BUMI BERLAPIS TUJUH

Di dalam Al-Qur’ãn diterangkan:

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّ

“Allâh yang menciptakan tujuh langit dan pada penciptaan bumi juga semisal itu.” (Ath-Thalâq: 12).
Apa yang kita bayangkan saat dikatakan bumi berlapis tujuh, sebagaimana langit yang berlapis tujuh?

Jika selama ini yang kita percayai adalah bumi dengan bentuk bolanya, maka yang dibayangkan oleh kita kurang lebihnya, lapisan itu adalah masuk ke tengah bola pejal bumi sampai lapis terakhir yaitu inti bumi. Hal tersebut sebagaimana yang selama ini kita pelajari di buku-buku pelajaran sekolah, bahwa bumi terdiri dari lapisan-lapisan, antara lain: Mantel bumi (lapisan tempat kita tinggal), mantel atas, zona transisi, mantel bawah, lapisan D, dan inti dalam. Disebutkan bahwa perkiraan lapisan terdalam bumi (inti dalam) adalah sedalam 6.378 km jika diukur dari kerak bumi tempat kita berpijak.

Bagaimana dengan kedalaman ini jika ditinjau dari dalîl yang ada? Mari kita cek. Dalam dalîl disebutkan bahwa jarak antara bumi satu dengan bumi lainnya yaitu sejauh 500 tahun perjalanan unta. Ini sama seperti yang disebutkan terkait jarak antar langit. 500 tahun perjalanan unta ini jika dihitung dengan kecepatan unta berjalan biasa sejauh 13 km/jam, maka jika dikalikan dengan 500 tahun perjalanan, hasilnya di angka ±55.000.000 km, intinya jarak antar lapisan bumi sejauh puluhan juta kilometer.

Jadi, apakah sains yang mengatakan bahwa lapisan bumi paling dalam, yaitu lapisan ke tujuh itu sejauh 6.378 km, sejalan dengan apa yang disebut dalam dalîl? Sedangkan di dalam hadîts disebutkan 500 tahun perjalanan untuk jarak antara bumi satu dengan lapis bumi berikutnya. Dengan ini maka apa yang selama ini sains sebutkan, merupakan suatu kebohongan yang hendaknya kita singkirkan. Ini juga memperlihatkan bahwa sains bukan tolak ukur mutlak suatu kebenaran.

Di lain itu, jika kita menolak lapisan-lapisan bumi yang sains katakan, namun masih memegang pendapat bentuk bumi bola, apakah yang akan terbayangkan dalam pikiran kita mengenai lapisan bumi yang lain itu adalah planet-planet dengan berbagai ukurannya? Lalu bagaimana hal ini akan disinkronkan dengan hadîts orang yang mengambil sejengkal tanah milik orang lain akan dihimpit oleh 7 lapis bumi?
Berkata Nabî Shallallâhu Alaihi wa Sallam:

مَنْ أَخَذَ شَيْئًا مِنَ الأَرْضِ بِغَيْرِ حَقِّهِ خُسِفَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى سَبْعِ أَرَضِينَ

“Barangsiapa mengambil suatu tanah dari bumi yang bukan haknya maka dengan sebab itu dia akan dihimpit oleh tujuh lapis bumi pada hari kiamat.” Riwayat Al-Bukhârî.

Dimanakah letak neraka yang telah Allâh Ta’âlâ siapkan, dan Rasûlullâh Shallallâhu Alaihi wa Sallam kabarkan bahwa neraka ada di bawah bumi lapis ke tujuh? Berkata Nabî Shallallâhu Alaihi wa Sallam:

فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَه في سِجِّينٍ في الْأَرْضِ السُّفْلَى

“Berkata Allâh ‘Azza wa Jalla: Tuliskanlah oleh kalian catatan amal perbuatannya di dalam Sijjîn di bumi yang paling dangkal.” Riwayat Ahmad dan Ahlussunan.

Maka benarlah, jika sains dipaksakan sinkron dengan dalîl, kita akan menemui banyak kejanggalan. Berbeda jika dalîl itu yang dijadikan petunjuk dalam memahami alam semesta ciptaan Allâh Ta’âlâ, karena tak mungkin ada kejanggalan pada perkataan Allâh dan Rasûl-Nya.

Ditulis oleh:
Imra’ah Al-Khidhir di Cipancur Klapanunggal Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/5440