DIA ADALAH GURUMU

Pertanyaan:
Ustādz, sekarang Ana sedang mengikuti kajian Ustādz pada pelajaran At Tuhfah As Sālimiyyah fī Syarhi Matni Al Ãjurrūmiyyāh. Apakah dengan mengikuti kajian lewat channel telegram ini jadi boleh Ana mengakui Ustādz sebagai guru Ana walau Ana belum pernah jumpa Ustādz karena daerah berjauhan sekali?.

Jawaban:
Boleh bagi siapa pun yang hidup sezaman dengan seseorang untuk mengakuinya sebagai gurunya tatkala dia telah mendapatkan faedah ilmu darinya, jika dia mendapatkan ilmu darinya melalui surat menyurat atau melalui media seperti pada zaman sekarang ini maka boleh dia mengakuinya sebagai gurunya. Kalau kemudian ada yang mempermasalahkan maka tinggal menerangkan kepadanya bahwa dia berguru kepadanya melalui media yang ada. Adapun orang yang pernah berjumpa dengannya atau bisa belajar langsung kepadanya, meskipun hanya sekali bertatap muka, kemudian dia memanfaatkan sarana dan media seperti membaca tulisan-tulisannya atau mengikuti kajian-kajiannya lewat media yang ada maka tidak mengapa dia langsung mengakui sebagai gurunya, Asy Syaikh Ibnu Bāzz pernah berkata:

فَإِنَّ صَاحِبَ الحِلْقَةِ العِلمِيَّةِ أَو خُطبَةِ الجُمعَةِ شَيخٌ لِلسَّامِعِينَ، فَهٰذَا لَا يُقَالُ: إِنَّهُ لَيسَ بِشَيخٍ لَهُمْ

“Karena sungguh orang yang menyampaikan ilmu di majlis ilmu atau menyampaikan khutbah pada hari Jum’at itu adalah guru bagi orang-orang yang mendengarkannya. Dan orang ini tidak dikatakan bukan guru mereka.”
Apa yang dipahami dari perkataan tersebut bahwa orang itu adalah guru mereka.
Dan kita nasehatkan kepada saudara-saudari kita yang mencintai ilmu untuk memiliki periwayatan dan faedah-faedah ilmu, yang nantinya dia bisa meriwayatkan atau menyebutkan kepada orang lain bahwa itu dari gurunya, sehingga itu menjadi pengenang dan tanda hubungan baik antara seseorang dengan gurunya, semoga Allâh merahmati kita dan merahmati guru-guru kita.

[Abū Ahmad Muhammad Al Khidhir pada hari Ahad, 18 Shafar 1448 / 2 Agustus 2026 di Cipancur Klapanunggal Bogor].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/14689