MENGGUNAKAN PASTA GIGI TIDAKLAH MEMBATALKAN PUASA

📝 Pertanyaan:
Ustâdz kalau kita sikat gigi menggunakan odol apakah benar membatalkan puasa?
📜 Jawaban:
Ada dari para ‘ulamâ memakruhkan bagi orang yang berpuasa menggunakan pasta gigi ketika menyikat giginya di siang hari, dikhawatirkan akan membatalkan puasa karena pasta gigi memiliki rasa yang tajam, akan tetapi pendapat yang benar adalah boleh bagi orang yang berpuasa untuk menyikat giginya dengan menggunakan pasta gigi, yang ketentuan dia bisa menjaga dari tertelannya air atau bekas pasta gigi yang dia gunakan.
Adapun pendapat di antara para ‘ulamâ dengan tidak dibolehkan menggunakan pasta gigi ketika menyikat gigi bagi orang puasa dengan alasan karena rasa pasta gigi terlalu tajam maka pendapat ini tidaklah tepat. Perlu diketahui bahwa siwak yang masih segar atau masih basah itu lebih tajam rasanya dan terasa pedasnya bila dibandingkan dengan pasta gigi.
Di zaman Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam sudah ada siwak basah yang masih segar, namun tidak ada keterangan dari beliau tentang larangan bersiwak dengan menggunakan siwak yang basah bagi yang berpuasa, bahkan yang ada dari riwayat-riwayat hadîts menunjukkan tentang disunnahkan bersiwak pada setiap waktu dan setiap keadaan, berkata Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:
ﺃَﻛْﺜَﺮْﺕُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴِّﻮَﺍﻙِ
“Aku sudah sangat banyak menganjurkan kalian untuk bersiwak”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dari Anas bin Mâlik Radhiyallâhu ‘Anhu.
Kalau kita melihat kepada fiqih Al-Imâm Al-Bukhârî Rahimahullâh yang berkaitan dengan bersiwak bagi orang puasa maka kita akan dapati bahwa beliau nampak menganjurkan tetap bersiwak bagi orang yang berpuasa, baik dia menggunakan siwak yang basah ataupun yang kering, beliau membuat bâb khusus di dalam kitâb “Shahîh”nya:
بَابُ سِوَاكِ الرَّطْبِ وَالْيَابِسِ لِلصَّائِمِ
“Bâb bersiwak dengan siwak yang basah dan yang kering bagi orang yang berpuasa”.
Setelah membuat bâb tersebut beliau bawakan hadîts-hadîts dan atsar-atsar yang menunjukkan tentang anjuran bersiwak bagi orang yang berpuasa, baik dengan menggunakan siwak basah yang rasanya masih segar, tajam dan pedas ataupun siwak kering yang sudah tidak ada rasanya. Wallâhu A’lam.
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada 13 Ramadhân 1438 di Kemang Pratama Bekasi.