AMALAN YANG MEMASUKKAN KE DALAM SURGA
Pertanyaan:
Ustâdz, ada kenalan mengatakan kalau dulu orang mau masuk Surga sangat mudah, datang menemui Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam supaya masuk Surga langsung diberitahu amalan paling ringan, dia amalkan jadi masuk Surga. Di zaman sekarang kalau orang ingin masuk Surga, seperti dipersulit oleh orang-orang merasa paling benar Islâmnya, harus berbuat inilah itulah, macam-macamlah hingga menambah rumit kepadanya?
Jawaban:
Amalan apa saja yang dilakukan oleh orang yang hidup di zaman dahulu yang menyebabkan dia masuk Surga maka amalan itu berlaku pula bagi orang yang hidup di zaman sekarang dan orang yang hidup di zaman akan datang, berkata Abû Hurairah Radhiyallâhu ‘Anhu:
أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ. قَالَ: تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ الْمَكْتُوبَةَ، وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ. قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا. فَلَمَّا وَلَّى قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا
“Bahwasanya seorang Badui datang menemui Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam lalu dia berkata: Tunjukkan kepadaku tentang suatu amalan jika aku mengamalkannya maka aku akan masuk Surga!.” Beliau berkata: Kamu beribadah kepada Allâh dan tidak menyekutukan dengannya sesuatu apapun, kamu menegakkan shalat yang wâjib, kamu menunaikan zakat yang wâjib, kamu berpuasa Ramadhân.” Dia-pun berkata: “Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku tidak akan menambah atas kewajiban ini.” Tatkala dia pergi maka Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Barangsiapa yang rasa senangnya untuk melihat kepada seseorang dari penduduk Surga maka hendaklah dia melihat kepada orang itu.” Riwayat Al-Bukhârî.
Ketika seseorang melakukan amalan sebagaimana yang dilakukan oleh orang Badui tersebut maka baginya Surga.
Hadîts tersebut menunjukkan tentang kebagusan bimbingan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, beliau menyampaikan yang paling terpenting berupa pelaksanaan terhadap rukun Islâm, dan beliau tidak menyebutkan tentang ibadah haji karena orang Badui tersebut tidak mampu melakukannya. Ini menunjukkan bahwa Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam melihat keadaan umat, ketika umat tidak bertauhîd maka beliau prioritaskan tauhîd, kemudian shalat, kemudian puasa Ramadhân dan atau kemudian zakat. Ini yang harus didahulukan sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam kepada Mu’âdz bin Jabal Radhiyallâhu ‘Anhu ketika beliau mengutusnya ke Yaman:
ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ، تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
“Serulah mereka untuk mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan dengan benar kecuali Allâh dan sesunguhnya aku adalah Rasûlullâh, jika mereka mentaatimu pada seruan tersebut maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allâh mewajibkan kepada mereka shalat 5 waktu dalam sehari semalam, jika mereka mentaatimu pada perkara tersebut maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allâh mewajibkan bagi mereka zakat pada harta mereka, diambil dari orang kaya mereka lalu diberikan kepada orang-orang miskîn mereka.” Riwayat Al-Bukhârî.
Orang yang mengerti tentang dakwah Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam tentu seruannya seperti itu. Adapun yang tidak mengerti maka dia akan mengajak sesuai keinginannya, orang yang belum belajar tauhîd atau baru mencoba mengikuti kajian Kitâb Tauhîd dengan hadir secara langsung di majlis kita, dibikin gaduh dengan permasalahan khilâf, sehingga membuat orang lari dari mempelajari tauhîd, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:
يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا
“Permudahlah oleh kalian dan janganlah kalian mempersulit, berilah kalian kabar gembira dan janganlah kalian membuat manusia lari.” Riwayat Al-Bukhârî.
Semoga Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ menjadikan kita penyebab bagi umat mendapatkan hidayah kepada Islâm, Tauhîd dan Sunnah.
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh sebelum kajian Ushûl Sunnah Libnî Abî Zamîn pada hari Ahad tanggal 16 Syawwâl 1441 / 7 Juni 2020 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.