BERBUAT BAIK SELAMA TIDAK DIMUSUHI

Hargailah kebaikan seseorang selama dia tidak memusuhimu walaupun hanya dengan mendoakan hidayah, meskipun keadaan seseorang itu adalah mubtadi’, munafik atau musyik sekalipun, selama dia masih bisa berbuat baik kepadamu maka hargailah, karena sungguh kebaikan yang dia lakukan itu akan bermanfaat untuk dirinya atau untuk anak-anaknya. Pernah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghargai kebaikan seorang anak yahudi, beliau datang ke rumahnya di saat sakitnya, berkata Al-Bukhari:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ وَهْوَ ابْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ: أَسْلِمْ. فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهْوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَسْلَمَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهْوَ يَقُولُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ

“Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Zaid dari Tsabit dari Anas semoga Allah meridhainya, beliau berkata: Dahulu ada seorang anak remaja yahudi yang membantu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu sakit, maka beliau mendatanginya untuk menjenguknya. Kemudian beliau duduk di samping kepalanya lalu berkata kepadanya: “Masuk Islamlah”, diapun melihat ke ayahnya yang ada di sampingnya, maka ayahnya berkata kepadanya: “Taati Abul Qasim Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam”. Diapun masuk Islam, lalu Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam keluar sambil berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka.”
Kebaikan seorang anak yahudi kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini memberi manfaat kepadanya, Allah Subhanallahu wa Ta’ala menjadikannya husnul khatimah.
Jadi, tidak ada yang sia-sia dari berbuat baik kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kepada dakwahnya, kalau orang yang berbuat baik itu tidak mendapatkan manfaatnya maka anak-anaknya yang akan merasakan manfaatnya, sebagaimana yang telah dirasakan oleh keluarga Abu Thalib, lahir dari Abu Thalib anak-anak yang mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al-Imam Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullah telah menyebutkan di dalam “Sittatu Mawadhi’ Minassirah” di antara kebaikan Abu Thalib:

إقراره بالتوحيد، وحث الناس عليه، وتسفيه عقول المشركين، ومحبته لمن أسلم وخلع الشرك، ثم بذل عمره وماله وأولاده وعشيرته في نصرة رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى أن مات

“Mengakui tauhid, memotivasi orang-orang kepada tauhid, menganggap dungu akal orang-orang musyrik, kecintaannya kepada orang yang memeluk Islam dan melepaskan syirik. Kemudian menyumbangkan umurnya, hartanya, anak-anaknya, keluarganya untuk menolong Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hingga mati.”
Meskipun Abu Thalib mati di atas kesyirikan sebagaimana pernyataannya yang telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam “Shahih”nya:

آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ

“Akhir dari apa yang dia katakan kepada mereka adalah di atas agama ‘Abdul Muththalib.”
Namun kebaikannya bermanfaat untuk orang lain dan anak-anaknya menjadi orang-orang terdekat dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

(Muhammad Al-Khidhir).

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/8882