MENYIKAPI ORANG BODOH

Pertanyaan:
Ustâdz, minta izin bertanya lagi, bagaimana baiknya menyikapi orang bodoh? Apakah perlu ditanggapi setiap ulahnya?

Jawaban:
Tidak perlu menanggapi orang bodoh, tapi biasanya kalau tidak ditanggapi dia akan tetap menampakkan dirinya seperti orang berilmu dan dia tidak akan merasa bodoh, sehingga dia akan terus berulah. Ketika nampak kebodohannya atau ditampakkan kebodohannya lalu dia merasa semakin lemah untuk berargumen maka dia akan mengumumkan niatnya ingin sekali menuntut ilmu. Niat seperti ini sudah sering kita dengarkan dari para pembuat gaduh di tengah umat. Kalaupun bisa mewujudkan niatnya menuntut ilmu, tidak lama kemudian akan muncul lagi dalam berulah, mendekati orang berilmu dan menebarkan berbagai argumennya kepada orang-orang yang lebih bodoh darinya untuk mencari pendukung, ketika dia merasa tidak bisa lagi, maka dia umumkan lagi niatnya ingin menuntut ilmu, kalaupun masih bisa menuntut ilmu tidak lama kemudian berulah lagi, sehingga keberadaannya seperti yang disebutkan di dalam hadîts:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Barangsiapa menuntut ilmu supaya sejajar dengan orang-orang berilmu atau untuk menimpakkan argumen kepada orang-orang lebih bodoh atau supaya menarik perhatian manusia kepadanya maka Allâh akan memasukkannya dalam Neraka.” Riwayat At-Tirmidzî.

Belum dapat menuntut ilmu sebagaimana umumnnya para penuntut ilmu saja sudah berani mengajak aduk argumen dan berupaya menarik perhatian manusia dengan ingin menyaingi atau mensejajarkan dirinya dengan orang berilmu.
Kita tidak khawatirkan orang berilmu jika memang dia terjatuh kepada kesalahan, karena terkadang keberadaannya tersamarkan terhadap perkara, jika kemudian dia salah maka mudah-mudahan dia dimaafkan oleh Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ, dan kita doakan mudah-mudahan kita bersamanya dimaafkan oleh Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ إِن نَّسِینَاۤ أَوۡ أَخۡطَأۡنَا

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kamu lupa atau kami keliru.” [Surat Al-Baqarah: 286].

Adapun orang bodoh maka sangat kita khawatirkan, meskipun niatnya baik dalam berbuat, meskipun dia tidak maksudkan untuk membuat gaduh, namun karena kebodohannya maka kegaduhan dan kerusakanpun terjadi, sungguh benar seperti yang disebutkan:

مَنْ عَمِلَ عَلى غَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

“Barangsiapa berbuat di atas selain ilmu maka kerusakannya itu lebih banyak daripada kebaikannya.”

Di zaman sekarang banyak orang yang diharapkan kebaikan mereka karena memiliki ilmu, namun karena ulah yang diperbuat oleh orang-orang bodoh kepada mereka maka orang-orang berilmu itupun pergi, karena merasa tidak sanggup kumpul dengan orang-orang bodoh yang merasa berilmu itu, terkadang orang-orang berilmu diundang namun hanya dicicipi saja ilmu mereka atau ingin dituntun dan ditundukkan oleh mereka. Setelah itu mereka lebih senang tidak bersama orang-orang berilmu, sehingga jadilah mereka semakin merasa berilmu, Nas’alullâhas Salâmata wal ‘Âfiyah.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada hari Sabtu tanggal 15 Syawwâl 1441 / 6 Juni 2020 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/4654