BELAJARLAH DARI MANHAJ SALAF

Pertanyaan:
Bantahan-bantahan Hajuriyyin yang menyebutkan Ustadz murid durhaka karena menanggapi paham murji’ah mereka, ‘Abdul ‘Alim bilang nanti tidak berkah ilmu karena menanggapi masyayikh yang sama Syaikh Al-Hajuri. Abu Zakariya bilang: Ustadz tidak tahu bersyukur ke guru-guru, yang lain bilang: Ustadz murid durhaka, dan lain sebagainya.

Jawaban:
Wallahul Musta’an, katanya mereka paling berpegang teguh kepada manhaj Salaf. Lalu apa tanggapan mereka terhadap salah seorang Salaf kita yaitu shahabat yang mulia Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘Anhu yang telah membongkar penyimpangan guru pertamanya seorang uskup?!. Padahal penyimpangannya hanya pada maksiat yang tidak sampai membatalkan keimanan yaitu korupsi, berkata Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘Anhu:

فإذا جمعوا إليه شيئا منها اكتنزه لنفسه ولم يعطه المساكين

“Tatkala mereka selesai mengumpulkan sedekah kepadanya, diapun menabungnya untuk dirinya dan dia tidak memberikannya kepada para fakir miskin.”
Dia ini melakukan dosa besar bukan karena melakukan syirik, bukan pula karena membela pelaku syirik dan bukan pula karena menganggap dan mengakui ahli syirk sebagai saudara-saudaranya. Penyimpangannya hanya itu, namun Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘Anhu membongkar kebobrokannya, padahal dia telah memberi makan kepada Salman Al-Farisi setiap hari, dia telah memberi izin kepada beliau untuk tinggal di sisinya, karena beliau awal kedatangannya meminta izin, beliau berkata kepadanya:

إني قد رغبت في هذا الدين، وأحببت أن أكون معك، فأخدمك في كنيستك، وأتعلم من علمك، وأصلي معك

“Sungguh aku sangat suka dengan agama ini, aku senang untuk bersamamu supaya aku membantumu di gerejamu, supaya aku belajar agama kepadamu dan supaya aku shalat berjama’ah denganmu.”
Beliau sangat beradab dengan gurunya, membantunya dan ikut bersama dalam suka dan duka. Namun tatkala jelas penyimpangannya beliaupun mengambil sikap yang benar, beliau katakan:

فأبغضته بغضا شديدا لما رأيته يصنع

“Maka akupun marah kepadanya dengan kemarahan yang sangat saat aku melihat apa yang diperbuatnya.”
Beliaupun membongkar penyimpangannya, beliau peringatkan umatnya:

إن هذا كان رجل سوء يأمركم بالصدقة ويرغبكم فيها فإذا جمعوا إليه شيئا منها اكتنزه لنفسه ولم يعطه المساكين

“Sungguh dia ini adalah orang rusak, dia memerintahkan kalian untuk bersedekah dan memotivasi kalian untuk bersedekah, namun tatkala mereka selesai mengumpulkan sedekah kepadanya, diapun menabungnya untuk dirinya dan dia tidak memberikannya kepada para fakir miskin.”
Apakah mereka yang mentahdzir kita itu akan berani katakan kepada beliau sebagai murid durhaka?! Murid yang tidak tahu berterima kasih atau murid yang tidak bersyukur?!. Ataukah mereka akan menghujat dan mendoakan supaya tidak diberkahi ilmu Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘Anhu atau mendoakan dengan doa-doa kejelekan kepada beliau?!.
Itu kalau mereka mau melihat kepada manhaj Salaf, namun kalau mereka tidak mau melihat yang jauh maka boleh bagi mereka melihat kepada manhaj Asy-Syaikh Abu ‘Abdirrahman Yahya Al-Hajuri. Bukankah beliau pernah belajar kepada Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi bahkan beliau pernah menulis namanya dan mengakuinya sebagai gurunya pada biografi singkat yang pernah beliau tulis lalu beliau hapus setelah berselisih dengannya. Lalu masalah apa yang melatar belakangi sampai pada tahdziran beliau kepada gurunya itu?. Bukankah berawal dari pengingkaran terhadap penghizbiyyahan terhadap Asy-Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Adni dan pengusiran sebagian thullab dari Dammaj, lalu mulai ribut hingga perang lisan sampai saling bantah membantah?!. Perselisihan awalnya masalah tasjil yang bisa dibilang masalah furu’ lalu dibawa ke masalah seolah-olah ushul, yang mengingkari penghizbiyyahan hingga sampai mencela dipantaskan untuk dihukumi hizbi dengan berbagai alasan di antaranya karena mencela ahli atsar atau mencela ‘ulama, yang merasa bersama ‘ulama yakni bersama Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi dan bersama Asy-Syaikh Rabi’ Al-Madkhali juga menganggap pihak itu telah mencela ‘ulama sehingga masing-masing saling melemparkan vonis ahli bid’ah, masing-masing menerapkan perkataan Al-Imam Abu Hatim Ar-Razi Rahimahullah:

 علامة أهل البدع الوقيعة في أهل الأثر

“Ciri ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar.”
Masing-masing mereka mengklaim ahli atsar dan saling bertamayyuz antara satu kelompok dengan yang lainnya namun hakekatnya sama yaitu ‘adzirun.
Setelah dinyatakan sebagai ahli bid’ah dikibarkanlah menjadi masalah ushul, perkataan Al-Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah pun diberlakukan:

وكان السلف ينهون عن مجالسة أهل البدع والنظر في كتبهم والاستماع لكلامهم

“Dahulu para Salaf melarang dari bermajlis dengan ahli bid’ah, melihat ke kitab mereka dan mendengarkan perkataan mereka.”

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/9968