JANGAN PERNAH MENGABAIKAN TANGGUNG JAWAB

Pertanyaan:
Seorang ummahât menyebutkan tentang keadaan rumah tangganya -semoga Allâh memperbaiki rumah tangganya-, bahwa selama ini beliau yang membiayai kehidupan rumah tangga dan mengurusi anak. Adapun suaminya tersibukkan dengan HP, aktif di dalam arena tahdzîr, selesai shalat selalu berhadapan dengan HP. Walaupun beliau sudah mengingatkan suaminya namun suaminya tidak perduli.

Jawaban:
Kita menasehatkan dan memperingatkan kepada suami tersebut untuk bertaqwâ kepada Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ dan hendaklah dia malu kepada Allâh ‘Azza wa Jalla, bukankah Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ telah menjadikannya sebagai penanggung jawab, pemegang urusan dan pemimpin rumah tangga?

ٱلرِّجَالُ قَوَّ ٰ⁠مُونَ عَلَى ٱلنِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضࣲ

“Para lelaki adalah pemimpin bagi para wanita terhadap apa yang telah Allâh beri keutamaan kepada sebagian mereka terhadap sebagian yang lain.” [Surat An-Nisâ’: 34].

Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ telah menjadikannya sebagai pemimpin, penanggung jawab dan pengatur urusan rumah tangga, namun dia hanya membebankannya kepada isterinya. Lebih dari itu kalau dia ternyata di bawah pembiayaan isterinya, maka hendaklah dia malu kepada isterinya, apalagi isterinya sudah mengingatkannya namun dia tetap tidak perduli.
Kita khawatirkan dia benar-benar terfitnah dengan HP, karena sungguh betapa banyak orang-orang yang terfitnah dengan HP merasa di atas kebaikan dan ilmu, merasa puas dengan fâidah ilmu yang di dapatkan lewat HP. Sampai pernah seseorang yang benar-benar sangat jauh dari majlis ilmu namun dia menampakkan seakan-akan dâ’î. Melalui HP, dia masuk ke arena tahdzîr dengan membuat tulisan-tulisan lalu menebarkan berbagai fitnah dengan nama samaran, kemudian memunculkan nama aslinya ke kita sambil memuji-muji nama samarannya dan berpura-pura menanyakan apakah orang yang bernama tersebut seorang dâ’î?.
Orang semacam ini, kalau HP yang dia miliki, dia pergunakan untuk bekerja di dunia online sehingga bisa membiayai dirinya dan orang-orang yang di bawah tanggung jawabnya maka itu lebih baik baginya daripada dia mempergunakannya atas nama mencari fâidah ilmu namun melalaikannya dari kewajiban-kewajibannya, terlebih lagi sampai menjerumuskannya ke arena yang dia tidak berkapasitas di dalamnya.
Jangankan yang pengangguran dan yang jauh dari majlis ilmu, yang jadi santri pun terkadang terfitnah dengan HP, tersibukkan dengan HP, sehingga lalai dari pelajaran-pelajarannya. Sibuk berhadapan dengan HP, ikuti channel dan grup sana sini, aktif di media sosial hingga banyak pelajaran terlalaikan dan tidak memahaminya, pada akhirnya pergi dan menjauh dari majlis ilmu, lalu jadilah dia seperti yang disebutkan:

وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ، فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

“Adapun seorang lagi maka dia berpaling, lalu Allâh berpaling darinya.” Riwayat Al-Bukhârî.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada hari Kamis 15 Jumâdal Ãkhirah 1442 / 28 Januari 2021 di Dârul Qur’ãn wal Hadîts Bekasi.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/5241