SUPAYA CINTA TIDAK BUTA

Supaya cinta tidak buta maka ketahuilah:

وَكُلٌّ يَدَّعِي وَصْلًا لِنَجْوَى * وَنَجْوَى لَا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا

“Setiap orang mengaku dalam keadaan memiliki hubungan cinta dengan Najwâ * Dan Najwâ tidak mengakui ada hubungan cinta dengan mereka.”

Oleh karena itu jadikanlah kecintaanmu kepada orang yang diharapkan mencintaimu, dan janganlah kamu mencintai orang yang tidak pernah diharapkan cintanya kepadamu.

Pernahkah kamu tahu tentang Mughîts yang memiliki cinta terdalam kepada Barîrah?
Berkata ‘Abdullâh bin ‘Abbâs Radhiyallâhu Anhumâ:

أَنَّ زَوْجَ بَرِيرَةَ كَانَ عَبْدًا يُقَالُ لَهُ مُغِيثٌ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَطُوفُ خَلْفَهَا يَبْكِي، وَدُمُوعُهُ تَسِيلُ عَلَى لِحْيَتِهِ

“Sesungguhnya suami Barîrah adalah seorang hamba sahaya, nama panggilannya adalah Mughîts, aku melihat Mughîts berkeliling di belakang Barîrah sambil menangis dalam keadaan air matanya bercucuran membasahi jenggotnya.”
Lalu Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

يَا عَبَّاسُ أَلاَ تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيرَةَ، وَمِنْ بُغْضِ بَرِيرَةَ مُغِيثًا

“Wahai ‘Abbâs tidakkah kamu heran terhadap rasa cinta dari Mughîts kepada Barîrah dan rasa benci dari Barîrah kepada Mughîts?.”
Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam ketika melihat tangisan dan kesedihan Mughîts karena akan bercerai dengan Barîrah maka beliau berkata kepada Barîrah:

لَوْ رَاجَعْتِهِ

“Kalau seandainya kamu kembali kepadanya!.” Yakni tidak bercerai dengannya!
Lalu Barîrah bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ تَأْمُرُنِي

“Wahai Rasûlullâh apakah engkau memerintahkanku?.”
Beliau menjawab:

إِنَّمَا أَنَا أَشْفَعُ

“Sesungguhnya aku hanya menyarankan.”
Maka Barîrah berkata:

لاَ حَاجَةَ لِي فِيهِ

“Aku tidak berkeinginan untuk kembali kepadanya.” Riwayat Al-Bukhârî.

Demikianlah cinta tidak bisa dipaksakan, orang yang mencoba memaksakan cintanya kepada seseorang yang tidak mencintainya maka sangat memungkinkan rasa cintanya akan berbalik menjadi kebencian dan kedengkian lalu menyeretnya untuk semakin berbuat kezhaliman, pernah seseorang berkata kepada ‘Abdullâh bin ‘Abbâs Radhiyallâhu ‘Anhumâ:

إِنِّي خَطَبْتُ امْرَأَةً فَأَبَتْ أَنْ تَنْكِحَنِي، وَخَطَبَهَا غَيْرِي فأَحَبَّتْ أَنْ تَنْكِحَهُ، فَغِرْتُ عَلَيْهَا فَقَتَلْتُهَا

“Sesungguhnya aku meminang seorang wanita lalu dia menolak untuk menikah denganku, kemudian orang lain meminangnya, ia pun senang untuk menikah dengan orang tersebut maka aku cemburu kepada wanita itu hingga aku membunuhnya.” Riwayat Al-Bukhârî di dalam “Al-Adabul Mufrad”.

Dari nasehat Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada hari Jum’at 29 Rajab 1440 / 5 April 2019 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.