INFAQ YANG PALING UTAMA
Pertanyaan:
Ustadz, pernyataan seseorang yang tidak mau berta’awun di dalam dakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan enggan ikut andil di dalamnya dengan alasan bersedekah kepada keluarga lebih utama?.
Jawaban:
Dikatakan lebih utama kalau dia tidak memiliki sesuatu yang dia bisa sedekahkan kecuali hanya sesuatu yang bisa dia berikan kepada keluarganya dan keluarganya memang membutuhkan sekali, pernah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan seseorang untuk memberikan sedekah yang diserahkan kepadanya, dia pun mengatakan:
أعَلَى أفْقَرَ مِنَّا
“Apakah kepada orang yang lebih fakir dari kami?!.”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersenyum lalu beliau berkata:
أطْعِمْهُ عِيَالَكَ
“Beri makanlah dengannya kepada keluargamu.”
Adapun kalau memiliki lebih atau bisa dibagi sesuai kebutuhan, sebagian untuk keluarga dan sebagian lagi untuk fi Sabilillah maka tentu lebih utama, berkata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
أَفْضَلُ دِينارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ، دِينارٌ يُنْفِقُهُ علَى عِيالِهِ، ودِينارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ علَى دابَّتِهِ في سَبيلِ اللهِ، ودِينارٌ يُنْفِقُهُ علَى أصْحابِهِ في سَبيلِ اللَّهِ
“Seutama-utama dinar adalah seseorang menginfakkannya, sedinar dia menginfakkannya untuk keluarganya, sedinar seseorang menginfakkannya untuk kendaraannya di jalan Allah dan sedinar dia menginfakkannya untuk kawan-kawannya di jalan Allah.”
Dahulu Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu sangat mampu untuk mensejahterakan keluarganya, beliau mampu untuk memakmurkan ‘Aisyah Ash-Shiddiqah Radhiyallahu ‘Anhuma, namun ternyata beliau juga perhatian terhadap fi Sabilillah.
[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].