di atas wajahnya sampai dilemparkan ke dalam Neraka. Dan seseorang yang Allāh telah lapangkan rezeki padanya dan Dia memberikan kepadanya berbagai macam harta benda sebanyak-banyaknya, maka didatangkanlah dengannya lalu diperkenalkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, dia pun mengakuinya. Allāh berkata: “Apa yang telah kamu amalkan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?.” Dia berkata: “Tidaklah aku meninggalkan dari suatu jalan pun yang disenangi untuk diinfakkan padanya kecuali aku telah menginfakkan padanya karena Engkau. Allāh berkata: “Kamu telah berdusta! Akan tetapi kamu melakukan itu supaya dikatakan dia adalah orang dermawan, sungguh telah dikatakan.” Kemudian diperintahkan dengannya lalu diseret di atas wajahya kemudian dilemparkan ke dalam Neraka.”
Hadīts tersebut sudah sangat mencukupi bagi seseorang untuk bisa ikhlas dan dia mengambil pelajaran darinya, ketika lawan dari ikhlas yaitu riyā’ (ingin dilihat) atau sum’ah (ingin popularitas) mulai menyambar atau syaithān mulai membisik-bisikkan ke dalam hati maka hendaklah seseorang bersegera merenungi dan mengingat hadīts tersebut:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang memiliki hati atau yang diberikan kepadanya pendengaran dalam keadaan dia menyaksikan.” [Surat Qãff: 37].

[Abū Ahmad Muhammad Al Khidhir pada 23 Jumādā Al Ūlā 1438 di Purwokerto].

⛵️https://t.me/majaalisalkhidhir/1913
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/3167