NASEHAT PENGINGAT BUAT PARA AYAH YANG TERHORMAT

Pertanyaan:
Ustādz izin sampaikan persoalan jalīs, dia bilang kalau isterinya senang bila dia hari-harinya tidak di rumah. Apabila hari-harinya di rumah, isterinya terlihat sedih. Bagaimana memperlakukan isteri macam itu Ustādz? Karena ada orang lain langsung curigai isteri seperti itu dengan kecurigaan ingin selingkuh. Mohon bimbingannya Ustādz!.

Jawaban:
Hendaklah setiap suami yang mendapati isterinya seperti itu untuk mempertanyakan diri sendiri sebelum mempertanyakan sikap isterinya, kalau suami di rumah terus karena dia usahanya dari rumah, misalnya jualan online, bisnis online, mengajar online atau dia telah menanam modal di tempat usaha jadi dia dalam setiap bulannya memiliki pendapatan, kalau seperti itu keadaannya lalu isteri inginnya dia untuk tidak selalu di rumah maka mungkin perlu dipertanyakan tentang isterinya sebelum mencurigainya. Tapi kalau keberadaan suami tidak punya usaha, hari-harinya di rumah terus lalu isteri bersikap seperti itu maka bisa jadi itu teguran isteri dengan caranya sendiri. Kalau kita melihat kenyataan, jangankan isteri, anak-anak saja tahu bila ayah mereka hanya berdiam di rumah saja tidak punya usaha, mereka tahu ayah mereka tidak punya uang. Ini yang pernau kita alami Wallāhul Musta’ān, makanya kalau kita di rumah saja itu anak-anak tidak pada minta beli ini dan itu. Tapi coba kalau mau keluar, mau pergi ada keperluan apa saja, apalagi kalau mereka tahu keluar untuk ngajar itu mesti pada berebutan pesan, ada yang pesan beliin jajan, bahkan anak yang paling kecil pun ikut pesan: “Abah beli pampers Aa..” sambil menyebut namanya. Kalau kita tidak keluar, lalu mereka ingin beli sesuatu maka mereka ke Ummah mereka, kalau Ummah mereka tidak bisa memenuhi keinginan mereka, maka siapa yang akan mereka tuntut?!.
Ini menjadi pengingat dan nasehat bagi kita semua para ãbā’, Wabillāhit Taufīq wal hidāyah.
Kadang keluarga tahu bahwa keluarnya suami itu tidak mesti pulang bawa uang, mereka tahu bahwa keadaan memang sedang tidak baik-baik saja, tapi dengan keluarnya suami itu seakan-akan menjadi penghibur bagi mereka, kita katakan seperti ini karena kita telah alami, ada salah seorang anak karena melihat kita beberapa hari tidak keluar, ia pun mengajak untuk panen sereh yang ada di sekitar rumah supaya dijual ke pasar biar dapat uang katanya. Kita tersenyum, kita sudah perhitungkan kalau pergi memenuhi keinginannya untuk jual sereh ke pasar, dan pasar itu lumayan jauh, perlu transportasi, tentu butuh biaya yang lebih besar daripada hasil jual sereh, belum lagi nanti kalau balik pasti minta beli ini dan itu. Tapi kita ingin menghiburnya, kita pun pergi dengan membawa sereh satu plastik. Di pasar kita tawarkan ke kulakan, dibelilah 20.000 semuanya. Māsyā Allāh terlihat anak begitu gembiranya, saat pulang mulailah menyebutkan keinginannya untuk beli ini dan itu, belum lagi buat yang lain yang di rumah. Ini menunjukkan bahwa anak seperti itu sudah tahu bahwa uang itu hanya bisa diperoleh dengan usaha diantara bentuknya keluar, Māsyā Allāh setelah kembali ke rumah, mulai cerita ke yang lain sambil bawakan jajanan. Di waktu yang lain, saat kita tidak keluar beberapa hari, ada lagi anak meminta untuk pergi jualan, kita sengaja tanya: Apa yang mau dijual Mbak? Ia pun jawab: “Kita ambil daun pandan yang banyak lalu kita jual kayak Mas dulu jual sereh.” Kita pun turuti maunya biar terhibur, Alhamdulillāh sampai di pasar dihargai 25.000,- mendapatkan uang segitu betapa bahagianya. Ini juga menunjukkan bahwa anak-anak pun tahu kalau uang hanya bisa didapat dengan usaha. Beberapa bulan yang lalu, muncul lagi ide mereka, mereka pun meminta Ummah mereka biar dapat uang kata mereka bikin donat, mereka akan jual di samping tempat wisata. Mereka pun dibuatkan donat sebanyak 50 donat, lalu mereka bawa ke tempat wisata, saat pulang pada curhat: “Yang beli hanya seorang, dia beli 5.000.” Untuk menyenangkan kita pun beli semua yang sisa, kita berikan uang ke mereka lalu donat kita bagi ke anak-anak termasuk mereka, luar biasa senangnya mereka. Sekarang pun mereka memunculkan ide lagi jualan setiap Jum’at dan Ahad.
Dan kita sudah coba penuhi keinginan mereka jualan, sudah pada tahu. Dan Māsyā Allāh tetap mereka bertekad untuk kita keluar bersama mereka jualan, karena yang mereka tahu saat pulang mesti bisa belanja kebutuhan, laris atau pun tidak yang penting sudah keluar. Māsyā Allāh sampai di antara mereka bilang bahwa burung-burung merpati kita saja pagi-pagi sudah pada terbang jauh, sore pulang itu sudah tidak minta makan lagi, artinya burung-burung itu kata mereka sudah dapat makan di luar. Māsyā Allāh mengingatkan tentang pentingnya berusaha dengan dasar tawakkal yang kuat, Nabī Shallallāhu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Kalaulah keberadaan kalian benar-benar bertawakkal pada Allāh dengan sebenar-benar bertawakkal kepada-Nya, maka sungguh kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Burung pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.”

[Tanya jawab dengan Abū Ahmad Muhammad Al Khidhir pada hari Jum’at, 26 Jumādā Al Ūlā 1448 / 6 November 2026 di Bogor].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/15432