CARA YAHUDI DAN NASHARA MELAKUKAN PENJAJAHAN
Belanda memiliki luas wilayah kurang lebih separuh dari pulau Jawa, namun dapat menguasai Nusantara yang cukup luas. Mereka dengan mudah menguasai dan mengendalikannya dengan sistem yang dikemas dari undang-undang buatan Jengsh khan yang kemudian mereka namai dengan WvS (Wetboek van Strafrecht). Belanda menerapkan WvS dengan penyesuaian terhadap kondisi dan misi Belanda, mereka masuk ke Nusantara tidak langsung menyerang dengan kekuatan militer, dan tidak pula dengan dakwah untuk mengkristenisasikan pribumi. Namun mereka masuk melalui perusahaan yang bernama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dengan tujuan dagang hingga berhasil memonopoli aktivitas perdagangan di Nusantara. Kebanyakan pribumi saat itu tidak merasa dijajah, karena VOC memberi pelayanan luar biasa, pada abad ke-16 VOC menggunakan kapal dagangnya untuk membawa jama’ah haji ke Tanah Suci. Tidak hanya itu, bahkan kerajaan-kerajaan yang Islami diberi jaminan untuk menerapkan syari’at Islam tapi tidak pada syar’iat jihad, setiap ada kerajaan yang Islami dicurigai akan mengobarkan jihad untuk melakukan perlawanan dan pengusiran terhadap VOC maka mereka akan memperalat kerajaan Islami lainnya yang tunduk pada undang-undang WvS untuk memeranginya atau membantu VOC memeranginya, VOC menggunakan sistem yang dikenal dengan Devide et Impera. Saat muncul Al-Ghuraba’ yang lebih dikenal dengan kaum Padri yang dipelopori oleh Harimau Nan Salapan di Bonjol, VOC merasa takut karena nantinya akan menjadi salah satu sebab pemutus ikatan antara VOC dengan kerajaan-kerajaan yang Islami di Sumatera khususnya dan di Nusantara pada umumnya. Cara mengatasinya, VOC melegalkan berbagai kemungkaran seperti bermabuk-mabuk dan judi yang di antara bentuknya adalah sabung ayam, kaum Adat terang-terangan melakukan berbagai kemungkaran itu. Melihat kemungkaran yang begitu cepat tumbuh subur dan menyebar luas, kaum Padri pun bergerak menegakkan amar ma’ruf nahi munkar (menyeru kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran) hingga diisukan gerakan kaum Padri dengan nama gerakan Wahhabiyyah. Kaum Adat menolak keras gerakan kaum Padri karena menyerukan kepada pemurnian akidah dan penegakan syari’at Islam secara menyeluruh, hingga terjadilah peperangan antara kaum Adat dan kaum Padri. Jangan mengira VOC tidak tahu, justru VOC menjadi penonton, VOC tidak langsung turun gunung untuk menolong kaum Adat, tapi menunggu dimintai bantu, karena mereka memiliki misi, nanti kalau meminta bantuan VOC maka VOC akan membantu dengan syarat-syarat di antaranya separuh tanah Minangkabau jadi hak milik VOC. Benar saat kaum Adat kalah, larinya mereka ke VOC, kesempatan emas bagi VOC, hingga terjalinlah ikatan antara kaum Adat dan VOC, keduanya pun beramai-ramai menyerang kaum Padri. Pada kenyataannya VOC berpasukan militer mendominasi dari pribumi, yang jelas pimpinannya adalah asli Belanda, yang kebanyakan pasukannya dari pribumi, di antaranya pasukan dari Timur yang dipimpin oleh Arung Palaka, hingga mereka bersama-sama menyerang kaum Padri yang saat itu pimpinan kaum Padri adalah As-Sayyid Muhammad Syahab bin Bayanuddin yang lebih dikenal dengan Tuanku Imam Bonjol Rahimahullah. Rela Arung Palaka bersama pasukannya dari Timur untuk membatalkan keislaman mereka karena kekuasaan, mereka rela ikut membantai kaum Padri karena mengharapkan jaminan kekuasaan dan keamanan di kerajaan Bone Sulawesi. Dan itulah di antara pembatal keislaman sesuai dengan yang disebutkan oleh para ‘Ulama kaum Muslimin:
مظاهَرة المشرِكين وَمعاوَنتهم على المُسلمينَ
“Mendukung orang-orang musyrik dan menolong mereka dalam memerangi orang-orang Muslim.”
‘Ulama kaum Muslimin menetapkan demikian dengan dalil perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala:
لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلۡیَهُودَ وَٱلنَّصَـٰرَىٰۤ أَوۡلِیَاۤءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِیَاۤءُ بَعۡضࣲۚ وَمَن یَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡ
“Jangan kalian menjadikan yahudi dan nashara sebagai para wali (pemimpin dan penguasa), sebagian mereka menjadi pelindung terhadap sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian menjadikan mereka sebagai wali (pemimpin) maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka.” [Surat Al-Ma’idah: 51].
VOC memanfaatkan Arung Palaka dan pasukannya untuk menyerang Pariyaman yang menjadi wilayah kaum Padri, mereka pun bersama-sama menyerang kaum Padri hingga takluklah wilayah-wilayah kaum Padri dan berakhirlah seruan jihad kaum Padri dan perjuangan dalam memurnikan akidah dan penerapan syari’at Islam secara menyeluruh, semoga Allah merahmati kaum Padri dengan rahmat-Nya yang luas dan semoga Allah menerima mereka sebagai para syuhada’.
Dari sejarah tersebut menerangkan ke kita bahwa VOC hanyalah segelintir dari orang-orang Belanda, namun mampu mengikat mayoritas pribumi dengan undang-undang mereka, padahal negara asalnya berada di belahan dunia yang nan jauh di sana tapi bisa menundukkan dan mengikat Nusantara yang luas. Dari sini, sudah bisakah umat Islam membandingan antara VOC dengan Zionis Yahudi?!.
Zionis Yahudi didatangkan ke negeri yang telah ditaklukkan oleh Amirul Mu’minin ‘Umar Al-Faruq Radhiyallahu ‘Anhu, Zionis Yahudi datang hanya sebagai para pengungsi yang lebih hina daripada pedagang yang bernama VOC, tapi Zionis Yahudi memiliki sistem terselubung yang dengannya dapat menjadikan dunia berhasil mengikat berbagai negara-negara yang Islami di sekitar tanah pengungsian Zionis Yahudi, sungguh benar apa yang diberitakan oleh Nabi Akhir Zaman Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana yang dikatakan oleh Tsauban Radhiyallahu ‘Anhu:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ. فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
“Berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Hampir-hampir berbagai bangsa saling mengajak untuk memerangi kalian, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka.” Seorang Muslim bertanya: “Apakah karena sedikitnya kita ketika itu?”. Beliau menjawab: “Tidak, bahkan ketika itu kalian banyak, tetapi kalian buih, seperti buih di lautan. Dan sungguh Allah benar-benar akan menghilangkan rasa gentar dari dada musuh-musuh kalian. Dan Allah akan menimpakan wahn (ketidakberdayaan) di dalam hati kalian”. Seorang Muslim bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau menjawab: “Kecintaan kepada dunia dan rasa takut terhadap kematian.”
[Muhammad Al-Khidhir Ayyadahullah].