MENGENAL DZUL KIFLI ‘ALAIHISH SHALÂTU WAS SALÂM
Pertanyaan:
‘Afwân Ustâdz, izin bertanya, barusan saya baca artikel yang menyebutkan bahwa Nabî Dzul Kifli adalah putera Nabî Ayyûb dan nama aslinya adalah Basyar. Apakah ini shahîh Ustâdz? Bagaimana kisah Nabî Dzul Kifli ‘Alaihish Shalâtu was Salâm yang shahîh menurut Al-Qur’ãn dan As-Sunnah?Jazâkumullâhu khairan wa Bârakallâhu fîkum.
Jawaban:
Kita tidak mengetahui ada riwayat yang shahîh menyebutkannya, hanya saja telah masyhûr perkataan Ashhâbus Siyar (para penulis sejarah):
هُوَ ذُو الْكِفْلِ ابْنُ نَبِيِّ اللّٰهِ أَيُّوبَ، وَاسْمُهُ فِي الْأَصْلِ بَشَرٌ، وَقَدْ بَعَثَهُ اللّٰهُ نَبِيًّا بَعْدَ أَبِيهِ
“Beliau adalah Dzul Kifli putera Nabiullâh Ayyûb, nama asli beliau adalah Basyar dan sungguh Allâh telah mengutusnya sebagai nabî setelah ayahnya.”
Ashhâbus Siyar menyebutkan pula bahwa Ayyûb ‘Alaihish Shalâtu was Salâm menikah dengan Ilyâ bintu Ya’qûb ‘Alaihimash Shalâtu was Salâm, dari pernikahan keduanya lahirlah Dzul Kifli ‘Alaihish Shalâtu was Salâm, hingga disebutkan tentang Ilyâ Radhiyallâhu ‘Anhâ bahwa ayahnya adalah nabî yakni Ya’qûb, suaminya adalah nabî yakni Ayyûb dan puteranya adalah nabî yakni Dzul Kifli.
Tidak kita ketahui tentang keshahîhan nama asli Dzul Kifli, karena di dalam Al-Qur’ãn tidaklah disebutkan nama aslinya kecuali hanya disebutkan nama Dzul Kifli dan penyebutannya hanya pada dua tempat yaitu di dalam surat Al-Anbiyâ’:
وَإِسۡمَـٰعِیلَ وَإِدۡرِیسَ وَذَا ٱلۡكِفۡلِۖ كُلࣱّ مِّنَ ٱلصَّـٰبِرِینَ
“Ismâ’îl, Idrîs dan Dzul Kifli, semua mereka termasuk dari orang-orang yang bersabar.” [Surat Al-Anbiyâ’: 85].
Dan di dalam surat Shãd:
وَٱذۡكُرۡ إِسۡمَـٰعِیلَ وَٱلۡیَسَعَ وَذَا ٱلۡكِفۡلِۖ وَكُلࣱّ مِّنَ ٱلۡأَخۡیَارِ
“Ingatlah kamu tentang Ismâ’îl, Al-Yasa’ dan Dzul Kifli, semua mereka termasuk dari orang-orang pilihan.” [Surat Shãd: 48].
Disebutkan nama Dzul Kifli bersama para nabî, ini menunjukkan tentang keberadaannya sebagai nabî, berkata Ibnu Katsîr Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih:
وَأَمَّا ذُو الْكِفْلِ فَالظَّاهِرُ مِنَ السِّيَاقِ أَنَّهُ مَا قُرِنَ مَعَ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا وَهُوَ نَبِيٌّ
“Adapun Dzul Kifli maka zhâhir dari konteks ayat bahwasanya tidaklah beliau digandengan penyebutannya bersama para nabî kecuali dia dalam keadaan sebagai nabî.”
Kebanyakan Ahlut Tafsîr berpendapat bahwa Dzul Kifli adalah nabî.
Ashhâbus Siyar menyebutkan sebab beliau dinamai Dzul Kifli:
وَسَمَّاهُ ذَا الْكِفْلِ لِأَنَّهُ كَانَ قَدْ تَكَفَّلَ لِبَنِي قَومِهِ بِأَنْ يَكْفِيَهُمْ أَمْرَهُمْ وَيَقْضِيَ بَينَهُمْ بِالْعَدْلِ
“Menamainya dengan Dzul Kifli karena sesungguhnya keberadaannya benar-benar menanggung segolongan kaumnya untuk mencukupi urusan mereka dan memutuskan perkara di antara mereka dengan keadilan.”
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh sebelum pada kajian Ushûlus Sunnah, hari Sabtu tanggal 9 Ramadhân 1441 / 2 Mei 2020 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.