MENYIKAPI TAHDZIRAN SERAMPANGAN
Pertanyaan:
Perpecahan sekarang ini masalah manhaj yâ Ustâdz, terus bagaimana menilai manhaj orang yang mengatakan: “Beliau itu sudah ditahdzîr?!” Sekarang manhaj ini sedang ramai-ramainya disuarakan, sampai-sampai dilaksanakan: “Tinggalkan dia, jangan ambil ilmunya”. Bagaimana ini Ustâdz menjawabnya?.
Jawaban:
Kalau diambil secara mutlak pendapat “Fulân sudah ditahdzîr, dia ini sudah ditahdzîr” maka seseorang tidak akan bisa beragama dengan benar, dia tidak akan bisa memperoleh ilmu agama, kitâb “Shahîh Al-Bukhârî”pun tidak boleh dibaca, tidak boleh dipelajari, tidak boleh disebar dan tidak boleh diamalkan, kenapa? Karena penulisnya telah ditahdzîr oleh gurunya sendiri, Al-Imâm Al-Bukhârî penulis kitâb tersebut telah ditahdzîr dan bahkan sampai dihajr oleh gurunya sendiri yaitu Al-Imâm Adz-Dzuhlî semoga Allâh merahmati kita dan merahmati keduanya.
Begitu pula Imâm Dâril Hijrah Mâlik bin Anas semoga Allâh merahmati kita dan beliau telah ditahdzîr pula oleh Al-Imâm Ibnu Ishâq, juga sebaliknya Imâm Dâril Hijrah mentahdzîr Al-Imâm Ibnu Ishâq bahkan sampai dihajr dan diusir, beliau katakan tentangnya:
ذاك دجال من الدجاجلة
“Itu adalah Dajjâl dari para Dajjâl.”
Jadi, kalau diambil dan diamalkan secara mutlak pendapat “Fulân sudah ditahdzir, dia sudah ditahdzîr” maka tidak seorangpun selamat, yang berpendapat begitu juga telah ditahdzîr, syaikh yang mentahdzîr juga ditahdzîr, semua sudah ditahdzîr, bukan hanya Al-Limborî yang ditahdzîr tapi yang mentahdzîr Al-Limborî juga ditahdzîr. Tidak seorangpun di zaman ini yang dikatakan sebagai orang yang memiliki ilmu melainkan telah ditahdzîr.
Dengan demikian, kalau seseorang hanya sekedar mengambil pendapat “Beliau sudah ditahdzîr” maka pasti dia tidak akan bisa beragama dengan benar, Nabî kita Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam telah ditahdzîr oleh pamannya sendiri, dikatakan bahwa beliau pendusta, jangan dibenarkan ucapannya…
Alhamdulillâh orang yang diberi taufíq oleh Allâh berupa rasa inshâf dan kejujuran tidak akan menelan mentah-mentah pendapat “Fulân sudah ditahdzîr” dan tidak pula terburu-buru bertindak, namun dia membuka mata dan pendengarannya untuk melihat hakekat yang ada, dia selalu berdoa kepada Allâh supaya dibukakan mata hatinya dan di lapangkan dadanya untuk menerima kebenaran.
Para imâm, para syaikh, para ustâdz, para kyai, para dâ’î, para penuntut ilmu tidaklah keberadaan mereka ma’sûm (terjaga dari dosa), mereka juga salah dalam berpendapat, berprinsip dan bersikap. Dengan demikian kita dituntut untuk mengikuti kebenaran, dan kebenaran itu hanya dari Al-Qur’ãn dan As-Sunnah, berkata guru kami Asy-Syaikh Abû Usâmah ‘Âdil bin Muhammad Al-Yamanî semoga Allâh merahmati kami dan beliau:
إن الحق لله ورسوله وأن ما عداهما
مأخوذ من قوله ومتروك
“Sesungguhnya kebenaran adalah milik Allâh dan Rasûl-Nya, dan sesungguhnya apa yang selain keduanya diambil dari perkataannya dan ditinggalkan.”
Walaupun kita melihat begitu tegasnya Al-Imâm Mâlik dalam ucapan dan tahdzîran beliau kepada Al-Imâm Ibnu Ishâq semoga Allâh merahmati kita dan merahmati keduanya namun tidaklah beliau mewajibkan untuk memegang dan mengikuti perkataan beliau, bahkan beliau menasehatkan:
كلٌّ يؤخذ من قوله ويُرد إلا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم
“Setiap orang diambil dari perkataannya dan ditolak kecuali Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa ‘Alâ Alihi wa Sallam.”
Di dalam suatu riwayat beliau berkata:
إلا صاحب هذا القبر، وأشار إلى قبر رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم
“Kecuali penghuni kubur ini”, beliau mengisyaratkan ke kuburan Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa ‘Alâ Alihi wa Sallam.”
Alhamdulillâh para ‘ulamâ yang sesungguhnya, yang mereka ahli dalam masalah keilmuan, mereka tidaklah mengajarkan untuk taqlîd kepada mereka, mereka membimbing umat supaya tidak ikut-ikutan, tidak membeo dan tidak membebek kepada mereka atau kepada orang tertentu, namun mereka selalu menasehatkan agar mengikuti dalîl dari Al-Qur’ãn dan As-Sunnah.
Demikianlah hakekat orang-orang yang dikatakan sebagai ahlul ilmi, adapun orang yang bukan dari ahlul ilmi maka sangat mudah untuk taqlîd, apa kata gurunya, apa kata kyainya, apa kata ustâdznya, apa kata syaikhnya langsung diterima dan diamalkan walaupun tidak di atas kebenaran, dan demikian itulah hakekat orang yang taqlîd, tidaklah berguna dan bermanfaat gelarnya yang panjang dan menjulang tinggi kalau keberadaannya hanya sebagai orang yang taqlîid saja, Al-Imâm Ibnu Qayyim semoga Allâh merahmati kita dan beliau menukilkan ijmâ’ Ahlil ‘ilmi:
إن المقلد ليس بعالم
“Sungguh orang yang taqlîd bukanlah orang yang berilmu.”
Yang menjadi keharusan dan kewajiban bagi kita adalah mengikuti kebenaran yang ada di dalam Al-Qur’ãn dan As-Sunnah, berkata Allâh Ta’âlâ:
اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
“Ikutilah oleh kalian terhadap apa-apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti para wali dari selain-Nya. Sangatlah sedikit kalian mengambil pelajaran.” [Al-A’râf: 3].
Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada 21 Jumâdal Ûlâ 1438 di Karangtengah Cilacap.