HUKUM BERMADZHAB

Pertanyaan:
Apakah wâjib bermadzhab?

Jawaban:
Tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk bermazhab, hanyalah kewajiban baginya adalah mengikuti kebenaran, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:

ﺍﺗَّﺒِﻌُﻮﺍ ﻣَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻧِﻪِ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀَ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ ﻣَﺎ ﺗَﺬَﻛَّﺮُﻭﻥَ

“Ikutilah oleh kalian terhadap apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti para wali dari selain-Nya. Sangat sedikitlah kalian mengambil pelajaran.” (Al-A’râf: 3).
Berkata Allâh Tabâraka wa Ta’âlâ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allâh dan taatilah Ar-Rasûl, serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah sesuatu itu kepada Allâh (Al-Qur’ãn) dan Ar-Rasûl (As-Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kiamat. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisâ’: 59].
Pada ayat tersebut Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ berikan bimbingan bahwa apabila ada suatu perselisihan maka yang menjadi kewajiban bagi seseorang adalah mengembalikannya kepada Al-Qur’ãn dan As-Sunnah, sama saja perselisihan itu antara para imâm madzhab atau antara para ulama. Dari perselisihan mereka yang menjadi kewajiban bagi setiap orang adalah mengikuti kebenaran, dari imâm madzhab mana pun dan dari ulamâ mana pun kalau kebenaran ada padanya maka wâjib diikuti kebenaran tersebut, berkata Allâh ‘Azza wa Jalla:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mereka mengikuti yang paling terbaiknya. Mereka itulah orang-orang yang Allâh telah beri petunjuk kepada mereka dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” [Az-Zumar: 18].
Berkata guru kami Asy-Syaikh Abû Usâmah ‘Âdil bin Muhammad As-Siyâghî Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih:

إِنَّ الْحَقَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنَّ مَا عَدَاهُمَا
مَأْخُوذٌ مِنْ قَولِهِ وَمَتْرُوكٌ

“Sesungguhnya kebenaran adalah milik Allâh dan Rasûl-Nya, dan sesungguhnya apa saja yang selain keduanya diterima dari perkataannya dan ditinggalkan.”

Penetapan adanya suatu kewajiban untuk bermadzhab adalah suatu kesalahan, yang telah jelas bertentangan dengan dalîl-dalîl dan juga akan menyeret kepada taklîd, sementara para imâm madzhab tidak meridhai siapa pun yang taklîd kepada mereka, berkata Al-Imâm Ahmad Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih:

لاَ تَقَلَّدْنِي وَلاَ تَقَلَّدْ مَالِكًا وَلاَ الشَّافِعِي وَلاَ اْلأَوْزَاعِي وَلاَ الثَّوْرِي وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوا

“Janganlah kamu taklîd kepadaku, jangan taklîd kepada Mâlik, jangan Asy-Syâfi’î, jangan Al-Auzâ’î dan jangan pula kamu taklîd kepada Ats-Tsaurî, akan tetapi ambillah darimana mereka ambil.”
Berkata Al-Imâm Abû Hanîfah dan muridnya Abû Yûsuf Rahimahullâh ‘Alaihi wa ‘Alaihimâ:

ﻻَ ﻳَﺤِﻞُّ ﻷَِﺣَﺪٍ ﺃَﻥْ ﻳَﻘُﻮْﻝَ ﺑِﻘَﻮْﻟِﻨَﺎ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣِﻦْ ﺃَﻳْﻦَ ﻗُﻠْﻨَﺎﻩُ

“Tidak boleh bagi seorang pun berkata dengan perkataan kami sampai dia mengetahui dari mana kami mengambilnya.”
Dan berkata Al-Imâm Mâlik Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih:

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﺑَﺸَﺮٌ ﺃُﺧْﻄِﻰﺀُ ﻭَﺃُﺻِﻴْﺐُ ﻓَﺎﻧْﻈُﺮُﻭﺍ ﻓِﻲ ﻗَﻮْﻟِﻲ ﻓَﻜُﻞُّ ﻣَﺎ ﻭَﺍﻓَﻖَ ﺍﻟﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔَ ﻓَﺨُﺬُﻭْﺍ ﺑِﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﻮَﺍﻓِﻖْ ﺍﻟﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔّ ﻓَﺎﺗْﺮُﻛُﻮْﻩُ

“Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa keliru dan bisa benar. Maka lihatlah oleh kalian kepada setiap perkataanku, jika perkataanku mencocoki Al-Qur’ãn dan As-Sunnah maka ambillah. Dan jika perkataanku tidak mencocoki Al-Qur’ãn dan As-Sunnah maka tinggalkanlah.”

