DUA BIMBINGAN BAGI ORANG YANG MERINDUKAN TEMAN SEJATI

Pertanyaan:
Ustâdz mohon bimbingannya supaya saya tidak salah terus dalam berteman, karena saya ini sudah banyak mengikuti nasehat Ustâdz-ustâdz dan Syaikh-syaikh, semuanya menasehatkan supaya jauhi teman-teman yang bukan salafî, saya diarahkan untuk berteman dengan yang salafî, saya coba tetap saja saya dapati seperti dulu, salah berteman.

Jawaban:
Ada dua bimbingan yang perlu kamu ketahui, yang kebanyakan manusia lalai pada salah satu dari keduanya, bila kita melihat kepada kebanyakan orang maka sungguh mereka hanya mengikuti satu bimbingan saja, yaitu “bertemanlah dengan teman yang shâlih dan jangan berteman dengan yang tidak shâlih”.

Tanpa ada keraguan bahwa bimbingan ini adalah benar sebagaimana yang telah dicontohkan oleh seorang ‘âlim di zaman dahulu, ketika beliau membimbing seorang pembunuh 100 jiwa, beliau berkata kepadanya:

انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ

“Pergilah kamu ke negeri itu dan ke negeri itu, karena sungguh pada negeri itu ada sekelompok manusia yang mereka beribadah kepada Allâh maka beribadahlah kamu kepada Allâh bersama mereka beribadah kepada Allâh, dan janganlah kamu kembali ke negerimu karena sungguh negerimu adalah negeri jelek”. Riwayat Muslim (no. 7184).

Namun bimbingan ini belum cukup, seseorang terkadang merasa bergembira karena sudah berkumpul dengan orang-orang yang nampak shâlih, dia senang karena berada di tengah-tengah mereka, namun ternyata setelah itu dia mendapatkan sesuatu keganjalan, kejelekan dan perlakuan yang tidak baik dari mereka.

Kenapa terjadi seperti itu? Bisa jadi, dia belum melakukan suatu bimbingan yaitu shalat dua raka’at lalu berdoa kepada Allâh supaya Allâh memberikan kepadanya teman yang shâlih, karena hanya Allâh Yang mengetahui tentang teman yang shâlih secara lahir dan secara batinnya, ‘Alqamah Rahimahullâh pernah bercerita:

قَدِمْتُ الشَّأْمَ فَصَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ قُلْتُ: اللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي جَلِيسًا صَالِحًا، فَأَتَيْتُ قَوْمًا فَجَلَسْتُ إِلَيْهِمْ، فَإِذَا شَيْخٌ قَدْ جَاءَ حَتَّى جَلَسَ إِلَى جَنْبِي، قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالُوا أَبُو الدَّرْدَاءِ. فَقُلْتُ إِنِّي دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُيَسِّرَ لِي جَلِيسًا صَالِحًا فَيَسَّرَكَ لِي

“Ketika aku sudah sampai di Syâm maka aku shalat dua raka’at, kemudian aku berdoa: “Yâ Allâh mudahkanlah untukku berteman dengan teman yang shâlih”, kemudian aku mendatangi suatu kaum lalu aku duduk dengan mereka, ternyata seorang syaikh datang hingga duduk di sampingku, akupun bertanya: “Siapa orang ini? Maka mereka menjawab:” Beliau adalah Abud Dardâ'”. Kemudian aku berkata: “Sungguh aku telah berdoa kepada Allâh supaya Dia memudahkan untukku berteman dengan teman yang shalih maka Dia pun memberi kemudahan kepadaku denganmu”. Riwayat Al-Bukhârî (no. 3742).

Di antara orang-orang yang kami cintai karena Allâh telah mengamalkan bimbingan ini, sehingga nampak kebaikan dan kesyukurannya kepada Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ, Walhamdulillâh.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada 8 Rabî’ul Awwal 1439 di Kemang Pratama Bekasi.

⛵ http://t.me/majaalisalkhidhir