‘AQÎDAH IMÂM MAHDÎ
Pertanyaan:
Semoga kita semua dalam lindungan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ. Ada sedikit pertanyaan yang menjanggal dalam hati saya yang awam ini. Pertanyaannya begini: ‘Aqîdah syarî’at seperti apa nanti yang akan dibawa oleh Imâm Mahdî?. apakah beliau juga akan tahlîlan kematian, maulîd Nabî dan lain-lain, sebagaimana berlaku di zaman sekarang ini?. Apabila Imâm Mahdî tidak melakukan yang tersebut di atas, jangan-jangan semua praktek tradisi yang dianggap ibadah di atas adalah salah?.
Mohon penjelasannya!.
Bârakallâh.
Jawaban:
Khalîfah Muhammad bin ‘Abdillâh yang lebih dikenal dengan Imâm Al-Mahdî Radhiyallâhu ‘Anhu akan datang membawa syar’îat Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, beliau sebagai mujaddid (pembaharu) pada akhir zaman, beliau berjuang mempertahankan keutuhan syar’îat Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam. Ajaran-ajaran baru yang diada-adakan setelah Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam wafat maka beliau akan mengingkarinya, acara tahlîlan kematian, perayaan maulîd Nabî, perayaan isrâ mi’râj dan perkara-perkara baru lainnya yang diada-adakan di dalam agama maka beliau akan mengingkarinya, sebagaimana dahulu Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam mengingkari berbagai acara perayaan di Madînah karena Allâh telah cukupkan dengan dua hari raya besar yaitu ‘Îdul Fithri dan ‘Îdul Adhhâ.
Imâm Al-Imâm juga akan mengkâfirkan para penyembah selain Allâh sebagaimana dahulu Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam mengkafirkan para penyembah selain Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ, setelah beliau berkekuatan, beliau akan melenyapkan hukum-hukum buatan manusia, beliau akan memusnahkan undang-undang buatan manusia, beliau akan mememerangi para perusak syar’îat Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana dahulu Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam memerangi para perusak syarî’at Ibrâhîm ‘Alaihish Shalâtu was Salâm.
Keberadaan Imâm Al-Mahdî sebagaimana keberadaan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam yang ketika itu beliau berkata:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ
“Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersyahadat bahwa tidak ada Ilah (sesembahan yang berhak disembah) kecuali Allâh dan bahwa Muhammad adalah utusan Allâh, sampai mereka shalat dan menunaikan zakat.” Riwayat Al-Bukhârî.
Imâm Al-Mahdî bersama orang-orang beriman akan diberi pertolongan dan kemenangan oleh Allâh ‘Azza wa Jalla, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ: أَمِيرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا. فَيَقُولُ: لاَ. إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ. تَكْرِمَةَ اللَّهِ هَذِهِ الأُمَّةَ
“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku, mereka berperang di atas kebenaran, mereka senantiasa nampak sampai hari kiamat. Kemudian turun ‘Îsâ bin Maryam Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam lalu pemimpin mereka (Imâm Al-Mahdî) berkata: “Kemarilah (wahai ‘Îsâ) untuk mengimami kami shalat.” Beliau berkata: “Tidak, sungguh sebagian kalian atas sebagian yang lain adalah para pemimpin. Sebagai pemuliaan dari Allâh kepada umat ini.” Riwayat Muslim.
Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ kuatkan Imâm Al-Mahdî dengan menurunkan Al-Masîh ‘Îsâ bin Maryam ‘Alaihimush Shalâtu was Salâm. Keduanya menerapkan syari’ât Islâm sebagaimana dahulu diterapkan oleh Rasûlullâh Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, berkata An-Nawawî Rahimahullâh:
بابُ نُزُولِ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ حَاكِمًا بِشَرِيعَةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Bâb turunnya ‘Îsâ bin Maryam sebagai hâkim yang berhukum dengan syar’îat Nabî kita Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam.”
Al-Masîh ‘Îsâ akan mematahkan salîb-salîb, membunuh babi-babi dan menghapus perpajakan, karena semua perkara ini yang telah menjadikan umat beliau tersesat setelah beliau diangkat ke langit. Beliau akan menghapus hukum-hukum buatan manusia, beliau akan melenyapkan undang-undang buatan manusia hingga ke akar-akarnya.
Ribâ, pajak dan berhala-berhala berupa salîb dan yang lainnya, beliau akan musnahkan semuanya, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ
“Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sudah semakin dekat akan turun kepada kalian ‘Îsâ bin Maryam Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau sebagai hâkim yang adil, beliau akan mematahkan salib, akan membunuh babi, akan menghapus perpajakan. Dan harta akan berlimpah ruah sampai tidak seorang pun mau menerimanya.”
Beliau patahkan salib karena itu bid’ah yang muncul setelah beliau diangkat ke langit, kaum Nashârâ mengira bahwa beliau wafat disalib, hingga mereka jadikan salib sebagai kenang-kenangan, kemudian mereka sembah. Mereka mengadakan pula bid’ah berupa hari kematian beliau, padahal beliau belum wafat, hanya saja Allâh mengangkat beliau ke langit, Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ katakan:
وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ
“Mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya.”
Sampai pada perkataan-Nya:
وَمَا قَتَلُوهُ یَقِینَۢا * بَل رَّفَعَهُ ٱللَّهُ إِلَیۡهِ
“Mereka tidak membunuhnya, akan tetapi Allâh mengangkat beliau ke padanya.” [An-Nisâ: 157-158].
Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir.