MENTAHDZIR KARENA ALASAN MEMUJI AHLI AHWÂ, BERANIKAH MENTAHDZÎR PANUTAN MEREKA?

Sudah kita sebutkan berkali-kali bahwa penerapan manhaj yang dilakukan oleh salafiyyûn tsâbitûn tidak akan pernah berakhir, mudah sekali saling menjuluki di antara mereka sebagai ahli ahwâ lantaran suatu perkara yang mereka perselisihkan. Demikian pula saling tahdzîr mentahdzîr di antara mereka lantaran perkara yang tidak sampai diributkan oleh para Salaf, semisal menyebut nama seseorang disertai gelar atau julukannya, menurut mereka ini tidak boleh kecuali hanya kalangan mereka atau yang sejalan dengan mereka, menyebut nama seseorang disertai gelar atau julukannya ini sama halnya memujinya menurut mereka, sehingga di antara guru mereka yang mengajar dan membimbing mereka bertahun-tahunpun tatkala sudah mereka selisihi maka tidak boleh lagi disebut gelar atau julukannya, siapa yang menjulukinya atau menyebut gelarnya maka mereka permasalahkan, dibawa-bawa ke perkara yang mereka namai perkara manhaj. Terlebih lagi kalau memuji tokoh tertentu yang mereka bid’ah-bid’ahkan maka mereka jadikan itu sebagai hujatan pemusnah terhadap orang yang memuji, mereka akan singkirkan sejauh-jauhnya orang yang memuji tersebut dengan alasan menyelisihi manhaj salaf mereka, tatkala diberitahu bahwa salaf atau panutan mereka semisal Syaikh Al-Albânî telah memuji Hasan Albannâ maka mereka akan membuat pengalihan atau akan menganggapnya tidak masalah baginya. Sungguh sangat jelas Syaikh Al-Albânî katakan:

انظر حسن البنا يقول كلمة ‌كأنها ‌وحي السماء

“Lihatlah kepada Hasan Albannâ, dia mengatakan suatu perkataan seakan-akan itu adalah wahyu dari langit.”
Syaikh Al-Albânî juga mengatakan:

كلام عندي في منتهى الحكمة حتى لا أكون مبالغًا أنه لو كان هناك ‌وحي بعد رسول الله لقلت: هذا من ‌وحي السماء

“Perkataan Hasan Albannâ ini adalah perkataan yang menurutku puncaknya hikmah, tentu perkataanku tidak berlebihan kalau di sana ada wahyu setelah wafatnya Rasûlullâh aku katakan: Perkataan Hasan Albannâ ini termasuk wahyu dari langit.”

Luar biasa pujian seperti ini, hampir kita tidak dapati ‘ulamâ jarh wa ta’dîl di zaman Salaf mengatakannya kepada seorang perawî, terlebih mengatakannya kepada pimpinan firqah semisal Hasan Albannâ ini.

Sering kita katakan bahwa salafiyyûn tsâbitûn dalam masalah muji memuji membuat mereka semakin berselisih hingga terus berpecah belah, demikian pula pada masalah ghibah menghibahi, di kalangan mereka biasa mengghibahi orang yang dianggap menyimpang atau tersesat dari manhaj mereka, dan mereka mengganggap bahwa menghibahinya itu termasuk boleh, bahkan menganggapnya seutama-utama amalan menurut mereka. Namun giliran mereka dighibahi dan yang menghibahi beranggapan sama seperti anggapan mereka yaitu boleh mengghibahi maka membuat mereka sangat marah, hingga di antara mereka membuat tulisan tidak akan menerima pembuat ghibah lagi.

(Muhammad Al-Khidhir).

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7996