ِ Berkata Al-Imâm Abû Hanîfah dan Al-Imâm Asy-Syâfi’î Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaihimâ:

ﺇِﺫَﺍ ﺻَﺢَّ ﺍﻟﺤَﺪِﻳْﺚُ ﻓَﻬُﻮَ ﻣَﺬْﻫَﺒِﻲ

“Jika telah shahîh hadîts maka itulah madzhabku.”Berkata Al-Imâm Asy-Syâfi’î Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih:

ﺇﺫَﺍ ﺻَﺢَّ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚُ ﻓَﺎﺿْﺮِﺑُﻮﺍ ﺑِﻘَﻮْﻟِﻲ ﺍﻟْﺤَﺎﺋِﻂَ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺖ ﺍﻟْﺤُﺠَّﺔَ ﻣَﻮْﺿُﻮﻋَﺔً ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖ ﻓَﻬِﻲَ ﻗَﻮْﻟِﻲ

“Jika telah shahîh hadîts maka pukulkanlah pendapatku ke tembok. Jika kamu melihat hujjah diletakkan di atas jalan maka itulah pendapatku.”Berkata Al-Imâm Ahmad Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih:

ﻣَﻦْ ﺭَﺩَّ ﺣَﺪِﻳْﺚَ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻬُﻮَ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻔَﺎ ﻫَﻠَﻜَﺔٍ

“Barangsiapa menolak hadîts dari Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam maka dia berada di atas jurang kebinasaan.”Dengan demikian yang menjadi kewajiban bagi setiap orang adalah mengikuti kebenaran, dari mana pun kebenaran itu datangnya, baik dari imâm madzhab yang empat atau dari selain mereka, berkata Al-Imâm Ibnu Bâzz Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih:

ﻓَﻼَ ﻳَﺠِﺐُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﻥْ ﻳُﻘَﻠِّﺪُﻭﺍ ﺃَﺣَﺪًﺍ، ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ: ﺇِﻧَّﻪُ ﻳَﺠِﺐُ ﺗَﻘْﻠِﻴﺪَ ﺍﻷَﺋِﻤَّﺔِ ﺍﻷَﺭْﺑَﻌَﺔِ ﻓَﻘَﺪْ ﻏَﻠَﻂَ، ﺇِﺫْ ﻻَ ﻳَﺠِﺐُ ﺗَﻘْﻠِﻴﺪَﻫُﻢُ، ﻭَﻟٰﻜِﻦْ ﻳُﺴْﺘَﻌَﺎﻥُ ﺑِﻜَﻼَﻣِﻬِﻢْ ﻭَﻛَﻼَﻡِ ﻏَﻴﺮِﻫِﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﺋِﻤَّﺔِ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻳَﻨْﻈُﺮُ ﻓِﻲ ﻛُﺘُﺒِﻬِﻢْ ﺭَﺣِﻤَﻬُﻢُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺫَﻛَﺮُﻭﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺩِﻟَّﺔٍ، ﻭَﻳَﺴْﺘَﻔِﻴﺪُ ﻣِﻦْ ﺫٰﻟِﻚَ ﻃَﺎﻟِﺐُ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﺍﻟْﻤُﻮَﻓّﻖِ

“Tidaklah wajib atas manusia untuk mereka taklîd kepada seseorang, dan barangsiapa berkata bahwasanya dia wâjib untuk taklîd kepada para imâm yang empat maka sungguh dia telah salah, karena tidaklah wâjib taklîd kepada mereka, akan tetapi dia melihat kepada perkataan mereka dan perkataan selain mereka dari kalangan Ahlul Ilmi, dia melihat kepada kitâb-kitâb mereka Rahimahumullâh dan kepada apa yang telah mereka sebutkan dari dalîl-dalîl. Dan penuntut ilmu yang mendapatkan taufîq mengambil faedah dari demikian itu.”

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada tanggal 13 Jumâdal Úlâ 1438 di Binagriya Pekalongan.

📒📒📒 https://t.me/majaalisalkhidhir/84