HUKUM BERTAWASSUL KEPADA ALLÂH DENGAN ORANG SHÂLIH YANG SUDAH MATI
Pertanyaan:
Apakah tawassul dengan Nabî dan orang-orang shâlih dalam berdoa kepada Allâh termasuk perkara ‘âqîdah yang dapat menjadi sebab keluarnya seseorang dari Islâm?.
Jawaban:
Perlu dilihat tentang keberadaan tawassul itu sendiri, kalau seseorang bertawassul kepada Allâh dengan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam di saat beliau masih hidup atau bertawassul kepada Allâh dengan orang-orang shâlih yang mereka masih hidup maka ini adalah boleh, disebutkan di dalam “Ash-Shahîh” dari Anas bin Mâlik, bahwasanya Amîrul Mu’minîn ‘Umar Ibnul Khaththâb bertawassul dengan ‘Abbâs bin ‘Abdil Muththalib ketika berdoa kepada Allâh Ta’âlâ:
اللهم إنا كنا نتوسل إليك بنبينا فتسقينا وإنا نتوسل إليك بعم نبينا فاسقنا
“Yâ Allâh sesungguhnya kami dahulu bertawassul kepada-Mu dengan nabi-Mu lalu Engkau menurunkan hujan kepada kami, dan sesungguhkan kami akan bertawassul dengan pamannya Nabî kami maka turunkanlah hujan untuk kami.”
Dan juga yang termasuk dari kebolehan bagi seseorang bertawassul adalah dia bertawassul kepada Allâh dengan amalan shâlih yang pernah dia lakukan, ini sebagaimana disebutkan di dalam suatu hadîts shahîh tentang kisah tiga orang shâlih yang terpenjara di dalam gua, ketika ketiganya masuk di dalam gua tiba-tiba jatuh sebuah batu menutupi pintu gua, merekapun bertawassul kepada Allâh dengan amalan shâlih yang pernah mereka lakukan maka Allâh-pun membukakan pintu gua.
Demikianlah permasalahan tawassul yang benar, yang sifatnya khusus, namun kemudian orang-orang menyimpang membawa makna tawassul ini kepada yang lebih umum, sehingga merekapun menyamakan antara tawassul dengan istighâtsah, dengan demikian banyak dari mereka terjatuh dalam kerusakan ‘aqîdah.
Berkata Asy-Syaikh ‘Abdul Lathîf Ãlu Syaikh semoga Allâh merahmati kita dan merahmati beliau:
ﺇﻥ ﻟﻔﻆ ﺍﻟﺘﻮﺳﻞ ﺻﺎﺭ ﻣﺸﺘﺮﻛﺎً، ﻓﻌﺒّﺎﺩ ﺍﻟﻘﺒﻮﺭ ﻳﻄﻠﻘﻮﻥ ﺍﻟﺘﻮﺳﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺳﺘﻐﺎﺛﺔ ﺑﻐﻴﺮ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﺩﻋﺎﺋﻪ ﺭﻏﺒﺎً ﻭﺭﻫﺒﺎً ﻭﺍﻟﺬﺑﺢ ﻭﺍﻟﻨﺬﺭ ﻭﺍﻟﺘﻌﻈﻴﻢ ﺑﻤﺎ ﻟﻢ ﻳُﺸﺮﻉ ﻓﻲ ﺣﻖِّ ﻣﺨﻠﻮﻕ
“Sungguh lafazh tawassul ini menjadi berserikat (umum), para penyembah kuburan memutlakkan tawassul pada meminta pertolongan kepada selain Allâh, berdoa kepadanya dalam keadaan berharap dan takut, menyembelih dan bernazar serta pengagungan terhadap apa yang tidak disyari’atkan pada haknya makhluk.”
Demikianlah keberadaan para penyembah kuburan yang memiliki kesamaan dengan orang-orang shûfî, berkata guru kami Asy-Syaikh Abû Usâmah ‘Âdil bin Muhammad As-Siyâghî semoga Allâh merahmati kami dan merahmati beliau tentang keberadaan orang-orang shûfî:
قد توسعوا في التوسل حتى هلكوا
“Sungguh mereka telah memperluas dalam bertawassul hingga mereka binasa.”
