ANTARA RASA TAKUT DAN HARAPAN
Orang kalau hanya memiliki rasa takut terhadap ancaman dari Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ maka akan membuatnya tidak akan banyak melakukan kebaikan, sampai dia memiliki harapan dan cinta terhadap apa yang Allâh ‘Azza wa Jalla janjikan. Oleh karena itu Allâh Tabâraka wa Ta’âlâ selalu menyebutkan rasa takut bersamaan dengan harapan sebagaimana pada perkataan-Nya:
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ یَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ خَوۡفࣰا وَطَمَعࣰا وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ یُنفِقُونَ
“Lambung mereka jauh dari tempat tidur dan mereka selalu berdoa kepada Rabb mereka dengan penuh rasa takut serta harapan, dan terhadap apa yang Kami rezekikan kepada mereka maka mereka menginfakkannya.” [Surat As-Sajdah: 16].
Berkata Ibnul Qayyim Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih:
فَإنَّ الخَوفَ وَحدَهُ لا يُحرِّكُ العَبدَ، وَإِنَّمَا يُحَرِّكُهُ الحُبُّ، وَيَزعَجُهُ الخوفُ، وَيَحدُوهُ الرَّجَاءُ
“Sesungguhnya rasa takut saja tidak akan menggerakan seorang hamba, hanyalah yang menggerakannya adalah rasa cinta, rasa takut yang akan mencemaskannya dan harapan yang akan memotivasinya.”
Fâidah dari Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada hari Sabtu tanggal 8 Rajab 1442 / 20 Februari 2021 di Dârul Qur’ãn wal Hadîts Bekasi.