BUMI BERUPA HAMPARAN DAN KA’BAH ADALAH PUSATNYA
Pertanyaan:
‘Afwân Ustâdz, apakah benar bahwa Ustâdz berpendapat tenang bumi itu berupa hamparan bukan bulat?.
Jawaban:
Pendapat kami tentang bumi, bahwasanya bumi berupa hamparan bukan bulat. Bumi tidaklah bulat akan tetapi berupa hamparan, dan ini adalah pendapat yang benar, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:
ٱلَّذِی جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مَهۡدࣰا وَسَلَكَ لَكُمۡ فِیهَا سُبُلࣰا وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ مَاۤءࣰ
“Allâh yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian, dan menjadikan jalan-jalan di atasnya bagi kalian, dan yang menurunkan air hujan dari langit.” [Surat Thâhâ: 53].
Pada ayat ini sangat jelas menerangkan keadaan bumi berupa hamparan, dan air hujan turunnya dari awan, yang awan ini merupakan bagian dari langit dunia. Kalau bumi dianggap bulat maka dimanakah letak langit dunia? Apakah awan akan dikatakan bagian bumi? Tidak akan pernah didapati pada berbagai dalîl menyebutkan bahwa hujan turun dari tepi bumi atau dari bagian atas bumi. Jika manusia berpendapat bahwa hujan turun dari langit dunia maka apakah langit dunia bulat?
Kejadian isrâ dan mi’râj Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam sebagai penjelas bahwa bumi berupa hamparan, beliau dari Al-Harâm menuju Al-Aqshâ kemudian naik ke langit dunia, kemudian ke langit berikutnya. Ini menunjukkan bahwa keadaan bumi itu bukan bulat akan tetapi berupa hamparan, langit dunia berada di atasnya, kemudian langit berikutnya dan berikutnya. Semuanya berupa tingkatan bukan bulatan, Allâh ‘Azza wa Jalla telah menciptakan bumi semisal dengan langit pada tingkatan-tingkatannya, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:
ٱللَّهُ ٱلَّذِی خَلَقَ سَبۡعَ سَمَـٰوَ ٰتࣲ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ یَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَیۡنَهُنَّ
“Allâh yang menciptakan tujuh langit dan pada penciptaan bumi serupa dengan langit.” [Surat Ath-Thalâq: 12].
Rasûlullâh ‘Alaihish Shalâtu was Salâm pernah menyebutkan di dalam suatu doa:
اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظَلَّتْ وَرَبَّ الْأَرَضِينَ وَمَا أَقَلَّتْ
“Yâ Allâh, Rabb tujuh langit dan apa yang menaunginya, Rabb tujuh bumi dan apa yang ada di dalamnya.” Riwayat At-Tirmidzî.
Dalîl ini menetapkan bahwa bumi ada tujuh, yang bentuk dari masing-masingnya berupa hamparan. Dan bumi semisal dengan langit memiliki pusat, adapun pusat bumi adalah Ka’bah yang sejajar dengan Al-Bait Al-Ma’mûr sebagaimana yang diterangkan di dalam riwayat Ath-Thabarî dari Qatâdah secara mursal yang dinyatakan oleh Al-Albânî sebagai mursal lagi shahîh yang lafazhnya:
البيت المعمور مسجد في السماء بحذاء الكعبة
“Al-Baitul Ma’mûr adalah masjid di langit yang sejajar dengan Al-Ka’bah di bumi.”
Kesejajaran ini hanya berlaku pada teori yang menetapkan bahwa bumi berupa hamparan, adapun teori yang menetapkan bahwa bumi bulat adalah teori yang sesat menyesatkan, karena bertujuan untuk menjadikan matahari sebagai pusat, yang mereka inginkan bumi beserta isinya dan berbagai makhluk lainnya mengelilingi matahari. Padahal bumi sudah memiliki pusat, yang Allâh perintahkan penduduk bumi untuk mengelilingi pusat bumi di saat mereka sedang menunaikan haji atau umrah dan juga Allâh perintahkan setiap orang untuk shalat menghadap kepada pusat bumi:
فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَامِ، وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ
“Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjid Harâm. Dan di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu.” [Surat Al-Baqarah: 144 ].
Adapun orang-orang musyrik dari para penyembah matahari yang menetapkan teori bahwa bumi bulat maka sungguh mereka menginginkan untuk mengagungkan matahari dan mengupayakan agar bumi dan penduduknya mengelilingi matahari, mereka tidak akan pernah senang bila umat manusia mengelilingi Ka’bah dan mereka tidak pernah pula ridhâ bila Ka’bah di Makkah adalah pusat bumi.
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada hari Senin tanggal 28 Ramadhân 1442 / 10 Mei 2021 di Tenggilis Mustika Jaya Bekasi.