Berkata Asy-Syaikh ‘Abdul Lathîf Ãlu Syaikh semoga Alláh merahmati kita dan merahmati beliau:
وأهل ﺍﻟﻌﻠﻢِ ﻳﻄﻠﻘﻮﻧﻪُ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺘﺎﺑﻌﺔ ﻭﺍﻷﺧﺬِ ﺑﺎﻟﺴﻨﺔِ ﻓﻴﺘﻮﺳﻠﻮﻥ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻤﺎ ﺷﺮﻋﻪ ﻟﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ، ﻭﺑﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﺑﻪ ﻋﺒﺪﻩُ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺘﻮﺳﻞ ﻓﻲ ﻋﺮﻑِ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥِ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ
“Ahlul ‘ilmi memutlakkan tawassul kepada mutâba’ah (pengikutan) dan berpegang kepada As-Sunnah, mereka bertawassul kepada Allâh dengan apa-apa yang telah Dia syari’atkan kepada mereka dari ibadah-ibadah dan dengan apa yang telah datang dengannya hamba-Nya dan utusan-Nya Shallallâhu ‘Alaihi wa ‘âla Alihi wa Sallam, dan inilah tawassul sesuai dengan defenisi Al-Qur’ãn dan As-Sunnah.”
Apa yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh ‘Abdul Lathîf Ãlu Syaikh tersebut sama seperti yang dijelaskan oleh ‘Allâmatul ‘Irâq Al-Ãlûsî semoga Allâh merahmati kita dan merahmati keduanya.
Adapun perkataan para ‘ulamâ yang menyebutkan tentang pembolehan tawassul maka pembolehan di sini dilihat pada penempatannya, berkata ‘ulamâ:
ﺇﻥ ﺍﻟﺘﻮﺳﻞَ ﻓﻴﻪِ ﺇﺟﻤﺎﻝ ﻭﺍﺷﺘﺮﺍﻙ ﺑﺤﺴﺐ ﺍﻻﺻﻄﻼﺡ
“Sesungguhnya tawassul ada padanya cakupan dan keikutsertaan, disesuaikan dengan istilah.”
Untuk lebih memperjelas maka kami akan bawakan penjelasan ‘ulamâ:
معناه ﻓﻲ ﻟﻐﺔِ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔِ ﻭﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺃﻭ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﺃﻭ ﺍﻟﺘﻮﺟﻴﻪ ﺑﺪﻋﺎﺋﻪ
“Makna tawassul sesuai bahasa para Shahabat dan para Tâbi’în adalah meminta doa dari Nabî atau doa orang shâlih atau pengarahan dengan doanya.”
Tentu ini di saat mereka masih hidup, sebagaimana telah lewat keterangannya.
Makna inilah yang disebut dengan tawassul, yang telah dianggap boleh oleh para ‘ulamâ, Wallâhu A’lam.
Adapun makna tawassul sesuai bahasa para penentang maka dia adalah:
ﺃﻥ ﻳﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺑﺬﺍﺕ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﺨﻠﻮﻕ، ﻭﻳﻘﺴﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﻪ، ﺃﻭ ﻳﺴﺄﻝ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﺨﻠﻮﻕ ﻧﻔﺴﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﻨﻰ ﺃﻧﻪُ ﻭﺳﻴﻠﺔ ﻣﻦ ﻭﺳﺎﺋﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺘﻘﺮﺏ ﺑﺬﺍﺗﻪِ ﻭﻳﺴﺄﻝ ﻋﻦ ﺷﻔﺎﻋﺘﻪ”
“Memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan zat suatu makhluk tersebut, bersumpah kepada Allah Ta’ala dengannya atau meminta kepada diri makhluk tersebut dengan memaknai bahwasanya dia adalah perantara dari perantara-perantara kepada Allah, yang dia mendekatkan diri dengan zatnya sendiri dan meminta dari syafa’atnya.”
Makna tawassul inilah yang dianggap para ulama tidak boleh, orang yang melakukan tawassul dengan makna ini maka dia telah terjatuh ke dalam kerusakan aqidah yang mengeluarkannya dari keislaman.
Dengan demikian jelaslah bahwa tawassul termasuk dari perkara ‘aqîdah.
Dan perlu diketahui bahwa di sana ada dari para ‘ulamâ berbeda pendapat tentang masalah tawassul, yang menjadi perbedaan pendapat di antara mereka adalah permasalahan: Apakah bertawassul kepada Allâh itu khusus dengan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam ataukah boleh dengan orang-orang shâlih? Dengan ketentuan ketika mereka masih hidup, ini yang menjadi perbedaan pendapat di kalangan mereka, perbedaan tentang masalah inilah yang dikatakan sebagai masalah ijtihâdiyyah, dan pendapat yang benar adalah boleh bertawassul kepada Allâh dengan orang-orang shâlih selama mereka masih hidup, dengan dalîl perbuatan ‘Umar Ibnul Khaththâb Radhiyallâhu ‘Anhu, kalaulah tidak boleh maka tentu akan diingkari oleh para shahabat yang lainnya.
Dijawab oleh:
Abû Ahmad Muhammad Al-Khidhir pada 20 Jumadil Ula 1438 di Sampang Cilacap.