AKIBAT KEBANYAKAN BELAJAR AGAMA LEWAT MEDSOS DARIPADA BERMAJLIS

Pertanyaan:
Bagaimana tanggapan Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir terhadap Hanung yang ia bicarakan di grup Ghibah bahwa Abû Ahmad Khidhir seperti menjauhkan diri dari asâtidzah dan katanya menyendiri dan beberapa pembicaraannya yang lain atas Abû Ahmad Khidhir. Dan kawan grup Ghibahnya bilang juga bahwa jamâ’ah Ustâdz Abû Ahmad Khidhir bahas takfîrî berlebihan?.

Jawaban:
Itulah keadaan mereka yang bergrup-grup dan berkelompok-kelompok, saling bertentangan sikap dan pernyataan, sebagian katakan bahwa kita menyendiri dan sebagian yang lain katakan bahwa kita berjamâ’ah, sebagian lagi katakan kita lapang dalam mendakwahi kelompok sempalan. Menurut mereka itu salah sebagaimana salah pula mengkafirkan, bahkan mereka anggap pengkafiran itu berlebihan.
Tatkala ‘aqîdah shahîhah sebagai perkara terpenting dan paling mendasar mereka kurang perhatian padanya maka seperti itulah akibatnya. Kita tidak yakin terhadap orang seperti mereka itu mendalami ‘aqîdah shahîhah. Andaikan seseorang dari mereka belajar ‘aqîdah yang benar, minamalnya belajar Al-Qawâ’idul Arba’ dan Nawâqidul Islâm dari ahlinya maka dia tidak akan mengingkari perkara pengkafiran. Adapun kalau belajarnya hanya tematik atau sekedar mendengarkan, terlebih lagi belajarnya kepada orang yang menta’wîl-ta’wîl kitâb tersebut hingga menyelisihi maksud dan tujuan penulis kitâb maka seperti itulah jadinya. Tidak heran banyak orang sangat tertarik dan simpati dengan ilmu jarh wa ta’dîl dan senang bicarakan rijâl, semua dibicarakan hingga seperti itu terang-terangan sebutkan grup ghibah yang isinya sesuai namanya karena itulah hakekat mereka. Giliran dihadapkan dengan masalah mengkâfirkan pelaku kesyirikan besar maka dianggap berlebihan. Tidak heran kalau kemudian di antara tokoh mereka menyebutkan bahwa Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb salah dan berlebihan karena mengkafirkan pelaku kesyirikan besar.
Sungguh aneh, orang semisal Hanung jadi topik mereka, orang semisal ini sangat kita kasihankan, baru seusia pepaya dalam mengenal sunnah sudah sibuk bergrup ghibah, kasihan pernah keluarganya menelusuri keberadaannya sampai diisukan hilang, hingga mencarinya dengan menghubungi ke sini. Andaikan orang seperti itu, duduk di majlis ikuti kajian kitâb sampai benar-benar paham meski berulang-ulang tentu itu lebih baik baginya, namun karena pilihannya aktif di grup dan sosmed maka itulah yang membuatnya tersibukkan pada perkara yang kurang bermanfaat untuk dirinya terlebih untuk yang lainnya, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ، تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Termasuk dari kebagusan Islâm pada seseorang adalah dia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.”
Menurut mereka, apa yang mereka sedang lakukan itu seutama-utama manfaat, atau yang mereka tegaskan sebaik-baik jihâd. Namun lihatlah hasil dan manfaatnya dimana? Bisakah membawa seorang saja yang mereka anggap termasuk dari kelompok sempalan untuk ber’aqîdah shahîhah? Atau kalau tidak mungkin, bisakah memanusiakan manusia seperti diri mereka yang merasa kokoh-kokoh?.
Hati-hati jangan sampai seperti beberapa orang semisal mereka belakangan ini yang telah memproklamasikan kemerdekaan dengan mengatakan keluar dari Salaf, setelah melewati waktu yang cukup lama mengaji dan mendakwah melalui media sosial, Wallâhul Musta’ân.

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada malam Selasa 12 Jumâdil Awwal 1444 / 6 Desember 2022 di Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7051