WAKTU ANTARA ADZÂN DAN IQÂMAH

Pertanyaan:
Berapa jarak waktu antara adzân dan iqâmah? Adakah dalîl yang shahîh lagi jelas yang menjelaskan tentang jarak tersebut?
Hal-hal apa saja yang harus dipahami oleh seorang imâm masjid terlebih kepada para ma’mûmnya?

Jawaban:
Penentuan waktu antara adzân dan iqâmah tergantung kepada imâm, karena seorang muadzdzin tidak berhak iqâmah kecuali setelah imâm hadir atau setelah mendapatkan izin dari imâm, sebagaimana diperjelas di dalam riwayat Al-Bukhârî (no. 7239) dari jalur periwayatan ‘Athâ, beliau berkata:

أَعْتَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعِشَاءِ فَخَرَجَ عُمَرُ فَقَالَ الصَّلاَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، رَقَدَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ، فَخَرَجَ وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ يَقُولُ: لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالصَّلاَةِ هَذِهِ السَّاعَةَ

“Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam mengakhirkan shalat ‘isyâ, kemudian ‘Umar keluar lalu berkata: Mulailah shalat Wahai Rasûlullâh, telah tertidur para wanita dan anak-anak. Beliaupun keluar dalam keadaan rambutnya bercucuran air, lalu beliau berkata: “Kalaulah tidak memberatkan umatku maka sungguh aku akan perintahkan mereka untuk shalat ‘isyâ pada waktu ini.”

Atas dasar ini, boleh mengingatkan imâm tentang waktu sehingga imâm tidak berlambat-lambat, apabila imâm tidak bisa bersegera karena sakit atau suatu udzur maka hendaklah imâm memerintahkan orang lain sebagai penggantinya, berkata ‘Âisyah Radhiyallâhu ‘Anhâ:

لَمَّا مَرِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، فَحَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَأُذِّنَ، فَقَالَ: مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ

“Di saat Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam sedang sakit pada sakitnya yang beliau wafat padanya, lalu masuk waktu shalat, kemudian beliau diberitahu tentang shalat waktu shalat maka beliau berkata: “Perintahkanlah Abû Bakr untuk mengimami manusia.” Riwayat Al-Bukhârî (no. 664).

Adapun yang perlu diketahui oleh seorang imâm terhadap para ma’mûmnya adalah dia sebelum takbiratul ihrâm hendaklah melihat kepada shaff para ma’mûm, hendaklah dia pastikan kelurusan dan kerapatan shaff ma’mûmnya, dan disunnahkan baginya untuk mengatakan kepada para ma’mûmnya:

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ

“Luruskanlah shaff-shaff kalian, karena sesungguhnya kelurusan shaff termasuk dari kesempurnaan shalat.” Riwayat Al-Bukhârî (no. 723) dari Abul Walîd, dari Syu’bah, dari Qatâdah, dari Anas, dari Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam.

Para ma’mûm hendaklah melaksanakan perintah imâm untuk meluruskan shaff mereka, hendaklah mereka menjadikan shaff mereka sebagaimana yang dicontohkan oleh para Shahabat Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, berkata Anas bin Mâlik Radhiyallâhu ‘Anhu:

وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ

“Salah seorang dari kami menempelkan bahunya ke bahu temannya dan kakinya ke kaki temannya.” Riwayat Al-Bukhârî (no. 725).

Dijawab oleh:
Al-Ustadz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada malam Rabu tanggal 13 Ramadhân 1441 / 6 Mei 2020 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.