DENGAN DALÎL DAN BURHÂN KITA MENGKÂFIRKAN

Pertanyaan :
Wahai Ustâdz semoga Allâh melimpahkan kebaikan Anda. Apa yang Anda katakan terhadap Syaikhmu Abû Bilâl seorang pakar Nahwu yang berkata: “Kita memiliki berbagai kaidah yang akan kita jalani di atasnya, harus (dalam mengkâfirkan) memenuhi syarat-syarat dan menghilangkan pencegah-pencegah, bahwasanya tidak setiap orang terjatuh ke dalam kesirikan maka dia adalah musyrik dan tidak setiap orang yang terjatuh ke dalam kekâfiran maka dia kâfir….Di Kerajaan Saudi Arabia tidak seorang pun diberi udzur di negeri mereka, tauhîd ada di setiap tempat, jangan kalian menyamaratakan Kerajaan Saudi Arabia dengan Sûdân… Sampai pada akhirnya.

Jawaban:
Segala puji bagi Allâh, kita memiliki berbagai dalîl yang kita berpegang teguh dengannya dan kita memiliki berbagai bukti kebenaran yang kita berjalan di atasnya, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam: “Kecuali apabila kalian melihat kekâfiran yang nyata, kalian memiliki bukti kebenaran dari Allâh tentang kekâfirannya.” Riwayat Muslim.
Berkata Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb semoga Allâh merahmatinya: “Sungguh syaithân telah menggelincirkan kebanyakan manusia tentang masalah pengkâfiran ini, sebagian kelompok meremehkan masalah ini hingga mereka menghukumi dengan keislaman atas orang yang telah ditunjukkan oleh teks-teks Al-Qur’ãn dan As-Sunnah serta Ijmâ’ atas kekafirannya. Sekelompok yang lain berlebihan pada masalah pengkafiran ini hingga mereka mengkâfirkan orang yang telah dihukumi oleh Al-Qur’ãn dan As-Sunnah beserta Ijmâ’ bahwa dia adalah Muslim.”

Ketahuilah semoga Allâh merahmatimu, sungguh Zaid bin ‘Amr bin Nufail dahulu mengkâfirkan orang yang berbuat syirik kepada Allâh dengan syirik besar, dahulu beliau berdiri dalam keadaan menyandarkan punggungnya ke Ka’bah, beliau berkata: “Wahai segenap Quraisy, demi Allâh, tidak ada seorangpun dari kalian di atas agama Ibrâhîm selainku.” Riwayat Al-Bukhârî.
Dan pada riwayat Al-Bukhârî pula dari Sâlim bin ‘Abdillâh dari ‘Abdullâh bin ‘Umar semoga Allâh meridhai keduanya, bahwa Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam pernah menjumpai Zaid bin ‘Amr bin Nufail di Asfal Baldah, sebelum Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam menerima wahyu. Lalu dihadapkan kepada Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam hidangan makan, beliau enggan untuk memakan darinya. Kemudian berkata Zaid: “Sungguh aku tidak akan makan dari apa saja yang kalian sembelih untuk berhala-berhala kalian, aku tidak akan memakan kecuali sembelihan yang kalian menyebut nama Allâh padanya. Sungguh Zaid bin ‘Amr mencela orang-orang Quraisy karena sesembelihan mereka, beliau berkata: “Kambing telah diciptakan oleh Allâh, Dia menurunkan air dari langit untuk kambing, dengan air hujan Dia menumbuhkan rerumputan untuk kambing kemudian kalian menyembelihnya dengan menyebut selain nama Allâh. Beliau benar-benar mengingkari mereka sebagai bentuk pengagungan kepada-Nya.

Inilah Zaid semoga Allâh meridhainya, sungguh Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam telah memuji beliau, beliau berkata tentangnya: “Beliau dibangkitkan dalam keadaan seorang diri.” Riwayat Ad-Dâruquthnî.
Keberadaannya sebagai hujjah (gugatan) atas orang-orang ummî (yang tidak bisa baca tulis dari kalangan Quraisy), dengan sebab itu, mereka tidak diberi udzur karena kebodohan, dalam keadaan mereka pada zaman jâhiliyyah (zaman kebodohan). Berkata Al-Imâm Ibnu Bâzz semoga Allâh merahmatinya: “Lalu bagaimana dengan seseorang yang keberadaannya di tengah-tengah kaum Muslimîn, di tengah-tengah Ahli Tauhîd, di tengah-tengah berbagai orang yang membaca Al-Qur’ãn, dia mendengarkan hadits-hadîts Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam?! Maka dia lebih patut untuk dikatakan sesuai hakekatnya: “Sungguh dia adalah kâfir, baginya hukum sebagaimana orang-orang kâfir.” Demikian yang telah beliau katakan.

Para penyembah kuburan yang ada di Khurthûm, di Hijâz, di Hadramaut atau yang ada di Cirebon, semua mereka sama.

Allâh telah mengkâfirkan mereka semua hingga mereka beribadah hanya kepada Allâh saja, berkata Allâh Ta’âlâ: “Barangsiapa menyeru bersama Allâh sesembahan yang lain, yang tentu dia tidak memiliki bukti kebenaran padanya maka sungguh perhitungannya di sisi Rabbnya, sungguh tidak akan beruntung orang-orang kâfir itu.”
Berkata Al-Imâm Ibnu Bâzz semoga rahmat Allâh untuk kita dan untuk beliau: “Allâh menamai mereka sebagai orang-orang kâfir, dalam keadaan mereka tidak menyembah sesembahan yang lain itu karena dapat memberi manfaat atau bisa mendatangkan bahaya. Hanya saja mereka menyembah sesembahan yang lain itu karena sungguh mereka menyangka akan mendekatkan mereka kepada Allâh dengan sedekat-dekatnya, akan memberi syafa’at kepada mereka di sisi-Nya, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ: “Siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang menyembah selain Alláh, (sembahan) yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat, dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), sesembahan itu menjadi musuh mereka, dan mengingkari pemujaan-pemujaan yang mereka lakukan kepadanya.”

Dijawab dari jawaban:
Muhammad Al-Khidhir.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7283