WASPADALAH DARI BERBICARA TENTANG SESEORANG

📝 Pertanyaan:
Bismillah… Ustâdz, apakah benar ada kesepakatan ‘ulamâ kibar tentang 10 poin, yang jika 10 poin ini tidak ada pada diri seseorang maka dia tidak bisa divonis sebagai Ahlul Bid’ah?

📜 Jawaban:
Kami tidak mengetahui ada kesepakatan para ‘ulamâ kibâr seperti itu? Dan juga kami tidak mengetahui siapa saja ‘ulamâ yang dikibarkan menurut pendapat orang yang berkomentar seperti itu?
Betapa banyak ‘ulamâ Ahlussunnah di zaman ini, ada dari mereka yang sudah tua dan telah dianggap kibâr serta ada pula ‘ulamâ yang masih muda yang sudah dianggap sebagai kibâr, dan tidak kami ketahui mereka bersepakat pada demikian itu?!
Penetapan 10 poin seperti itu adalah suatu pendapat saja dan kalau ada dari para ‘ulamâ yang menetapkan demikian barangkali itu adalah ijtihâd mereka.

Adapun yang menghukumi seseorang sebagai ahlul bid’ah maka itu urusannya dia, bagi yang menerima penghukumannya maka dia anggap itu sebagai ahlul bid’ah, dan itu juga urusannya dia, tapi jangan sampai mencerca seorang ahlul bid’ah tersebut dengan melampui batas atau selalu menghîbahinya pada perkara-perkara yang bukan berkaitan dengan perbuatan bid’ahnya, jangan sampai terjatuh ke dalam perbuatan menzhâliminya:

الظلم ظلمات يوم القيامة

“Kezhâliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat.”

Itu pada perkara yang berkaitan dengan seorang ahlul bid’ah lalu bagaimana dengan perkara selain ahlul bid’ah yang semarak cercaan, celaan dan tahdzîran serta berbagai ghîbah yang dilakukan padanya? Berkata Al-Imâm Yahyâ bin Ma’în Rahmatullâhi ‘Alainâ wa ‘Alaih:

إنا لنطعن على أقوام لعلهم قد حطوا رحالهم في الجنة من أكثر من مائتي سنة

“Sesungguhnya kita benar-benar telah mencela atas berbagai kaum, bisa jadi mereka benar-benar telah berjalan melangkahkan kaki mereka ke dalam Surga lebih dari 200 tahun.”

Ucapan seorang imâm yang mulia ini ketika disampaikan kepada Al-Imâm Ibnu Abî Hâtim Rahmatullâhi ‘Alainâ wa ‘Alaih di saat beliau membacakan kepada manusia “Kitâb Al-Jarhi wat Ta’dîl” maka beliau menangis, disebutkan tentang beliau:

فبكى وارتعدت يداه حتى سقط الكتاب من يده

“Lalu beliau menangis dan bergetar kedua tangan beliau sampai kitâb jatuh dari tangan beliau.”

Hanyalah yang merasakan seperti itu adalah orang yang ilmunya berpengaruh pada dirinya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Hanyalah yang takut kepada Allâh dari para hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu.” [Fâthir: 28].
Wabillâhit Taufîq.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada tanggal 26 Rajab 1438 di Bekasi.

⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir/416