PENEMPATAN TAHDZIR SESUAI TEMPATNYA

Pertanyaan:
Ustadz, mohon penjelasan tentang tahdzir, karena banyak orang salah paham, hingga dipahami menjelaskan kesalahan seseorang itu tahdzir yang artinya harus meninggalkannya?.

Jawaban:
Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam pada perkara tahdzir, beliau telah menyontohkan, ada yang bentuknya memperingatkan dari kesalahan berikut pelakunya, yaitu memperingatkan dari seseorang serta kesalahannya, seperti tahdziran terhadap syaithan yang disebutkan di dalam Al-Qur’an:

إِنَّ ٱلشَّیۡطَـٰنَ لَكُمۡ عَدُوࣱّ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا یَدۡعُوا۟ حِزۡبَهُۥ لِیَكُونُوا۟ مِنۡ أَصۡحَـٰبِ ٱلسَّعِیرِ

“Sungguh syaithan adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah dia musuh. Sungguh dia menyeru kepada kelompoknya untuk menjadi para penghuni Neraka Sa’ir.” [Surat Fathir: 6]. Ditahdzir syaithan sekaligus kesalahannya yaitu membuat permusuhan dan mencari para pengikut supaya satu kelompok dengannya. Tahdziran ini berfaidah untuk meninggalkan dan menjauhinya, diperjelas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَ ٰ⁠تِ ٱلشَّیۡطَـٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوࣱّ مُّبِینࣱ

“Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan, sungguh dia adalah musuh yang jelas bagi kalian.” [Surat Al-Baqarah: 208].
Selain tahdziran seperti itu, ada pula tahdziran yang bentuknya hanya memperingatkan dari suatu kesalahan seseorang supaya meninggalkannya dan tidak bermaksud untuk meninggalkan orangnya, seperti pada perkataan tahdzir beliau terhadap kesalahan yang diperbuat oleh Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu yang mengimami orang-orang awam dengan membaca surat Al-Baqarah, walau pun nyatanya beliau meniru Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya saja beliau salah penempatan. Oleh karena itu teranggap sebagai suatu kesalahan, terlebih lagi Nabiurrahmah ‘Alaihish Shalatu was Salam katakan kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu:

يا مُعاذُ، أفتَّانٌ أنت؟! أفتَّانٌ أنت

“Wahai Mu’adz, apakah kamu tukang fitnah, apakah kamu suka buat fitnah?!.”
Andaikan perkataan beliau ini diucapkan oleh orang sekarang kepada seseorang, maka orang-orang akan menganggapnya ini tahdziran yang sangat merendahkan dan menjelekkan. Padahal ini hanya tahdziran untuk mengingatkan dan menyadarkan supaya tidak terjadi lagi, diperjelas pada lafazh lain:

يا مُعاذُ، لا تكُنْ فتَّانًا؛ فإنَّه يصَلِّي وراءك الكبيرُ والضَّعيفُ وذو الحاجةِ والمسافِرُ

“Wahai Mu’adz, jangan kamu menjadi tukang fitnah, karena sungguh yang shalat di belakangmu ada orang lanjut usia, orang lemah, orang memiliki kebutuhan dan musafir.”
Ini sebagai penjelas bahwa tahdziran beliau bukan untuk menghentikannya dari mengimami manusia, bukan pemberhentian dari mengimami setelah itu, dan bukan pula mentahdzir (memperingatkan) umat darinya untuk tidak mengambil ilmu darinya, karena sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memperjelas beliau dijadikan sebagai salah seorang da’i yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutus beliau untuk berdakwah, beliau berkata kepadanya:

إنَّك تأتي قومًا أهلَ كتابٍ فليكن أوَّلُ ما تدعوهم إليه شهادةَ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ وأنَّ محمَّدًا رسولُ اللهِ

“Sungguh kamu akan datang ke suatu kaum dari kalangan Ahlul Kitab maka hendaklah yang pertama-tama kamu dakwahkan mereka padanya adalah syahadat bahwa La Ilaha Illallah (tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah) dan bahwa Muhammad Rasulullah (adalah utusan Allah).”

[Abu Ahmad Al-Khidhir ‘Afallahu ‘Anhu, malam Jum’at 6 Dzulqa’dah 1447 / 24 April 2026 di Bogor].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/13977
⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/2124