AKIBAT DARI MEMBIARKAN ATAU MENDUKUNG PENGRUSAKAN DAN PENUTUPAN MASJID SALAFÎ
بِسْمِ اللّٰهِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَحْدَهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَن لَا نَبِيٍّ بَعْدَهُ، وَبَعدُ
Setiap orang yang pernah ke Yaman atau yang pernah mengikuti berita Yaman tentu akan mengetahui siapa mantan Presiden Yaman yang bernama ‘Alî ‘Abdullâh Shâlih?!.
Dia ini pada awalnya bisa dikatakan berjasa terhadap dakwah salafiyyah di Yaman, dia memberi kebebasan kepada Al-Imâm Al-Wâdi’î Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih untuk berdakwah sekehendaknya di Yaman, dan jasa yang terbesarnya adalah mendanai pembangunan masjid di kebanyakan negeri Yaman, terutama di kota-kota terdapat banyak masjid dari dananya, orang yang pernah ke Yaman akan melihat pada setiap masjid terdapat menara yang tinggi dan setiap menara itu memiliki kesamaan dan kemiripan bentuk dengan menara di masjid yang lain, itu atas keinginannya.
Tahun berganti tahun, bahkan sampai 10 tahun lebih tetap terlihat perhatiannya begitu besar kepada masjid dan urusan kaum Muslimîn. Dia menjaga kaum Muslimîn dari gangguan Syî’ah-Râfidhah dan dari gangguan para pemberontak lainnya, namun sangat disayangkan pada akhirnya dia berubah keadaan, karena permasalahan politik, dia dimusuhi oleh lawan-lawan politiknya, hingga dia disakiti dan dilukai dengan ditembak menggunakan meriam di saat dia sedang di dalam masjid hingga terluka parah, lalu dibawa ke Saudi Arabia untuk berobat, sehingga wakil Presiden yang bernama ‘Abdu Rabbih menggantikan posisinya sebagai presiden, namun sekembalinya dari berobat dia-pun melampiaskan amarah dan dendamnya hingga melawan musuh-musuhnya dengan persenjataan, karena keberadaannya sudah melemah maka dia memanfaatkan kaum Syî’ah-Râfidhah untuk memerangi musuh-musuhnya, dan kaum Syî’ah-Râfidhah memanfaatkannya pula untuk memerangi Dammâj yang merupakan negeri salafî di Yaman.
Sejak adanya saling memanfaatkan tersebut membuat kaum Syî’ah-Râfidhah melakukan serangan terhadap Dammâj, mereka menembakan tank-tank ke masjid salafî di Dammâj, masjid salafî yang terbesar mereka rusakin dengan tembakan-tembakan senjata berat hingga perpustakaan masjid terbakar, temboknya bolong-bolong, begitu pula masjid-masjid kecil mereka hancurkan sehancur-hancurnya. Demikian pula masjid salafî di negeri Kitâf, mereka tembak dengan senjata berat, kemudian mereka masuki lalu mereka letakan bom di dalamnya hingga meledak sampai benar-benar runtuh menjadi rata dengan tanah. Maka para salafî dari berbagai penjuru Yaman melakukan qunut nâzilah, dan mereka terus mendoakan kebinasaan atas Syî’ah-Râfidhah yang menghancurkan masjid-masjid tersebut dan juga mendoakan atas siapa saja yang bekerja sama dengan Syî’ah-Râfidhah dalam menghancurkan masjid-masjid.
Ketika Syî’ah-Râfidhah merasa menang dan telah berhasil menguasai negeri Kitâf dan Dammâj maka mereka-pun berupaya untuk menguasai seluruh Yaman, kota perkota mereka kuasai dengan mudah, karena yang masih berpengaruh dalam mengendalikan pemerintahan adalah mantan presiden ‘Alî ‘Abdullâh Shâlih dan yang mengendalikan urusan kemeliteran adalah puteranya, dengan demikian sangat mudah Syî’ah-Râfidhah menguasa kota-kota besar, hingga istana presiden mereka kuasai yang menjadikan presiden ‘Abdu Rabbih kabur menyelamatkan dirinya, lalu ke Kerajaan Saudi Arabia untuk meminta bantuan, dengan demikian Kerajaan Saudi Arabia dan Liga Arab membantunya dengan melakukan serangan ke Yaman lewat udara, Alhamdulillâh dengan serangan tersebut menjadikan kekuatan Syî’ah-Râfidhah yang ada di Sha’dah hancur, Syî’ah-Râfidhah banyak yang mati, demikian pula kekuatan-kekuatan Syî’ah-Râfidhah di berbagai negeri Yaman hancur, Syî’ah-Râfidhah banyak yang binasa, mantan presiden ‘Alî ‘Abdullâh Shâlih bersama puteranya menjadi incaran hingga tidak jelas ke mana?
Demikianlah akibat dari perbuatan mantan presiden ‘Alî ‘Abdullâh Shâlih yang membantu Syî’ah-Râfidhah dan membiarkan mereka menghancurkan masjid-masjid salafî, walau pun sudah ratusan masjid yang dia bangun dan dia danai dengan hartanya namun karena dia nodai dengan perbuatan liciknya tersebut maka sangat disayangkan.
Jika dia tidak bertaubat maka baginya di dunia hukuman dan dia telah dapatkan sebagiannya berupa kekuasaan dan hartanya lenyap, tinggal dirinya dan anaknya yang menjadi boronan, hingga hidupnya pun semakin terancam, belum lagi di akhirat kelak bila dia tidak bertaubat, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:
إِنَّمَا جَزَٰٓؤُاْ ٱلَّذِينَ يُحَارِبُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَسۡعَوۡنَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوٓاْ أَوۡ يُصَلَّبُوٓاْ أَوۡ تُقَطَّعَ أَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم مِّنۡ خِلَٰفٍ أَوۡ يُنفَوۡاْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِۚ ذَٰلِكَ لَهُمۡ خِزۡيٞ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya balasan terhadap orang-orang yang memerangi Allâh dan Rasûl-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapatkan siksa yang besar”. [Al-Mâ’idah: 33].
*****************
Peringatan dari Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada tanggal 24 Dzulhijjah 1438 di Bekasi, teruntuk suatu kaum yang merencanakan penutupan atau pengrusakan masjid salafî di Jawa.