TAHDZIR DA’I DAPAT DITERIMA DAN DITOLAK

Pertanyaan:
Ada Ustadz bergelar Dr. (H.C.) yang dulunya belajar dengan gurunya alumni UIM, kemudian gurunya menahdzir guru-gurunya yang lain, lalu ia tahdzir gurunya tadi dan pergi menjalin hubungan dengan guru-gurunya yang sudah ditahdzir dan ia tinggalkan gurunya yang menahdzir. Apakah langkah Ustadz tadi dapat dibenarkan?.

Jawaban:
Tahdziran yang datangnya dari seorang da’i itu merupakan suatu sikapnya dan pendapatnya yang bisa diterima dan bisa ditolak, maka hendaklah menerapkan kepadanya perkataan Imam Daril Hijrah Abu ‘Abdillah Ibnu Anas Rahimahullah:

كل يُؤخذ من قوله ويُرد إلا صاحب هذا القبر

“Semua orang bisa diambil dan ditolak dari perkataannya kecuali penghuni kuburan ini.” Yakni Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Jika seseorang bisa menerapkan perkataan imam besar ini, maka dia tidak akan bermudah-mudahan dan tidak pula berlebih-lebihan terhadap seorang pun, dia tidak akan ghuluw terhadap seseorang dan tidak pula mengkultuskan seseorang, dia akan memperlakukan seseorang sesuai kadarnya. Siapa pun dia kalau salah maka dia akan mengakui kesalahannya dan menghindari kesalahannya, siapa pun dia kalau benar maka dia akan mengakui kebenarannya dan mengamalkannya. Jangankan seorang guru, yang bukan guru saja kalau benar perkataannya maka harus menerima dan mengakui kebenaran perkataannya itu, bukankah Sayyidun Nas ‘Alaihish Shalatu was Salam telah berkata kepada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu:

إنَّه قدْ صَدَقَكَ، وهو كَذُوبٌ

“Sesungguhnya dia benar-benar telah jujur kepadamu, padahal dia itu paling sering berdusta.”
Dahulu Imam Daril Hijrah Malik pernah menahdzir manusia dari Imam Madzhab Hanafiyyah Abu Hanifah, beliau katakan:

أبو حنيفة من الداء العُضال

“Abu Hanifah termasuk dari penyakit kronis.”
Beliau juga berkata:



أبو حنيفة ينقض السنن

“Abu Hanifah mengabaikan sunnah-sunnah.”
Ternyata beliau juga pernah memujinya, beliau berkata:

رأيت رجلا يعني أبا حنيفة لو كلمك في هذه السارية أن يجعلها ذهبًا لقام بحجته

“Aku melihat seseorang yakni Abu Hanifah, kalau dia mengajakmu berbicara tentang tiang ini untuk menjadikannya sebagai emas maka pasti akan tegak dengan hujjahnya.”
Maka dari sini jelaslah bahwa tahdziran beliau dapat diambil dan dapat ditolak sebagaimana pula pendapat beliau dapat diterima dan dapat ditolak, sesuai dengan yang beliau tetapkan dalam suatu perkataan beliau:

إنما أنا بشر أخطيء وأصيب، فانظروا في قولي، فكل ما خالف الكتاب والسنة فاتركوه

“Sungguh aku adalah manusia biasa, aku bisa salah dan aku bisa benar. Maka lihatlah oleh kalian kepada perkataanku, setiap perkataan yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunah maka tinggalkanlah oleh kalian.”
Ini salah seorang dari imam kita, imam madzhab, imam kaum Muslimin. Maka bagaimana dengan salah seorang dari ustadz dan syaikh kita, bukankah lebih pantas untuk kita terapkan perkataan imam tersebut kepadanya?!. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dari orang-orang yang telah Dia sebutkan di dalam kitab-Nya:

ٱلَّذِینَ یَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَیَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥۤۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمۡ أُو۟لُوا۟ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

“Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baiknya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” [Surat Az-Zumar: 18].

[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu]

⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1831
⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/13588