BAI’AT BUAT TAAT SYARI’AT
Pertanyaan:
Mau nanya hukum bai’at pemerintah, soalnya disebutkan siapa mati tanpa bai’at maka dia mati jâhiliyyah? Bagaimana dengan kita ini yang tidak pernah bai’at, apakah kita berdosa besar karena tidak lakukan kewâjiban?
Jawaban:
Kewajiban bai’at hanya kepada pemerintah Muslim yang pantas untuk dibai’at dan bai’atnya hanya pada kebaikan dan pada perkara yang dimampui oleh orang yang membai’at, Al-Bukhârî telah membuat suatu bâb di dalam “Shahîh”nya:
باب كَيْفَ يُبَايِعُ الإِمَامُ النَّاسَ
“Bâb metode pemimpin meminta bai’at dari manusia.”
Kemudian beliau menyebutkan banyak riwayat, di antaranya beliau katakan:
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ قَالَ لَمَّا بَايَعَ النَّاسُ عَبْدَ الْمَلِكِ كَتَبَ إِلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ عَبْدِ الْمَلِكِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ إِنِّي أُقِرُّ بِالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ لِعَبْدِ اللَّهِ عَبْدِ الْمَلِكِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ، عَلَى سُنَّةِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ، فِيمَا اسْتَطَعْتُ، وَإِنَّ بَنِيَّ قَدْ أَقَرُّوا بِذَلِكَ
“Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin ‘Alî, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahyâ, dari Sufyân, beliau berkata: Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullâh bin Dînar, beliau berkata: “Tatkala manusia membai’at ‘Abdul Mâlik maka ‘Abdullâh bin ‘Umar menuliskan surat kepada ‘Abdullâh ‘Abdul Malik Amîrul Mu’minîn sesungguhnya aku menetapkan untuk mendengar dan taat kepada ‘Abdullâh ‘Abdul Malik di atas sunnah Allâh dan sunnah Rasûl-Nya pada apa yang aku mampui dan sungguh anak-anakku benar-benar telah menetapkan demikian pula.”
Pembai’atan dari ‘Abdullâh bin ‘Umar bersama keluarganya Radhiyallâhu ‘Anhum di sini pada kebaikan menurut Sunnah bukan pada hukum yang bertentangan dengan Sunnah.
Dan ini sesuai dengan yang dicontohkan oleh Salaf kita Nabiuttaubah ‘Alaihish Shalâtu was Salâm tatkala para wanita Mu’minah datang membai’at beliau, mereka membai’at pada kebaikan sesuai Tauhîd dan Sunnah, bukan pada hukum yang berseberangan dengan Tauhîd dan Sunnah, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:
يٰٓأَيُّهَا النَّبِىُّ إِذَا جَآءَكَ الْمُؤْمِنٰتُ يُبَايِعْنَكَ عَلٰىٓ أَنْ لَّا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلٰدَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتٰنٍ يَفْتَرِينَهُۥ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِى مَعْرُوفٍ ۙ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Wahai Nabî, apabila wanita-wanita Mu’minah datang kepadamu untuk mengadakan bai’at, bahwa mereka tidak akan menyekutukan Allâh dengan sesuatu apapun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak mereka, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah bai’at mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allâh. Sungguh Allâh adalah Ghafûr (Maha Pengampun) lagi Rahîm (Maha Penyayang).” (Al-Mumtahanah: 12).
Pada pembai’atan pemimpin Muslim di saat jihâdpun harus di atas Tauhîd, hidup mati karena Allâh, ini yang namanya harga mati bagi Ahli Tauhîd.
Pembai’atan para Shahabat kepada Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam seperti itu, berkata Yazîd kepada Salamah:
عَلَى أَيِّ شَيْءٍ بَايَعْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ قَالَ عَلَى الْمَوْتِ
“Di atas perkara apa kalian membai’at Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam pada kejadian Hudaibiyyah?” Beliau menjawab: “Membai’at untuk siap mati.” Riwayat Al-Bukhârî.
Pembai’atan yang dilakukan oleh para Shahabat ini adalah murni sesuai Tauhîd, siap mati dalam keadaan mentauhîdkan Allâh, siap mati karena Allâh, siap berjihâd untuk menegakkan Tauhîd, bukan pada penyelisihan Tauhîd.
Kewajiban berbai’at seperti itulah yang diinginikan Syari’at, maka hendaklah takut orang yang mendakwahkan bai’at namun pada penyelisihan terhadap Tauhîd dan Sunnah.
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada hari Sabtu 28 Ramadhân 1433 di Binagriya Pekalongan.