ANTARA USAHA DAN UJIAN

Pertanyaan:
‘Afwân ‘Ustâdz saya mau bertanya. Apa bedanya jika seseorang itu diberikan jalan untuk mendapatkan sesuatu (memang mendapatkan takdir tersebut, dan jika seseorang itu dihalangi untuk mendapatkan sesuatu (tidak ditakdirkan untuk itu)? Karena banyak kasus, misalnya dalam dunia usaha, banyak pengusaha sukses yang awalnya mendapatkan cobaan dan rintangan dalam merintis usahanya, seolah pada saat awal merintis seperti bukan jalan hidupnya. Tapi ada juga sebaliknya, ada yang awalnya seolah mudah tapi pada akhirnya dia tidak ditakdirkan untuk itu. Apa perbedaannya jika itu ujian dari Allâh untuk memperkuat dirinya, dan jika dia dipersulit karena memang bukan takdirnya. ‘Afwân Ustâdz, Jazâkallâhu khairan.

Jawaban:
Orang yang sudah ditakdirkan pada suatu usaha maka akan diberi taufîq untuk tetap melakukan usaha tersebut walaupun berbagai cobaan dan rintangan menghadangnya. Keberadaan cobaan dan rintangan itulah takdir baginya dalam menjalani usahanya. Apabila dia mengalami kegagalan pada usahanya maka itulah takdir baginya. Demikian pula kalau dia sukses pada usahanya maka itu pula takdir baginya, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam tentang orang yang masih berada di dalam rahim ibunya:

فَيَكْتُبُ رِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَعَمَلَهُ وَشَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ

“Sudah ditetapkan rezkinya, ajalnya, amal perbuatannya dan kesusahan atau kebahagiaanya.”
Hari ini seseorang sulit menjalankan usahanya, besoknya mudah menjalankan usahanya atau hari ini gampang dan besoknya susah, itu sesuai dengan yang ditakdirkan padanya. Oleh karena itu ketika seseorang mendapatkan kesulitan dalam usahanya, sementara dia telah bersungguh-sungguh menjalankan usahanya atau dia mengalami kegagalan maka hendaklah dia tidak banyak mengeluh dan tidak mengatakan kalaulah atau seandainya, namun cukup baginya untuk mengatakan:

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Ini adalah takdir Allâh dan apa yang Dia kehendaki maka Dia lakukan.”
Orang yang mendapatkan ujian, hendaklah mengetahui bahwa ujian yang dia hadapi itu adalah ketetapan Allâh untuknya, Allâh menakdirkan baginya untuk mendapatkan ujian supaya diketahui apa sikap dan ucapannya terhadap apa yang telah ditakdirkan kepadanya, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Jika suatu musîbah menimpamu maka janganlah kamu katakan: “Kalaulah aku melakukan demikian dan demikian” akan tetapi ucapkanlah: “Ini adalah takdir Allâh dan apa yang Dia kehendaki maka Dia lakukan”, karena sesungguhnya ucapan “seandainya” itu membuka amalan setan.” Riwayat Muslim.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada malam Ahad tanggal 17 Shafar 1442 / 4 Oktober 2020 di Dârul Qur’ãn wal Hadîts Bekasi.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/4984