ATH-THAIFAH AL-MANSHURAH AKAN MENEGAKKAN KHILAFAH
Sebelum kemunculan Muhammad bin ‘Abdillah Al-Mahdi akan ada khilafah yang tegak di atas syari’at, karena Nabi Akhir Zaman ‘Alaihish Shalatu was Salam telah terangkan:
إنَّ فُسْطَاطَ المُسلِمِينَ يَومَ المَلحَمَةِ بالغُوطَةِ إلَى جَانِبِ مَدِينَةٍ يُقالُ لَهَا دِمَشقُ، مِن خَيرِِ مَدَائِنِ الشٌامِ
“Sungguh kesatuan kaum Muslimin pada masa perang dunia besar berada di Ghuthah samping suatu kota yang bernama Damaskus, ini adalah termasuk dari sebaik-baik kota di Syam.”
Keberadaan khilafah tersebut sebelum kekhilafahan Al-Mahdi, dan Nabiurrahmah ‘Alaihish Shalatu was Salam telah perjelas pula:
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ: أَمِيرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا. فَيَقُولُ: لاَ. إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ. تَكْرِمَةَ اللَّهِ هَذِهِ الأُمَّةَ
“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku, mereka berperang di atas kebenaran, mereka senantiasa nampak sampai hari kiamat. Kemudian turun ‘Isa bin Maryam Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu pemimpin mereka (Imam Al-Mahdi) berkata: “Kemarilah (wahai ‘Isa) untuk mengimami kami shalat.” Beliau berkata: “Tidak, sungguh sebagian kalian atas sebagian yang lain adalah para pemimpin. Sebagai pemuliaan dari Allah kepada umat ini.”
Yang jelasnya khilafah tersebut bukan daulah dimuqrathiyyah bukan pula daulah yang bergabung dengan umam muttahidah yang menerapkan hukum-hukum buatannya, karena sungguh mereka telah berbuat syirik dalam penetapan hukum, meskipun mereka tidak nampak menyembah watsan sebagaimana iblis tidak menyembah watsan, akan tetapi iblis telah menetapkan hukum pensyari’atan sesuai sangkaannya lebih baik daripada hukum Allah, yaitu keengganan dan ketidakmauan untuk tunduk terhadap hukum Allah berupa perintah-Nya supaya sujud kepada Abul Basyar Adam ‘Alaihish Shalatu was Salam, bahkan iblis ingin disembah dan terus berupaya untuk memalingkan dari hukum-hukum Allah kepada hukum-hukum buatannya, jadilah iblis sebagai pemimpin terbesar thaghut. Demikian pula umam muttahidah telah merangkul para walinya dari berbagai daulah jumhuriyyah maupun daulah mulkiyyah untuk mengakui adanya huquq insani yang dengannya mereka menghalalkan sebagian perkara yang kaum Muslimin ijma’ tentang keharamannya, karena penghalalan seperti inilah Allah menamai mereka sebagai orang-orang musyrik yang sama seperti kaum jahiliyyah yang menghalalkan bangkai dengan anggapan mereka bahwa itu adalah sesembelihan Allah hingga turunlah perkataan Allah Ta’ala:
وَلَا تَأۡكُلُوا۟ مِمَّا لَمۡ یُذۡكَرِ ٱسۡمُ ٱللَّهِ عَلَیۡهِ وَإِنَّهُۥ لَفِسۡقࣱۗ وَإِنَّ ٱلشَّیَـٰطِینَ لَیُوحُونَ إِلَىٰۤ أَوۡلِیَاۤىِٕهِمۡ لِیُجَـٰدِلُوكُمۡۖ وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ
“Janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya, sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sungguh syaithan itu membisikkan kepada wali-walinya agar mereka membantah kalian dan jika kalian menuruti mereka maka sungguh kalian tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. [Surat Al-An’am: 121].
Adapun kelompok yang disebutkan pada hadits dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
لا تَزَالُ عِصَابَةٌ مِن أُمَّتي يُقَاتِلُونَ علَى أَمْرِ اللهِ، قَاهِرِينَ لِعَدُوِّهِمْ، لا يَضُرُّهُمْ مَن خَالَفَهُمْ حتَّى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ وَهُمْ علَى ذلكَ
“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas hukum Allah, mereka tangguh dalam melawan musuh-musuh mereka, tidak memadharatkan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang kepada mereka hari kiamat dalam keadaan mereka seperti itu.”
Maka ini adalah kelompok yang senantiasa ada di setiap zaman, dari zaman Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam hingga zaman Imam Al-Mahdi nanti, yang salah satu ciri utama mereka adalah berjihad di jalan Allah, bukan di jalan thaghutiyyah, bukan berperang lewat dimuqrathiyyah, bukan pula berperang di bawah bendera umam muttahidah, bukan pula mereka bergabung dengan pasukan umam muttahidah dalam memerangi sebagian umat Islam, namun mereka berjihad untuk meninggikan kalimat Allah, berjihad fi Sabilillah untuk menegakkan syari’at Allah di muka bumi. Wabillahit Taufiq wal Hidayah.
[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].