JANGAN SAMPAI DIRIMU MENIPUMU
Berbuat dosa besar atau pun dosa kecil sudah pasti semuanya dicatat [Lihat Surat Al-Kahfi ayat 49]. Sementara beristighfar dari dosa supaya mendapatkan ampunan belum pasti bisa mendapatkannya. Oleh karena itu, para Salaf dahulu tidak merasa cukup dengan istighfarnya mereka sendiri, mereka tambah dengan meminta kepada orang shalih yang masih hidup untuk beristighfar (memohonkan ampun kepada Allah) buat mereka, di antara mereka adalah sepuluh saudara Al-Karim Yusuf ‘Alaihimush Shalatu was Salam:
قَالُوا۟ یَـٰۤأَبَانَا ٱسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَاۤ إِنَّا كُنَّا خَـٰطِـِٔینَ
“Mereka (sepuluh putera Israil) berkata: Wahai ayah kami, beristighfarlah untuk kami terhadap dosa-dosa kami, sungguh kami adalah orang-orang yang telah berbuat dosa.” [Surat Yusuf: 97].
Sungguh betapa tertipu dengan diri sendiri kalau orang semisal kita ini merasa telah mendapatkan ampunan?!. Para Salaf dari kalangan Ahlul Badr saja sudah mengetahui sendiri dari wahyu yang terucap melalui lisan Nabiuttaubah ‘Alaihish Shalatu was Salam:
اعمَلوا ما شِئتُم فقد غَفَرتُ لَكُم
“Berbuatlah sesuka kalian, karena sungguh Aku (Allah) telah memberi ampunan kepada kalian.”
Akan tetapi di antara mereka (Ahlul Badr) ternyata masih merasa butuh dengan istighfar dan bahkan sebagian mereka masih sangat takutkan diri mereka dari kemunafikan, berkata Ibnu Abi Mulaikah:
أدركت ثلاثين من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم كلهم يخاف النفاق على نفسه
“Aku mendapati tiga puluh orang dari kalangan para Shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, setiap mereka takutkan kemunafikan ada pada dirinya.”
[Muhammad Al-Khidhir ‘Afallahu ‘Anhu (Senin, 3 Syawwal 1447 / 23 Maret 2026) di Bogor].
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1993
⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir/13812