ISTIGHFÂR PARA HAMBA ALLÂH YANG MEREKA SELALU BERBUAT SALAH

Pertanyaan:
Ustâdz mohon bimbingannya, saya sebagai hamba Allâh yang biasa bikin dosa, saya berjihâd meninggalkan dosa-dosa tapi masih saja mengulangi, saya menangis dan selalu berucap istighfâr tapi sehabis itu saya lalai lalu bikin dosa lagi. Apakah betul saya pendusta dalam bertaubat? Apakah betul saya ini istighfârnya tidak diterima karena hanya dibibir saja? Mohon Ustâdz bimbingannya, terima kasih Ustâdz, Ustâdz minta tolong doain saya Ustâdz, saya takut. Saya dapat faedah ilmu dari kata ‘ulamâ bahwa perbuatan saya dusta, hanya dibibir saja, saya jadi tambah takut, apakah dengan begitu saya tidak perlu lagi istighfâr? Yâ Allâh?. Mohon Ustâdz bimbingannya supaya hati saya ini tenang? Yâ Allâh tolong!.

Jawaban:
Saudaraku semoga Allâh mengampuni kami dan mengampunimu, siapa yang tidak berbuat dosa?! Siapa yang tidak menzalimi dirinya sendiri?. Ketika sampai perkataan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ kepada para shahabat:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan mereka tidak mencampur adukan keimanan mereka dengan kezhaliman maka bagi mereka keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” [Al-An’âm: 82].
Maka para Shahabat berkata kepada Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

أينا لم يظلم

“Siapa di antara kita yang dia tidak berbuat zhâlim?.”
Mereka menyadari bahwa setiap anak keturunan Ãdam pasti akan terjatuh ke dalam kezhaliman kecuali para Nabî dan para Rasûl. Dengan demikian merekapun merasa berat ketika ayat tersebut dibacakan kepada mereka, kemudian Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam meluruskan pemahaman mereka dengan berkata:

إنه ليس بذاك، ألا تسمعون إلى قول لقمان لابنه: إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya bukanlah demikian, tidakkah kalian mendengarkan perkataan Luqmân kepada puteranya: “Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang besar.” [Luqmân: 13].

Saudaraku semoga Allâh menerima taubat kami dan taubatmu, tetaplah kamu beristighfar dan berupayalah untuk meninggalkan segala perbuatan dosa, senantiasalah beristighfâr dan yakinlah bahwa istighfârmu itu akan bermanfaat, bukankah Allâh Ta’âlâ tidak akan menyiksa hamba-hamba-Nya yang beristighfâr kepada-Nya?!:

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Tidaklah keberadaan Allâh akan menyiksa mereka sedangkan mereka beristighfar.” [Al-Anfâl: 33].

Saudaraku ketahuilah semoga Allâh melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kami dan kepadamu bahwa istighfâr adalah suatu kebaikan yang akan menghapus kesalahan, berkata Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

واتبع السيئة الحسنة تمحها

“Susullah kejelekan dengan kebaikan maka kebaikan itu akan menghapus kejelekan.”

Dengan demikian janganlah kamu berputus asa, selama kamh masih terus berusaha untuk beramal kebaikan dan berupaya meninggalkan kejelekan maka istighfârmu itu akan bermanfaat, selama kamu masih beriman dan bukan munâfiq maka istighfârmu itu akan bermanfaat. Yakinlah bahwa istighfârmu akan bermanfaat, ambillah pelajaran wahai saudaraku dengan kisah pembunuh 99 jiwa, beliau berusaha mencari taubat, beliau menyesali perbuatan dosanya dan beliau bertanya ke sana kemari, setelah beliau bertanya kepada seorang ahli ibadah ternyata jawabannya tidak memberi solusi yang tepat beliaupun membunuhnya, kesalahanpun berulang dan dosapun semakin bertambah banyak. Apakah kemudian dinyatakan tidak bermanfaat usaha dan upayanya dalam mencari taubat? Ternyata bermanfaat, hingga pada akhir usaha dan upayanya:

فقبضته ملائكة الرحمة

“Malaikat Rahmah menerima beliau.”

Saudaraku semoga Allâh mengampuni kami dan mengampunimu, permasalahan yang semisal dengan pengucapan istighfâr ini adalah shalatnya orang yang selalu berbuat dosa, disampaikan kepada Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam tentang salah seorang dari Shahabatnya, pada malam hari Shahabat tersebut shalat tahajjud dan pada siang harinya berbuat dosa, maka Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa shalatnya itu akan mencegahnya dari perbuatan dosa, yakni akan bermanfaat untuknya, lalu Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam membaca ayat:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” [Al-‘Ankabût: 45].

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada 4 Jumâdal Akhîrah 1438 di Binagriya Pekalongan.

⛵
https://t.me/majaalisalkhidhir/184