DOA TIDAK MERUBAH TAKDIR HANYALAH MEMILIKI KETERKAITAN DENGANNYA

Pertanyaan:
Dalil-dalil dan hadits tentang do’a dan takdir, bahwasannya do’a dapat menghapus takdir, apakah shahih?.

Jawaban:
Hadits tentang masalah do’a dapat menghapus takdir ada perbincangan pada sanadnya, hanya saja memiliki syawahid. Dan datang dalam suatu riwayat dengan lafazh:

لا يزيد في العمر إلا البر، ولا يرد القدر إلا الدعاء

“Tidak akan bertambah pada umur kecuali kebaikan dan tidak akan menolak takdir kecuali do’a”.
Dan Al-Imam Ibnu Bazz mengatakan tentangnya:

والحديث لا بأس به

“Hadits tersebut tidak masalah padanya.”
Namun beliau juga katakan bahwa:

الدعاء من القدر، والمكتوب لا يتغير

“Do’a termasuk dari takdir dan catatan takdir tidak akan berubah.”
Ini menunjukan bahwa do’a berkaitan dengan takdir, jika Allah menakdirkan rizki kepada seseorang maka Dia akan memberikan taufik kepadanya untuk berdo’a di waktu mustajabah, maka sesudah itu dia akan mendapatkan rizki yang telah Allah takdirkan untuknya. Dan inilah yang disebut sebagai takdir mu’allaq, yaitu takdir yang berkaitan dengan sebab, Al-Imam Ibnu Bazz katakan:

فالقدر قدران: قدر محتوم لا حيلة فيه، وقدر معلق، فيكون بعض القدر معلقًا بالدعاء

“Takdir ada dua, yaitu takdir yang mesti terjadi, yang tidak ada solusinya dan takdir yang berkaitan dengan sebab, yang keberadaan dari sebagian takdir itu berkaitan dengan do’a.”
Allah Ta’ala telah menakdirkan keselamatan bagi Dzun Nun Yunus ‘Alaihish Shalatu was Salam di dalam perut ikan, dikarenakan beliau termasuk dari orang-orang yang bertasbih dan berdoa kepada Allah, dijadikan sebab yang dilakukannya itu berkaitan dengan takdir keselamatannya. Demikian pula Ayah kita Adam ‘Alaihish Shalatu was Salam, Allah telah menakdirkannya sebagai khalifah di muka bumi, Allah tidak langsung menurunkannya di muka bumi, namun Allah takdirkan baginya berbagai sebab, di antaranya mendekati pohon khuldi lalu memakannya, beliaupun terjatuh pada kesalahan, hingga dikeluarkan dari Surga, kemudian beliau berdo’a dan memohon ampun kepada Allah, beliaupun diampuni lalu ditetapkanlah sebagai khalifah di muka bumi dengan waktu yang telah Allah tentukan baginya:

وَلَكُمۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرࣱّ وَمَتَـٰعٌ إِلَىٰ حِینࣲ

“Dan bagi kalian di muka bumi tempat menetap dan memperoleh kesenangan hingga waktu yang telah ditentukan.” [Surat Al-A’raf: 24].
Allah Ta’ala telah menakdirkan baginya sebagai khalifah di muka bumi, untuk meraih kedudukan ini dan untuk mendapatkan kesenangan sementara di dunia sesuai yang ditakdirkannya maka Allah menjadikan do’a memiliki keterkaitan dengan takdirnya. Oleh karena itu, di saat Musa ‘Alaihish Shalatu was Salam menyalahkan beliau dengan mengatakan kepadanya:

أنْتَ الذي أخْرَجْتَ النَّاسَ مِنَ الجَنَّةِ بذَنْبِكَ وأَشْقَيْتَهُمْ

“Engkau yang telah mengeluarkan manusia dari Surga dengan sebab dosanya dan engkau membuat mereka sengsara.”
Maka beliau membantahnya dengan mengatakan:

أتَلُومُنِي علَى أمْرٍ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيَّ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَنِي أوْ قَدَّرَهُ عَلَيَّ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَنِي

“Apakah engkau akan mencelaku karena suatu perkara yang Allah telah menetapkannya atasku sebelum Dia menciptakanmu atau yang telah Dia menakdirkannya kepada sebelum Dia menciptakanku?!.”
Dalam suatu riwayat dengan lafazh:

أَفَتَلُومُنِي عَلَى أَنْ عَمِلْتُ عَمَلًا كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيَّ أَنْ أَعْمَلَهُ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي بِأَرْبَعِينَ سَنَةً

“Apakah engkau akan mencelaku atas apa yang aku kerjakan dari suatu perbuatan yang Allah telah menetapkannya atasku untuk aku melakukannya sebelum Dia menciptakanku empat puluh tahun.”

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada hari Ahad, 27 Shafar 1446 / 1 September 2024 di Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/10366