JANGAN MENGHARDIK ORANG YANG MINTA-MINTA

Pertanyaan:
Ustâdz, izin nanya: Apa betul kalau setiap orang minta-minta itu hizbî dan tidak boleh diberi, karena tergolong menolong dalam dosa, katanya dalîlnya itu firman Allâh Ta’âlâ: “Jangan kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan”?.

Jawaban:
Orang yang meminta-minta itu berbeda-beda, jika tidak jelas dan tidak nampak dia meminta-minta sebagai profesi dirinya atau untuk bergantung pada meminta-minta maka hukum asalnya kita memberinya jika kita memiliki kesanggupan, ini yang telah diamalkan oleh para Salaf. Adapun kalau hanya berdasarkan dugaan saja, bisa jadi dia orang bergantung pada minta-minta atau mencari keuntungan untuk dirinya maka dugaan seperti ini abaikanlah. Jangan sampai berdasarkan dugaan lalu menghardik orang yang meminta-minta, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:

وَأَمَّا ٱلسَّاۤئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ

“Adapun orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya.” (Adh-Dhuhâ: 10).
Bagaimana setiap orang yang meminta-minta akan dihardik sementara Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ telah menyebutkan bagian untuk yang meminta-minta:

فَاِذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَـرَّ

“Apabila telah rebah (hewan qurbân kalian), maka makanlah oleh kalian dari sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta-minta.” (Al-Hajj: 36).

Alhamdulillâh Salaf kita Nabiurrahmah ‘Alaihish Shalâtu was Salâm telah mencontohkan, beliau memberi orang yang datang meminta kepadanya tatkala beliau memiliki apa yang diminta, berkata Hakîm bin Hizâm Radhiyallâhu ‘Anhu:

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي

“Aku meminta Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, beliaupun memberiku.”
Shahabat yang mulia ini meminta kepada Nabî Shallallâhu Alaihi wa Sallam bukan sekali, tapi beberapa kali. Dan pada kali yang terakhir Nabî Shallallâhu Alaihi wa Sallam tetap memberinya hanya saja beliau ikutkan dengan nasehat, barangkali supaya mencegah jangan sampai Shahabat tersebut menjadi bergantung pada meminta-minta atau menjadikan sebagai profesinya, beliau katakan kepadanya:

يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ، الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Wahai Hakîm, sungguh harta itu hijau (menyejukkan pandangan) dan manis (menyenangkan), barangsiapa mengambilnya dengan kelapangan hati (orang yang memberi) maka akan diberkahi padanya, dan barangsiapa mengambilnya dengan ketamakan hati maka tidak akan diberkahi padanya, seperti orang yang makan tapi tidak akan pernah merasa kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”
Dengan sebab nasehat tersebut membuat Al-Hakîm Radhiyallâhu ‘Anhu sadar sampai berkata dengan bersumpah:

يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لاَ أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا

“Wahai Rasûlullâh, demi Allâh yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan mengurangi hak seorangpun yang meminta setelah engkau hingga aku meninggalkan dunia ini”. 

Dijawab oleh:
Abû Ahmad Al-Khidhir pada malam Selasa, 6 Rabî’ Ats-Tsânî 1444 / 1 November 2022 di Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/6940