KLAIM YANG MENGHILANGKAN CAHAYA

Pertanyaan:
Bagaimana mengartikan dengan benar sya’īr berikut dan penempatannya dalam pendalīlan pada hal seperti apa Ustādz?

ودعوة المرء تطفي نور بهجته
هذا بحق فكيف المدعي زللا

Jawaban:
Artinya: “Klaim seseorang dapat meredupkan cahaya ketampanannya, ini pada klaim yang benar. Lalu bagaimana dengan klaim yang salah?!.”
Adapun peletakannya dalam pendalīlan maka itu pada bantahan terhadap pemberian pujian kepada ahlul bid’ah, meskipun ahlul bid’ah dipuji dengan pujian sesuai kenyataan dirinya misalnya dia ‘ālim, maka pujian tersebut tidaklah guna dan tidak manfaat pada dirinya. Terlebih lagi pada perkara yang tidak sesuai kenyataan, misalnya pujian kepada seorang qubūrī sebagai muhaddits lantaran dia mengajarkan kitāb hadīts atau menganggap senyumnya persis senyuman Nabī Shallallāhu ‘Alaihi wa Sallam karena dia mengklaim dirinya sendiri sebagai keturunan Nabī, maka hakekat dari pujian kepadanya itu justru akan meredupkan cahaya pada wajahnya. Coba baca Syamāil Al Muhammadiyyah yang ditulis oleh para Imām dari kalangan Ahlul Hadīts lalu bandingkan senyuman Nabī Shallallāhu ‘Alaihi wa Sallam dengan senyuman orang tersebut maka pasti tidak sebanding, jangankan pada senyum, pada wajah pun pasti jauh beda, belum lagi pada lantunan bacaan Al Qur’ãn yang Nabī Shallallāhu ‘Alaihi wa Sallam berakhlak dengan Al Qur’ãn, pasti sangat jauh beda lantunan bacaan dan pengamalannya.
Dan ba’it sya’īr yang disebutkan pada pertanyaan itu telah diterapkan oleh salah seorang Aimmah Da’wah dalam membantah ahlul bid’ah. Dan Asy Syaikh ‘Abdul Lathīf bin ‘Abdirrahmān bin Hasan Ãlu Syaikh Rahmatullāhi ‘Alainā wa ‘Alaihim telah menyebutkan ba’it sya’īr tersebut di dalam kitābnya Minhājut Ta’sīs wat Taqdīs pada suatu pasal tentang perkataan Al ‘Irāqī yang berkaitan dengan pujian terhadap Dāwud bin Sulaimān bin Jarjīs, yang orang ini merupakan pentolan ahlul bid’ah, termasuk dari para pembesar shūfiyyah, murji’ah dan jabariyyah. Dia dikenal memiliki 11 kitāb dan sebagian dari Aimmah Da’wah telah membantahnya, Walhamdulillāh.

[Abū Ahmad Al Khidhir pada malam Rabu, 24 Jumādā Al Ūlā 1448 / 4 November 2026 di Bogor].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/15402