BUKTI IMAN
Pertanyaan:
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda:
جاءَ ناسٌ مِن أصحابِ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فسَألوه: إنَّا نَجِدُ في أنفُسِنا ما يَتَعاظَمُ أحَدُنا أن يَتَكَلَّمَ به، قال: وقد وجَدتُموه؟ قالوا: نَعَم، قال: ذاك صَريحُ الإيمانِ
“Datang beberapa orang dari sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu mereka bertanya: Sesungguhnya kami merasakan terbesit dalam diri kami beberapa pikiran yang kami merasa bahwa itu sangat fatal untuk diucapkan”. Nabi bertanya: “benar kalian mendapati itu?”. Mereka menjawab: “Iya”. Nabi berkata: “Itu bukti adanya iman kalian” (HR. Muslim no.132).
Ahsanallahu ilaik Ustadz, adakah penjelasan yang lebih tentang pikiran-pikiran yang fatal ini, karena kami masih belum terlalu paham misal tentang apa itu?.
Jazakumullahu khairan.
Jawaban:
Penjelasannya adalah:
نجد في أحاديث النفس أمورًا كبيرة يعظم علينا أن ننطق بها لقبحها ونفورنا عنها
“Kami mendapati dalam pikiran batin kami hal-hal yang terlalu serius untuk diungkapkan karena keburukannya dan kebencian padanya.”
Perkataan mereka:
في أنفُسِنا ما يَتَعاظَمُ أحَدُنا أن يَتَكَلَّمَ به
“Beberapa pikiran yang kami merasa bahwa itu sangat fatal untuk diucapkan”, yaitu:
بسببِ غايةِ قُبحِه وإنكارِنا له في الواقعِ، لكنَّه يَأتينا في خَواطِرَ، مِثلُ: مَن خَلَقَ اللهَ؟ وكيفَ هو؟ ومن أيِّ شيءٍ هو؟ وما أشبَهَ ذلك
“Karena keburukannya yang ekstrem dan pengingkaran kami terhadapnya sesuai kenyataan, akan tetapi hal itu mendatangi kami dalam pikiran-pikiran, seperti: Siapa yang menciptakan Allah? Bagaimana Dia? Dari sesuatu apa Dia? Dan yang semisal itu.
Itu yang membuat para Shahabat benar-benar merasa takut hingga mereka menganggap pikiran-pikiran yang terbesit di dalam diri itu adalah suatu dosa, mereka pun tanyakan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ternyata beliau balik bertanya:
وقد وجدْتُموهُ
“Benarkah kalian telah mendapati itu?.”
Yakni:
هل وَجَدتُم ما يُلقيه الشَّيطانُ في نُفوسِكُم، ثُمَّ دَفعَكُم إيمانُكُم عنِ السُّؤالِ عن حكمه
“Apakah kalian telah mengalami apa yang ditanamkan syaithan ke dalam diri kalian, kemudian iman kalian mencegah kalian dari bertanya tentang hukumnya.”
Setelah mereka menjawab: Iya, beliau pun katakan:
ذاكَ صَريحُ الإيمانِ
“Itulah bukti iman kalian.”
Yaitu:
إنَّ إنكارَكُم لتلكَ الأفكارِ السَّيِّئةِ العَظيمةِ التي يَتسبَّبُ فيها الشَّيطانُ، وعِلمَكم بفسادِ تِلك الوَساوسِ، وامتناعَ نُفوسِكم، وتَجافيَها عنِ التَّفوُّه بها دَليلٌ على صِدقِ الإيمانِ لدَيكم، ومَا فَعلتُموه هو الإيمانُ الحقيقيُّ
“Sungguh pengingkaran kalian terhadap pikiran-pikiran buruk lagi besar yang disebabkan oleh syaithan itu, dan pengetahuan kalian akan kerusakan bisikan-bisikan itu, serta penolakan kalian dan keengganan jiwa kalian untuk mengucapkannya adalah bukti kebenaran iman kalian dan apa yang kalian telah melakukannya itulah iman yang sejati.”
Dan yang lebih jelas lagi singkat apa yang diterangkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahmatullah ‘Alaina wa ‘Alaih:
وهذه الوسوسة هي مما يهجم على القلب بغير اختيار الإنسان فإذا كرهه العبد ونفاه كانت كراهته صريح الإيمان
“Bisikan ini yang termasuk dari sesuatu yang menyerang hati dengan tanpa kehendak seseorang, apabila seorang hamba membencinya dan menolaknya, maka kebenciannya itu adalah bukti imanya.”
[Abu Ahmad Al-Khidhir ‘Afallahu ‘Anhu pada 10 Dzulhijjah 1447 / 28 Mei 2026 di Bogor].
⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/14121
⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/2249