ANTARA SYAIKH AS-SURKATÎ DAN SYAIKH AL-ALBÂNÎ

Pertanyaan:
Murji’ah kelompok sebelah pernah mengupas tuntas siasat Syaikh As-Syurkatî sang pendiri Organisasi Al-Irsyâd di zaman Belanda, dan menyebutkannya menolak dibilang sebagai pengikut Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb, karena dia pengikut Asy-Syaikh Muhammad ‘Abduh, Jamâluddîn Al-Afghanî dan Muhammad Rasyîd Ridhâ. Dan disebutkan pula bahwa sikapnya kepada pejabat kolonial Belanda dikasih sayangi dan dimuridkan, padahal di atas kesesatan, sementara dengan pengikut Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb yang membela Tauhîd dan Sunnah disebutnya sebagai Wahhâbî, keras dan seterusnya.
Apakah Ustâdz pernah tahu masalah yang pernah mereka kupas tuntas ini? Bagaimana menurut Ustâdz tentang Syaikh As-Surkatî?.

Jawaban:
Pernah dulu kita dengarkan Ustâdz As-Sewwed Ashlahahullâh mentahdzîr jamâ’ahnya dari Asy-Syaikh Ahmad As-Surkatî Ghafarallâhu lah, bahwasanya dia tidak mengakui dibilang Wahhâbî. Padahal kalau diperhatikan keadaan antara sesama mereka, sama-sama sepaham. Asy-Syaikh Ahmad As-Surkatî menjadikan Prof. Dr. Christian Snouck Hurgonje dan Dr. Charles Olke van der Plas sebagai walî (teman dan pelindung) sebagaimana mereka menjadikan orang-orang melakukan syirk akbar sebagai walî, yang berkedudukan mereka anggap sebagai walî amr mereka.
Kalau Syaikh As-Surkatî menjadikan dua orang Belanda itu sebagai walî karena menampakkan keislaman sebagaimana mereka menjadikan orang melakukan syirk akbar sebagai walî atau walî amr mereka karena masih mengucapkan kalimat Tauhîd atau karena berkartu identitas Muslim:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلۡكَـٰفِرِینَ أَوۡلِیَاۤءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian menjadikan orang-orang kâfir sebagai walî (teman atau pemimpin) selain dari orang-orang Mu’min.” [Surat An-Nisâ’: 144].

Adapun celaan atau kritikan mereka terhadap Syaikh As-Surkatî karena menolak disebut Wahhâbî (bermanhaj seperti Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb) atau karena menyebutkan dakwah Wahhâbî sebagai dakwah yang keras maka hendaklah mereka mengkritik pula Syaikh Al-Albânî yang sikap dan pernyataannya hampir semisal atau bahkan lebih parah daripada sikap dan pernyataan Syaikh As-Surkatî. Berkata Syaikh Al-Albânî Ghafarallâhu lah:

أما الوهابية فما لي ولها، فأنا أنقضها، ربما أشد من غيري، وربما الحاضرون يعلمون ذلك

“Adapun Wahhâbiyyah (Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb dan para penerus dakwahnya) maka tidak ada urusan antaraku dan antara Wahhâbiyyah, aku penentangnya sampai kadang penentanganku lebih keras daripada selainku. Barangkali para hadirin mengetahui itu.”

Berterus terang Syaikh Al-Albânî menerapkan barâ’ (berlepas diri) dari dakwah Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Rahimahullâh dan terang-terangan pula mengakui sikap kerasnya dalam mengkritik dakwah Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Rahimahullâh dan para penerus dakwahnya. Tidak cukup itu, namun Syaikh Al-Albânî juga mengatakan:

الحقيقة محمد بن عبد الوهاب فضله كبير على الأمة الإسلامية، لكن فيه شيء من الغلو والشدة

“Kenyataan Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb keutamaannya besar atas umat Islâm, akan tetapi ada padanya suatu sikap ghulûw (ekstrim) dan syiddah (kekejaman).”

Dan masih ada beberapa celaan Syaikh Al-Albânî terhadap Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Rahimahullâh dan para penerus dakwahnya yang tidak mungkin kita sebutkan di sini, Wallâhul Musta’ân.

( Muhammad Al-Khidhir ).

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7410