MURID MENGANGGAP BAIK KEDURHAKAANNYA

Pertanyaan:
Ustâdz mohon solusinya atas ucapan-ucapan Afiq pada Ustâdz dan yang dia publikasikan di channelnya soal tanya jawab, tidakkah lebih baik didiamkan saja?

Jawaban:
Mendiamkan orang yang sedang dalam keadaan tidur atau dalam keadaan tidak sadar itu lebih baik, namun kalau dia sedang siuman lalu kita mendiamkannya maka dia akan semakin berbuat.
Pernah kita dapati orang yang mengaku sebagai salafî berbuat licik, yang kita merasa belum pernah dapati namun ternyata ada yang lebih licik darinya yaitu Afiq alias Abû Taimiyah. Tatkala ingin pindah dari pondok Purworejo meminta ke kita dengan baik-baik untuk menjadi santri di Majâlis dan kita persilahkan, setelah sampai di Majâlis kita terangkan tentang masjid Al-Kautsar, dan kita terangkan pula bahwa kita rencana ingin memiliki tempat sendiri namun belum berkemampuan. Setelah sebulan di Majâlis, kita dengarkan dari kawannya bahwa dia ingin balik ke pondok Purworejo, kita pun langsung temui, kita katakan kepadanya kalau ingin pindah silahkan. Dia pun mengemukakan alasannya bahwa dia kasihan terhadap kita nanti tidak ada yang membantu mengajari anak-anak kampung yang belajar baca Al-Qur’ãn, kita katakan tidak mengapa, Insyâ Allâh kita masih bisa. Kita mengira dia akan segera pindah, karena kita pun merasa tidak betah, ingin juga pindah tempat. Hari berganti hari, pekan berganti pekan, hingga bulan berganti bulan dia masih berpegang kepada ucapannya ingin mengajari anak-anak kampung. Semua anak-anak kampung yang belajar baca Al-Qur’ãn ke kita yang dia namai gadis-gadis awam kemudian menjadikannya sebagai hujatan atas kita, hujatannya pun dia lampiaskan di saat kita Alhamdulillâh sudah pindah tempat dan sudah mengambil solusi untuk lepas dari masalah:

رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسۡرَافَنَا فِیۤ أَمۡرِنَا

“Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami.” [Surat Ãli ‘Imrân: 147].

Kita sudah mengetahui keadaan Afiq ini setelah berbulan-bulan di Majâlis dan kita mengharapkan sebaiknya dia pindah, sebagaimana kita juga memiliki harapan untuk segera pindah tempat. Lebih mengherankan tidak ingin pindah, tenyata dia sedang dalam penantian, setelah mendapatkan apa yang dia nanti-nanti baru melampiaskan dan menampakkan apa yang dia sembunyikan, Wallâhul Musta’ân.

Di antara bentuk kelicikan Afiq alias Abû Taimiyah ini, penyebutannya bahwa apabila kita berhalangan untuk khutbah maka kita meminta dâ’î-dâ’î yang dia hizbîkan untuk menggantikan kita, kalau dia jujur tidak akan mungkin menyebutkan seperti ini, padahal dia sendiri mempersaksikan bahwa pemilik masjid Al-Kautsar meminta kepadanya untuk dia yang khutbah jika kita berhalangan, namun dia tidak bisa, bukan karena kesibukan ada padanya namun karena memang dia tidak berkapasitas dan tidak mampu untuk khutbah, namun berani menampakkan diri sebagai juru dakwah dan pemilik channel Al-Hujjah, yang tanpa malu memuat fâidah dengan beri judul “Murid Durhaka”, ternyata dia menampakkan hakekat dirinya sebagai santri durhaka, hujjahnya menghujati dirinya sendiri.
Dia tahu sendiri masjid Al-Kautsar diatur oleh pemeliknya, tatkala kita ingin menjenguk orang tua yang sedang sakit di Limboro sekaligus silaturrahim di sana, kita meminta salah seorang yang rutin ikuti kajian kita dan belum lama beliau telah menghafal kitâb Al-Maqâlah, beliau siap menggantikan khutbah. Itu pun sebelum Afiq menjadi santri di Majâlis kita, tatkala kita memiliki jadwal khutbah setiap tahun sekali di salah satu masjid jâmi’, kita mencoba meminta Afiq untuk mengantikan, itu pun dia keberatan karena tahu diri tidak berkapasitas untuk jadi khatîb, namun kita inginkan supaya dia bisa berdakwah di dunia nyata karena dia sudah memposisikan diri sebagai juru dakwah yang sibuk dakwah di dunia maya. Akhirnya dia bersedia, lalu menulis konsepnya sendiri untuk dia baca di saat khutbah, ketika khutbah pun gugup dan terbata-bata, hingga di antara masyarakat yang menjadi jamâ’ah masjid mengatakan tentang dirinya tidak pantas menjadi khatîb. Hanya sekali itu dia khutbah selama menjadi santri di Majâlis kita.

Di antara bentuk kelicikannya pula pada proses acara penikahannya, memalukan sekali, sudah memberitahu orang-orang yang biasa berjamâ’ah di masjid Al-Kautsar bahwa dia akan menikah nanti akan mengundang, setelah balik dari pondok Purworejo semakin membatu dalam menampakkan sikap yang jauh lebih jelek dari sebelum ke pondok Purworejo, kemudian terucap dari lisannya bahwa dia tidak akan mengundang hizbî. Orang-orang yang pernah mendapatkan pemberitahuannya datang ke kita, dan yang lainnya pada menghubungi kita, mereka bertanya: “Ustâdz jadi ke pernikahan Afiq besok?” Kita jawab: “Kita belum ada pemberitahuan”. Sampai di antara mereka berkata: “Bukankah Afiq selalu ada di masjid Al-Kautsar dan kemarin pinjam sepeda motor untuk ke tempat pernikahannya di Tangerang?” Kita jawab: “Selama Afiq balik dari Purworejo membuat sebagian orang terheran-heran melihat sikapnya, lebih lain daripada sebelumnya, kita pun tetap menyapa dan mengucapkan salâm kepadanya, dan dia tidak memberitahu kita tentang pernikahannya. Kita tidak mengira pada malam acara pernikahnnya, menjelang tengah malam baru dia memberi tahu undangan pernikahannya ke kita, kemudian menjelang fajar memberitahu pula bahwa kita yang akan menyampaikan khutbah pernikahannya pada jam 8 pagi, kemudian memberi tahu bahwa orang tuanya mengundang kita. Kebiasaan kita sering mematikan HP pada malam hari, waktu itu jam 6 pagi kita baru buka HP, kita pun kaget. Tidak mungkin langsung berangkat seketika mengingat masalah perjalanan ke sana jauh, lalu ada seorang jamâ’ah mengatakan ke kita: “Kalau tahu dari tadi malam ada undangan begitu, bisa setelah Shubûh berjamâ’ah kita berangkat menggunakan mobilku.”

Itulah di antara prilaku dan sikap Afiq yang kita dapatkan darinya, semoga Allâh Subhânahu wa Ta’âla memberikan ampunan kepada kita dan kepada siapa saja yang selalu jujur kepada kita.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada hari Rabu tanggal 5 Dzulqa’dah 1442 / 16 Juni 2021 di Tenggilis Mustika Jaya Bekasi.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/5578