DUA FITNAH AKHIR ZAMAN

Dua dosa besar yang Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam sangat keras memperingatkan umat dari keduanya, yaitu: Menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah dan membuat gambar makhluk bernyawa.
Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam di saat sakit berat menjelang wafatnya, beliau masih menyempatkan memperingatkan dari dua dosa besar ini. Berkata Al-Bukhârî Rahimahullâh:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ هِشَامٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ فِيهَا تَصَاوِيرُ، فَذَكَرَتَا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutsannâ, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahyâ, dari Hisyâm, dari ayahnya, dari ‘Âisyah, bahwa Ummu Habîbah dan Ummu Salamah menyebut suatu gereja yang mereka melihatnya di Habasyah, terdapat padanya gambar-gambar makhluk bernyawa. Lalu keduanya menyebutkan kepada Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam maka Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sungguh mereka itu, jika ada pada mereka seseorang yang shâlih lalu dia mati maka mereka membangunkan tempat ibadah di atas kuburannya dan mereka membuatkan padanya gambar-gambar makhluk bernyawa itu. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allâh pada hari kiamat.”

Para penggemar gambar makhluk bernyawa mungkin saja akan menta’wîl hadîts ini, bisa saja mereka akan katakan ini adalah gambar yang dibikin dengan tangan, dibuat dengan pena atau berbentuk lukisan dan ukiran. Namun apa yang akan mereka katakan bila mereka melihat gereja dan tempat-tempat dakwah pada zaman ini, yang dipajangkan dan dibuatkan gambar-gambar makhluk bernyawa dengan menggunakan alat teknologi modern, betapa banyak gereja telah dibuatkan gambar makhluk bernyawa dari hasil prinan dan cetakan. Apakah mereka akan mendukungnya atau membelanya?.
Ingat ingat, suatu saat akan datang kelompok yang Allâh lindungi dari Neraka yang mereka akan melakukan berbagai penaklukkan terhadap berbagai negeri dan mereka akan menghancurkan kuburan yang dijadikan tempat ibadah dan mereka akan merusak semua gambar-gambar makhluk bernyawa itu. Apakah para penggemar dan pendakwah gambar makhluk bernyawa modern itu akan melakukan perlawanan kepada mereka?!. Mereka bersama Al-Mahdî Muhammad bin ‘Abdillâh dan Al-Masîh ‘Îsâ bin Maryam ‘Alaihimush Shalâtu was Salâm akan melanjutkan dakwah Nabî Akhir Zamân Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam yang pernah dijalankan oleh Amîrul Mu’minîn ‘Alî bin Abî Thâlib Radhiyallâhu ‘Anhu. Telah meriwayatkan Muslim di dalam “Shahîh”nya dari jalur periwayatan Habîb bin Abî Tsâbit dari Abû Wâil, dari Abul Hayyâj Al-Asadî, beliau berkata:

قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ أَلاَّ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ

“Berkata kepadaku ‘Alî bin Abî Thâlib: Aku akan mengutusmu pada suatu peperangan sebagaimana Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam mengutusku padanya: “Janganlah kamu biarkan patung kecuali kamu menghancurkannya dan jangan pula kamu biarkan kuburan yang ditinggikan kecuali kamu meratakannya.”

Timtsâl di sini dapat dimaknakan dengan dua makna, yaitu patung dan juga dapat dimaknakan gambar makhluk bernyawa. Para penggemar makhluk bernyawa mungkin akan lebih memilih pada satu makna yaitu patung, namun perlu diketahui bahwa Muslim meriwayatkan pula dari jalur periwayatan Habîb bin Abî Tsâbit dengan lafazh:

وَلاَ صُورَةً إِلاَّ طَمَسْتَهَا

“Tidak pula suatu gambar makhluk bernyawa kecuali kamu menghapusnya.”

Sungguh fitnah gambar makhluk bernyawa ini telah memperdaya kelompok yang mengaku-ngaku sebagai para penolong Tauhîd atau para mujâhidîn, mereka dengan bangga melakukan pameran terhadap gerakan jihad mereka, seakan-akan para aktor dan biasa selfi dengan menfoto atau memvidio diri-diri mereka sendiri, di saat belajar, berdakwah ataupun di saat mereka melakukan pergerakan. Yâ Allâh selamatkanlah kami dan siapa saja yang bersama kami dari fitnah gambar makhluk bernyawa dan jauhkanlah kami dari segala perkara yang menjerumuskan ke dalam kesyrikikan dan kekufuran.

Disadur dari khutbah Jum’at Muhammad Al-Khidhir pada hari Jum’at 28 Muharram 1444 / 26 Agustus 2022 di Pondok Pesantren Majaalis Al-Khidhir Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/6704