BERTAUBAT DARI TIDAK BERTAUBAT KARENA PERNAH MELAKUKAN KESYIRIKAN

Pertanyaan:
Kenapa seseorang yang mengaku sudah jadi bertauhid, tapi tidak mau terima penyebutan musyrik atau kafir pada orang berbuat syirik akbar, malah menganggapnya sama saja dengan dirinya masih seagama?.

Jawaban:
Barangkali dia perlu bertaubat terlebih dahulu dari tidak bertaubatnya terhadap perbuatan masa lalunya yang pernah melakukan kesyirikan dan menganggapnya itu tidak berpengaruh pada pengakuannya sebagai orang beragama Islam, karena sungguh para Salaf dahulu jika pernah melakukan kesyirikan maka mereka pada mengakui itulah kesyirikan yang mereka pernah melakukannya sebelum berpindah kepada Islam, di antara mereka adalah ‘Amr bin ‘Abasah As-Sulami Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata:

كُنْتُ وَأَنَا في الجَاهِلِيَّةِ أَظُنُّ أنَّ النَّاسَ علَى ضَلَالَةٍ، وَأنَّهُمْ لَيْسُوا علَى شيءٍ وَهُمْ يَعْبُدُونَ الأوْثَانَ

“Dahulu aku di dalam jahiliyyah, aku meyakini bahwa orang-orang di atas kesesatan, bahwasanya mereka tidak di atas agama Ibrahim, mereka beribadah kepada berhala-berhala.”
Demikian pula para Shahabat yang pernah hijrah ke Habasyah pada mengakui pula kalau mereka sebelumnya di atas jahiliyyah, berkata Ja’far bin Abi Thalib kepada Raja An-Najasyi Ashhama Radhiyallahu ‘Anhuma:

أيُّها الملِكُ كنَّا قومًا أَهْلَ جاهليَّةٍ نعبدُ الأصنامَ

“Wahai Raja, dahulu keberadaan kami sebagai kaum para penganut jahiliyyah, kami menyembah patung-patung.”
Dengan bertaubatnya mereka dan mengakui seperti itu, maka tidak heran di saat mereka melihat pelaku syirik yang nyata dan jelas melakukan kesyirikan, mereka pun menghukumi dan memvonisnya sebagai musyrik kafir, Abu Waqid Al-Laitsi Radhiyallahu ‘Anhu menyebutkan bahwa mereka di saat melihat orang beribadah kepada pohon yang dinamai dzatu anwath maka mereka langsung menghukumi dan menvonisnya sebagai musyrik kafir, beliau berkata:

أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ لمَّا خرَجَ إلى حنين، مَرَّ بشجرةٍ للمشركينَ يُقالُ لها ذاتُ أَنْواطٍ، يُعلِّقونَ عليها أسلحتَهم

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tatkala keluar ke Hunain, beliau melewati suatu pohon milik orang-orang musyrik, yang pohon tersebut dinamai dzatu anwath, mereka menggantungkan senjata-senjata mereka padanya.”

Mereka menamai orang-orang yang melakukan kesyirikan pada pohon tersebut sebagai musyrikin (orang-orang musyrik).
Dalam suatu lafazh:

وكان للكفَّارِ سدرةٌ يعكُفون عندها ويعلِّقون بها أسلحتَهم

“Dahulu orang-orang kafir mempunyai pohon yang mereka beribadah di sisinya dan mereka menggantungkan senjata-senjata pada pohon tersebut.”
Mereka menamai orang-orang yang beribadah dan menggantungkan senjata-senjata pada pohon tersebut sebagai kuffar (orang-orang kafir).
Demikianlah para Shahabat yang telah Allah beri ampunan kepada mereka, Allah jadikan mereka sebagai panutan kita dalam beragama, berkata Allah ‘Azza wa Jalla:

فَإِنۡ ءَامَنُوا۟ بِمِثۡلِ مَاۤ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهۡتَدَوا۟ۖ وَّإِن تَوَلَّوۡا۟ فَإِنَّمَا هُمۡ فِی شِقَاقࣲۖ فَسَیَكۡفِیكَهُمُ ٱللَّهُۚ وَهُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡعَلِیمُ

“Jika mereka beriman kepada apa yang kalian (wahai para Shahabat) telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk dan jika mereka berpaling maka sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kalian). Maka Allah akan memelihara kalian dari mereka. Dan Dialah As-Sami’ (Maha Mendengar) lagi Al-‘Alim (Maha Mengetahui).” [Surat Al-Baqarah: 137].

[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/12856
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1213